***
Hidup yang bahagia itu seperti apa? Memiliki banyak harta? Tubuh yang mempesona? Keluarga yang bahagia? Dasar-dasar apa yang menjadi penentu jika seseorang itu bahagia? Apakah validasi dari orang lain menjadi penentu kebahagiaan?
"Hei, Tikva Nadir! Kamu melamun lagi? Kerjaan kamu sudah beres?"
Tikva menoleh saat mendengar namanya dipanggil. Wanita berusia 23 tahun itu menghela napas. Hijab hitam yang dikenakan bergerak mengikuti tubuh. Mata coklat yang cerah miliknya bertemu pandang dengan mata hitam wanita yang berdiri di dekatnya.
"Ya, ya. Sudah selesai tadi." Tikva menjawab seadanya sambil menutup halaman web yang terbuka di komputernya. "Apa yang kamu lakukan di sini, Amita?"
Amita Seka, sahabat dekat Tikva itu menatap lekat. Bertahun-tahun waktu yang dihabiskan bersama cukup untuk membuatnya sadar jika ada sesuatu yang mengganggu pikiran sahabatnya itu. Saat suasana di sekitar ruangan mereka semakin sepi, Amita mengambil salah satu kursi di dekat meja Tikva dan duduk dengan anggun. "Aku dengar dari mas Kiro katanya laporan kamu ada yang salah. Tumben sekali."
Tikva menoleh dan bergumam pelan. "Aku hanya manusia biasa, Amita. Wajar jika aku salah, kenapa malah mempermasalahkan hal yang sederhana itu?"
Amita menatap lekat wajah Tikva, tidak terganggu dengan raut wajahnya yang berubah kesal. Wanita itu kembali melirik sekitar, memastikan tidak ada siapa pun di sekitar dan kembali mendekat ke arah Tikva.
"Apa ada masalah lagi dengan keluargamu? Siapa lagi yang membuat ulah hingga mengganggu pikiranmu seperti ini?"
Gerakan tangan Tikva yang hendak memasukkan barang ke dalam tas terhenti. Kepalanya menoleh ke arah Amita yang menunggu jawaban. Percuma berdalih, Amita sendiri sudah mengenalnya bahkan melebihi dirinya sendiri. Tikva mengalihkan pandangan, mulutnya terasa berat untuk bersuara. Kepalanya penuh dengan suara-suara batin yang bergejolak. Hingga akhirnya suaranya keluar, pelan dan bergetar. Berbisik pelan pada keheningan sekitar.
"Aku hanya rindu dengan keadaan saat semuanya masih bahagia. Masih ada suaranya yang memanggilku dengan tenang, lembut dan penuh kasih sayang. Rasanya dunia hanya milik kami yang saling menjalin kasih sayang. Bagaimana caranya melepas rindu saat tidak ada apa pun darinya yang bisa kupeluk, Amita?"
Amita hanya diam, membiarkan Tikva melepas keluh kesah. Hidup tak selalu berjalan sesuai keinginan dan Amita telah melihat sebagian besar perjalanan penuh luka Tikva. Kehilangan yang dialaminya, konflik yang mewarnai hari-harinya. Amita melirik ke arah pintu saat mendengar suara langkah kaki, bertemu pandang dengan sahabatnya yang lain, Syna Jyana yang langsung memahami situasi.