Aris berdiri mematung di depan pintu kulkas yang permukaannya terasa sedingin es meski lampu dapur menyala dengan intensitas yang menyakitkan mata. Jemarinya yang gemetar mulai meraba secarik kertas kusam yang mendadak muncul di sana, tertempel kuat oleh magnet berbentuk apel yang kini tampak seperti mata merah yang mengawasi. Tidak ada lagi suara bising dari jalan raya di luar sana, hanya keheningan putih yang menyesakkan dada, seolah-olah dunia telah dihapus dan digantikan oleh kanvas kosong yang tak berujung.
Kertas itu berisi tulisan tangan dengan tinta hitam pekat yang tampak masih basah, menggoreskan instruksi-instruksi yang menentang logika sehat manusia normal. Aris berulang kali membetulkan letak kacamata yang melorot, sebuah kebiasaan lama saat ia merasa terpojok oleh situasi yang tidak bisa ia kendalikan dengan logika tekniknya. "Ini pasti lelucon, tapi kenapa jam di pergelangan tanganku berhenti berdetak tepat saat kita melihat kabut itu?" bisiknya dengan suara serak yang hampir tak terdengar oleh dirinya sendiri.
1. Jangan pernah mematikan lampu di ruangan yang sedang ditempati.
Aturan pertama ini terasa seperti sebuah ancaman yang tersembunyi di balik kalimat sederhana, memaksa mereka untuk terus terpapar cahaya yang membuat pupil mata mengecil hingga titik terkecil. Di dimensi Mimpi Putih ini, kegelapan bukan lagi sekadar ketiadaan cahaya, melainkan sebuah penghapus realitas yang siap menelan apa pun yang berani bersembunyi di balik bayang-bayang. Aris menatap lampu langit-langit dengan ngeri, menyadari bahwa setiap bohlam yang ada sekarang adalah garis pertahanan terakhir bagi eksistensi fisik keluarganya agar tidak terhapus dari keberadaan.
2. Jika kau melihat bayanganmu sendiri bergerak tidak sesuai dengan gerakanmu,segera tutup matamu dan hitung sampai sepuluh.
Sambil membaca aturan kedua, Aris melirik ke arah lantai dan mendapati bayangannya sendiri tampak sedikit lebih panjang, seolah memiliki kehendak bebas untuk memanjang ke arah sudut ruangan yang kosong. Ada jeda sepersekian detik antara gerakannya menggaruk tengkuk dengan gerakan bayangannya yang melakukan hal serupa, sebuah anomali visual yang memicu detak jantungnya berpacu liar. Ia segera memalingkan wajah, menolak untuk mengakui bahwa bagian hitam di bawah kakinya itu mulai memiliki kepribadian yang berbeda dan mungkin, jauh lebih jahat.
3. Abaikan suara ketukan dari bawah lantai. Kita tidak punya ruang bawah tanah.
Tepat saat matanya menyelesaikan kalimat tersebut, sebuah dentuman tumpul bergema dari balik ubin keramik yang ia pijak, seolah ada sesuatu yang besar sedang mencoba mendobrak masuk dari kedalaman bumi. Aris mencengkeram pinggiran meja makan hingga buku-buku jarinya memutih, berusaha keras untuk tidak menunduk dan mencari tahu apa yang ada di sana sesuai perintah tertulis itu. Ia tahu bahwa rasa ingin tahu di tempat ini adalah undangan bagi bencana, dan suara ketukan itu hanyalah umpan untuk memastikan apakah mereka masih memiliki kewarasan yang tersisa.
4. Pukul 03.00 (menurut jam kulkas), semua orang harus berkumpul di ruang tengahdan saling berpegangan tangan tanpa bicara.
Ritual kolektif ini menjadi satu-satunya cara bagi mereka untuk tetap terhubung sebagai satu unit keluarga di tengah ruang hampa yang mencoba memecah belah persepsi mereka. Aris membayangkan istri dan anak-anaknya duduk melingkar, saling menggenggam tangan dengan telapak yang berkeringat dingin sementara cahaya putih di luar jendela terus menatap mereka tanpa henti. Kesunyian yang dipaksakan itu bukan sekadar aturan, melainkan perisai batin agar mereka tidak saling curiga ketika sosok-sosok tanpa bayangan mulai berbisik di telinga mereka masing-masing.
Daftar itu kini menjadi satu-satunya hukum yang berlaku, sebuah kompas di tengah samudra putih yang tidak mengenal arah utara maupun selatan. Aris tahu bahwa satu kesalahan kecil, satu tarikan saklar yang ceroboh, atau satu kedipan mata yang terlalu lama pada bayangan yang salah akan mengakhiri segalanya. Ia melipat kertas itu dengan gerakan metodis, menyimpannya di saku kemeja paling dalam, lalu berbalik untuk menghadapi keluarganya yang menunggu dengan wajah pucat di ambang pintu ruang makan yang kini terasa seperti penjara suci.
Aris berdiri mematung di depan pintu kulkas yang permukaannya terasa sedingin es, meski suhu di dalam rumah itu terasa gerah dan menyesakkan. Jari-jemarinya yang kasar terus memilin ujung kemejanya yang lembap oleh keringat dingin, sebuah kebiasaan yang selalu muncul setiap kali ia merasa terdesak oleh situasi yang tidak masuk akal. Di sana, tertempel secarik kertas kusam dengan tulisan tangan yang rapi namun memiliki tarikan garis yang tajam, seolah sang penulis sedang menahan amarah yang luar biasa saat menggoreskan pena tersebut.
Mata Aris terpaku pada judul besar di bagian atas kertas tersebut: Prosedur Menjaga Bayangan . Ia berdeham, mencoba mengusir rasa kering di tenggorokannya yang seakan tersumbat oleh debu imajiner. Suaranya terdengar serak dan pecah saat ia mulai membacakan baris demi baris instruksi yang tampak seperti lelucon buruk tersebut. "Ini tidak masuk akal," gumamnya pelan, namun ia tahu bahwa kenyataan di luar jendela yang hanya berisi kabut putih susu jauh lebih tidak masuk akal daripada kertas ini.
1. Jangan pernah mematikan lampu di ruangan yang sedang ditempati.
Aris membaca aturan pertama itu dengan dahi berkerut dalam, sementara tangannya secara refleks meraba sakelar lampu di dinding ruang makan yang sebenarnya sudah menyala terang benderang. Di dimensi Mimpi Putih ini, cahaya seolah datang dari segala arah tanpa sumber yang jelas, meniadakan sudut-sudut gelap yang biasanya menenangkan. Namun, aturan itu menegaskan bahwa cahaya buatan manusia adalah satu-satunya perlindungan mereka dari sesuatu yang tidak terlihat namun terasa sangat dekat di balik punggung mereka.
2. Jika kau melihat bayanganmu sendiri bergerak tidak sesuai dengan gerakanmu,segera tutup matamu dan hitung sampai sepuluh.
Istri Aris, Sarah, tiba-tiba menarik napas tajam saat mendengar poin kedua tersebut, wajahnya mendadak pucat pasi seputih dinding di belakangnya. Ia segera
menyembunyikan tangannya yang gemetar di balik punggung, seolah takut bayangannya akan menangkap kegelisahan itu dan mulai bertindak di luar kendali. Sarah selalu menjadi orang yang paling logis di keluarga ini, namun saat ini, logika hanyalah beban yang membuat kewarasannya perlahan-lahan mulai terkikis oleh ketakutan yang tidak berwujud.
3. Abaikan suara ketukan dari bawah lantai. Kita tidak punya ruang bawah tanah.
Tepat saat Aris menyelesaikan kalimat itu, sebuah bunyi duk-duk-duk yang ritmis terdengar dari balik ubin keramik yang mereka injak, membuat kedua anak mereka melompat ke atas kursi dengan wajah ketakutan. Suara itu terdengar berat dan padat, seolah-olah ada sesuatu yang besar sedang mencoba mencari jalan keluar dari kegelapan yang seharusnya tidak ada di bawah sana. Aris mengeraskan rahangnya, memaksa kakinya untuk tetap berpijak kokoh meski lututnya terasa lemas seperti jeli yang akan segera runtuh.
4. Pukul 03.00 (menurut jam kulkas), semua orang harus berkumpul di ruang tengahdan saling berpegangan tangan tanpa bicara.
Aris melirik jam digital di pintu kulkas yang angkanya berkedip merah darah, menunjukkan waktu yang terus bergerak maju menuju jam keramat tersebut tanpa bisa dihentikan. "Kita harus melakukan ini," ucapnya dengan nada otoriter yang dipaksakan, sebuah bias keputusan yang selalu ia ambil untuk menutupi ketidakberdayaannya sendiri di hadapan krisis. Baginya, mengikuti aturan yang gila jauh lebih baik daripada harus menghadapi ketidakpastian yang menganga lebar di luar pintu rumah mereka yang kini terkunci rapat.
Tiba-tiba, lampu di kamar mandi di ujung lorong berkedip sekali sebelum akhirnya padam sepenuhnya, meninggalkan sebuah lubang hitam yang pekat di tengah-tengah rumah yang terang benderang itu. Ruangan itu tidak hanya menjadi gelap, tetapi seolah-olah telah terhapus dari peta realitas, menyisakan kekosongan yang menarik udara keluar dari paru-paru mereka. Aris menyadari bahwa putra bungsunya tidak lagi berdiri di sampingnya, dan pintu kamar mandi yang terbuka itu kini terlihat seperti mulut raksasa yang siap menelan siapa saja.
Tanpa berpikir panjang, Aris berlari menuju lorong, namun langkahnya terhenti ketika ia melihat bayangannya sendiri di dinding tidak ikut berlari bersamanya, melainkan tetap berdiri diam di posisi semula. Bayangan itu perlahan memutar kepalanya, menatap Aris dengan lubang hitam di tempat yang seharusnya menjadi mata, lalu mulai mengangkat tangannya untuk mencekik lehernya sendiri. Aris merasakan sesak yang luar biasa di tenggorokannya, seolah-olah ada tangan tak kasat mata yang sedang meremas jalur napasnya dengan kekuatan yang sangat dahsyat.
Ia mencoba mengikuti aturan nomor dua, menutup matanya rapat-rapat dan mulai menghitung dalam hati, namun suara ketukan dari bawah lantai berubah menjadi gedoran keras yang mengguncang seluruh rumah. "Satu... dua... tiga..." hitungnya dengan bibir gemetar, sementara ia bisa merasakan hawa dingin yang menusuk tulang mulai merayap naik dari ujung kakinya yang kini tak lagi memiliki bayangan. Ketika ia sampai pada hitungan kesepuluh dan membuka matanya, sosok yang menyerupai dirinya berdiri tepat di depannya tanpa memiliki bayangan sedikit pun.
Sosok itu tersenyum, sebuah lengkungan bibir yang terlalu lebar dan tidak alami, lalu berbisik dengan suara yang persis seperti suara hati Aris sendiri yang paling gelap. "Kenapa harus takut pada kegelapan, jika cahaya inilah yang sebenarnya akan menghapusmu perlahan-lahan?" tanya sosok itu sambil melangkah maju ke dalam lingkaran cahaya lampu ruang tengah. Aris mundur teratur, namun punggungnya membentur dinding, dan ia menyadari bahwa bayangannya kini telah sepenuhnya terlepas dan mulai berjalan bebas di langit-langit rumah.
Ketegangan memuncak ketika Sarah berteriak histeris, menunjuk ke arah cermin besar di ruang tamu yang kini tidak lagi memantulkan bayangan mereka, melainkan sebuah padang putih yang kosong. Mereka terjebak dalam paradoks mematikan di mana setiap aturan yang mereka ikuti hanya memperpanjang penderitaan, sementara melanggarnya berarti menghilang ke dalam ketiadaan yang abadi. Aris meraih tangan istri dan anak-anaknya, meremasnya begitu kuat hingga buku jarinya memutih, menyadari bahwa musuh terbesar mereka bukanlah entitas di luar sana, melainkan bayangan mereka sendiri.
Keputusan gila mulai terbentuk di kepala Aris, sebuah pengkhianatan terhadap semua prosedur yang baru saja ia bacakan demi sebuah kemungkinan kecil untuk terbangun dari mimpi buruk ini. Ia melepaskan pegangan tangannya, meraih sebuah vas bunga kristal yang berat, dan menatap lampu gantung di atas kepala mereka dengan pandangan yang penuh dengan keputusasaan yang liar. "Jika cahaya ini adalah penjara kita, maka biarlah kegelapan yang membebaskan kita!" serunya sambil mengayunkan vas itu ke arah sumber cahaya terakhir yang tersisa di ruangan tersebut.
Pecahan kaca menghujani mereka saat kegelapan total menyergap, namun alih-alih kedamaian, mereka justru mendengar suara tawa yang bergema dari setiap sudut ruangan yang kini tak lagi berbatas. Saat Aris terbangun di tempat tidur aslinya dengan napas terengah-engah, ia merasa lega melihat sinar bulan masuk melalui celah gorden, menandakan malam telah kembali. Namun, saat ia menyalakan lampu tidur, ia melihat bayangannya di dinding tidak hanya satu, melainkan tiga sosok hitam yang sedang merangkak mendekati tempat tidurnya dengan gerakan yang sangat pelan.
Santi mengusap permukaan kertas yang tertempel di pintu kulkas dengan ujung jari yang gemetar. Tulisan tangan di sana tampak terburu-buru, seolah sang penulis dikejar oleh sesuatu yang tidak kasat mata. Ia berdeham untuk membasahi tenggorokannya yang kering sebelum membacakan poin kedua dengan suara yang nyaris berbisik namun terdengar jelas di keheningan dapur yang mencekam.