Aris mengerjapkan mata berkali-kali, mencoba mengusir rasa perih yang menusuk retinanya. Cahaya putih yang menyilaukan merembas dari segala penjuru ruangan, seolah-olah dinding beton rumah mereka telah berubah menjadi lampu neon raksasa yang tak punya sakelar pemadam. Tidak ada bayangan benda di lantai, bahkan kaki meja makan pun tampak melayang dalam kekosongan yang terang benderang.
Tangannya meraba permukaan meja kayu, mencari tekstur yang akrab, namun semuanya terasa hambar dan asing di bawah pendaran cahaya yang tidak memiliki sumber ini. Aris melirik jam dinding di atas televisi; jarum detiknya masih berdetak dengan suara mekanis yang monoton, namun angka-angkanya seolah mengejek karena waktu terasa membeku di titik yang sama sejak mereka terbangun tadi.
Istrinya, Rina, berdiri kaku di ambang pintu dapur sambil terus meremas ujung daster katunnya, sebuah kebiasaan lama yang selalu muncul setiap kali kecemasan mulai menggerogoti kewarasannya. Bibirnya bergerak tanpa suara, seakan sedang merapalkan doa atau mungkin sekadar mencoba memastikan bahwa indra perasanya masih berfungsi di tengah keheningan yang menyesakkan telinga ini.
Anak-anak mereka hanya duduk bersila di atas karpet bulu, wajah mereka pucat pasi tertimpa cahaya yang menghapus garis-garis kedalaman pada fitur wajah manusia. Tidak ada warna biru langit di balik jendela, tidak ada hijau pepohonan yang biasanya menyapa di pagi hari, hanya ada hamparan kabut putih yang luas dan tak berujung, menelan seluruh peradaban yang pernah mereka kenal.
Aris melangkah menuju pintu depan dengan tungkai yang terasa berat, lalu perlahan memutar gerendel besi yang terasa dingin di telapak tangannya. Saat daun pintu terbuka, ia tidak menemukan jalan raya atau rumah tetangga, melainkan sebuah dimensi kosong yang menelan semua perspektif visual, membuat dunia di luar sana tampak seperti kanvas kosong yang belum sempat dilukis oleh Pencipta.
Ia segera menutup pintu itu kembali, napasnya memburu saat menyadari bahwa rumah mereka bukan lagi tempat berlindung, melainkan sebuah kotak yang mengapung di tengah ketiadaan. Aris memaksakan diri untuk tetap tenang, meskipun di dalam kepalanya, suara-suara peringatan mulai berteriak bahwa kenyataan yang mereka huni telah robek dan mengganti aturan mainnya secara sepihak.
Pandangannya kemudian tertuju pada secarik kertas putih yang tertempel di pintu kulkas, sebuah benda yang sebelumnya tidak pernah ada di sana. Dengan jari yang gemetar, ia mendekat untuk membaca tulisan tangan yang rapi namun dingin, menyadari bahwa keselamatan keluarganya kini bergantung pada serangkaian instruksi gila yang tertulis di atas permukaan kertas yang tidak memiliki bayangan tersebut.
Aris menggosok matanya yang perih, menatap jam dinding kayu yang jarum detiknya terus berdetak namun angka-angkanya seolah terpaku mati di posisi dua belas. Sinar matahari di luar jendela terlalu terang, sebuah putih pekat yang tidak alami dan terasa menusuk hingga ke belakang bola mata. Ia merasa sudah terbangun selama belasan jam tanpa kantuk yang wajar, namun fajar tak kunjung berganti menjadi siang yang lazim. Kopi hitam di mejanya sudah mendingin hingga membentuk lapisan minyak tipis, namun cahaya di luar sana tetap sama, statis, membeku, dan tanpa bayangan pohon sedikit pun.
Tangannya gemetar saat ia meraih gagang pintu depan, sebuah tindakan impulsif untuk memastikan bahwa dunia luar masih memiliki aspal dan debu yang ia kenal. Namun, saat daun pintu terbuka, Aris hanya menemukan hamparan kabut putih yang tak berujung, sebuah dimensi kosong yang menelan segala perspektif jarak dan waktu.
Tidak ada suara burung, tidak ada deru mesin kendaraan, hanya kesunyian yang berdenging di telinga, memaksa jantungnya berdegup kencang melawan kehampaan. Ia segera membanting pintu itu hingga tertutup rapat, mengunci gerendelnya seolah-olah sesuatu yang tak terlihat sedang mencoba merayap masuk ke dalam rumah.
Di dapur, istrinya, Maria, berdiri mematung di depan pintu kulkas dengan wajah yang sepucat dinding porselen di belakangnya. Jemarinya yang ramping terus-menerus memutar cincin kawinnya, sebuah kebiasaan saraf yang selalu muncul setiap kali ia merasa terpojok oleh situasi yang tak masuk akal. "Aris, lihat ini," bisiknya dengan suara serak yang hampir pecah, menunjuk ke selembar kertas kuning kusam yang tertempel di pintu pendingin itu. Kertas itu tidak ada di sana saat mereka sarapan tadi, namun kini ia memuat instruksi yang ditulis dengan tinta hitam pekat yang tampak masih basah.
1. Jangan pernah mematikan lampu di ruangan yang sedang ditempati.
Aturan pertama itu tampak sederhana namun mengerikan, menyiratkan bahwa kegelapan bukan lagi sekadar ketiadaan cahaya, melainkan sebuah ancaman fisik yang nyata. Aris membaca baris itu berulang kali, mencoba mencari logika di balik perintah yang terasa seperti peringatan bagi narapidana di penjara asing.
Di bawah cahaya lampu neon yang berkedip-kedip, ia menyadari bahwa bayangan kakinya di lantai keramik terlihat jauh lebih gelap dan lebih padat daripada biasanya. Ada semacam berat yang tidak wajar pada siluet hitam itu, seolah-olah ia memiliki massa dan kehendak sendiri yang sedang mengamati setiap gerak-geriknya.
2. Jika kau melihat bayanganmu sendiri bergerak tidak sesuai dengan gerakanmu,segera tutup matamu dan hitung sampai sepuluh.
Aris merasakan hawa dingin merambat naik ke tengkuknya saat ia tanpa sengaja melirik ke arah bayangannya di dinding ruang makan yang putih bersih. Ketika ia mengangkat tangan kanannya untuk menyeka keringat di dahi, bayangan itu justru tetap diam dengan tangan yang terjuntai kaku di samping tubuh. Jantungnya seolah berhenti berdetak sesaat, sebuah sensasi horor murni yang membuat lututnya lemas seketika. Ia segera memejamkan mata rapat-rapat, meremas pinggiran meja makan hingga buku jarinya memutih, dan mulai menghitung dalam hati dengan ritme yang kacau balau.
3. Abaikan suara ketukan dari bawah lantai. Kita tidak punya ruang bawah tanah.
Tepat saat ia mencapai hitungan kedelapan, sebuah bunyi dentuman keras bergema dari bawah ubin tempatnya berdiri, seolah ada sesuatu yang besar sedang mencoba mendobrak keluar. Ketukan itu berirama, tiga kali pukulan berat yang diikuti oleh gesekan kuku yang tajam pada material beton di bawah sana.
Maria menjerit kecil dan menutup telinganya dengan kedua telapak tangan, sementara anak-anak mereka mulai menangis di lantai atas karena ketakutan yang sama. Aris tahu ia harus tetap tenang, namun bagaimana mungkin seseorang bisa mengabaikan suara yang begitu nyata dari tempat yang secara fisik tidak seharusnya ada?
4. Pukul 03.00 (menurut jam kulkas), semua orang harus berkumpul di ruang tengahdan saling berpegangan tangan tanpa bicara.
Instruksi terakhir ini menuntut kepatuhan mutlak yang terasa seperti sebuah ritual pengorbanan atau perlindungan kolektif terhadap sesuatu yang jauh lebih besar. Aris melirik jam digital kecil di pintu kulkas yang menunjukkan pukul 02.55, memberikan mereka waktu yang sangat sempit untuk bersiap menghadapi apa pun yang akan terjadi.
Ia menarik napas panjang, mencoba mengisi paru-parunya dengan udara yang terasa semakin berat dan berbau seperti ozon setelah badai petir. "Panggil anak-anak sekarang," perintahnya kepada Maria dengan nada otoriter yang dipaksakan untuk menutupi getaran di dalam suaranya sendiri.
Ketegangan memuncak ketika putra bungsunya, Rio, berlari menuruni tangga dengan wajah penuh air mata dan tanpa sengaja menyenggol saklar lampu di koridor bawah.
Ruangan itu tidak berubah menjadi gelap seperti biasanya, melainkan mendadak lenyap ke dalam kekosongan putih yang mengerikan, seolah-olah dinding dan lantainya dihapus oleh tangan raksasa.
Aris melihat dengan ngeri bagaimana ujung karpet di sana menghilang ke dalam hampa, menyisakan sebuah jurang cahaya yang tidak memiliki dasar sama sekali. Mereka menyadari bahwa di dimensi Mimpi Putih ini, apa pun yang tidak tersentuh oleh cahaya akan dianggap tidak ada oleh hukum alam yang baru.
Tiba-tiba, sesosok figur muncul dari arah dapur, seorang pria yang mengenakan pakaian yang persis sama dengan yang dipakai Aris saat itu. Langkah kakinya tidak mengeluarkan suara, dan wajahnya tampak seperti topeng lilin yang hampir sempurna menyerupai raut wajah Aris yang sedang kebingungan. Namun, ada satu hal yang salah, sesuatu yang membuat bulu kuduk Maria berdiri tegak hingga ia mundur beberapa langkah ke arah dinding. Sosok itu berdiri tepat di bawah lampu gantung yang terang benderang, namun tidak ada bayangan sedikit pun yang jatuh di lantai di bawah kakinya yang telanjang.
Sosok tanpa bayangan itu tersenyum, sebuah lengkungan bibir yang terlalu lebar dan tidak alami, memperlihatkan deretan gigi yang terlalu putih dan rata. "Kenapa kalian masih bertahan di dalam cahaya yang menyakitkan ini?" tanya sang Tamu dengan suara yang merupakan gema sempurna dari vokal Aris sendiri.
Ia mengulurkan tangan, mengajak mereka untuk melangkah ke arah koridor yang kini telah menjadi putih hampa, membujuk mereka untuk melepaskan beban aturan yang menyesakkan. Aris merasakan dorongan aneh untuk menyambut tangan itu, sebuah keinginan bawah sadar untuk menyerah pada kekosongan yang tampak begitu damai.
Namun, saat Aris hendak melangkah maju, ia merasakan tarikan kuat di pergelangan kakinya yang membuatnya tersungkur keras ke lantai yang dingin. Ia menoleh ke belakang dan melihat bayangannya sendiri telah terlepas sepenuhnya dari tumitnya, kini berdiri tegak di dinding dengan sikap yang mengancam.
Bayangan itu mulai mencekik bayangan Maria di dinding, sebuah serangan tanpa kontak fisik yang membuat Maria tersedak dan memegangi lehernya sendiri di dunia nyata. Aris menyadari bahwa bayangannya telah mengkhianatinya, mengambil alih eksistensi hitamnya untuk menghancurkan keluarga yang seharusnya ia lindungi di rumah ini.
Dalam keputusasaan yang memuncak, Aris melihat ke sekeliling ruangan dan menyadari bahwa satu-satunya cara untuk menghentikan kegilaan ini adalah dengan melakukan hal yang paling dilarang. Ia meraih sebuah vas bunga kristal yang berat dan melemparkannya ke arah lampu gantung utama dengan seluruh tenaga yang tersisa di lengannya.
Cahaya meledak dalam hujan kaca, diikuti oleh kegelapan total yang menyelimuti seluruh rumah saat ia mematikan sisa lampu lainnya secara paksa. Ia berharap bahwa dengan menciptakan kegelapan yang sempurna, ia bisa memicu kegagalan sistem dalam mimpi ini dan memaksa mereka semua untuk kembali ke realitas.
Dunia seakan berputar hebat, sebuah sensasi jatuh bebas yang membuat perutnya mual dan telinganya berdenging kencang hingga ia kehilangan kesadaran. Saat ia membuka mata kembali, ia merasakan tekstur seprai katun yang kasar di bawah jemarinya dan mencium aroma hujan yang akrab dari luar jendela kamar.
Suasana benar-benar gelap, sebuah kegelapan malam yang normal dan menenangkan, tanpa cahaya putih yang menghapus keberadaan benda-benda di sekitarnya. Aris menghela napas lega, air mata syukur mengalir di pipinya saat ia mendengar suara napas teratur Maria di sampingnya yang menandakan mereka telah pulang.
Maria terbangun karena mendengar isak tangis Aris dan segera menyalakan lampu senter kecil yang selalu ia simpan di laci meja samping tempat tidur untuk keadaan darurat. Ia mengarahkan cahayanya ke arah pintu kamar yang terbuka, di mana kedua anak mereka berdiri diam seolah baru saja terbangun dari mimpi buruk yang sama.
Namun, saat berkas cahaya itu mengenai kaki anak-anaknya, Maria melepaskan jeritan tertahan yang membelah kesunyian malam yang seharusnya damai. Di bawah kaki masing-masing anak, terdapat dua bayangan yang terhampar jelas di lantai; satu yang bergerak mengikuti gerak tubuh mereka, dan satu lagi yang hanya berdiri tegak diam membeku sambil menatap balik ke arah Maria.
Santi mengulurkan tangan kanannya yang gemetar ke arah gagang pintu kayu ek yang biasanya terasa dingin dan solid. Pagi itu, jam dinding di ruang tamu sudah menunjukkan pukul dua belas siang, namun suasana di dalam rumah terasa begitu statis dan menyesakkan. Ia berniat mengambil koran pagi yang biasanya tergeletak di teras, sebuah rutinitas sederhana yang kini terasa seperti misi yang sangat mustahil untuk dilakukan.
Begitu daun pintu terbuka sedikit saja, udara yang menyembur masuk bukanlah aroma aspal basah atau wangi rumput tetangga yang baru dipotong. Sebaliknya, sebuah cahaya putih yang sangat tajam dan steril menghantam wajahnya, membuat matanya perih seketika. Tidak ada jalan raya, tidak ada rumah keluarga Pak RT di seberang jalan, bahkan langit pun telah lenyap digantikan oleh hamparan kabut putih tanpa batas yang tak berujung.
Santi tertegun saat menyadari bahwa tiang listrik yang biasanya berdiri kokoh di sudut jalan kini telah hilang ditelan oleh kekosongan yang menyilaukan tersebut. Dunia di luar sana seolah-olah telah dihapus oleh tangan raksasa, menyisakan ruang hampa yang tidak memiliki sumber cahaya namun tetap benderang. Ia merasa seolah-olah rumah mereka sedang mengapung di tengah-tengah mimpi buruk yang paling sunyi dan paling asing.
Dengan gerakan cepat yang didorong oleh rasa takut yang murni, Santi menarik kembali tangannya dan membanting pintu itu hingga tertutup rapat. Ia memutar kunci dua kali hingga terdengar bunyi klik yang melegakan, seolah-olah kayu tipis itu sanggup melindunginya dari dimensi yang tidak masuk akal di luar sana. Napasnya memburu saat ia bersandar pada pintu, menyadari sepenuhnya bahwa mereka tidak lagi berada di atas permukaan Bumi yang mereka kenal.
Di sudut matanya, ia melihat Aris berdiri di ujung lorong dengan wajah pucat pasi sambil memegangi sebuah kertas kecil yang baru saja ia lepaskan dari pintu kulkas. Kertas itu berisi instruksi aneh yang ditulis dengan tinta hitam yang masih tampak basah, seolah-olah baru saja diletakkan di sana oleh sesuatu yang tidak terlihat. Santi mendekat dengan langkah berat, merasakan firasat buruk yang mulai merayap di sepanjang tulang punggungnya saat membaca baris pertama aturan tersebut.
Aturan itu dengan tegas memperingatkan mereka untuk tidak pernah membiarkan satu pun ruangan menjadi gelap, karena kegelapan adalah pintu bagi hal-hal yang tidak diundang. Santi menatap bayangannya sendiri di lantai yang tampak sedikit lebih panjang dan lebih gelap daripada biasanya, seolah-olah bayangan itu memiliki keinginan sendiri untuk bergerak. Ketegangan domestik di dalam rumah yang terjepit di antara cahaya abadi ini baru saja dimulai dengan sebuah ancaman yang tak kasatmata.