Aris mengetukkan jemarinya dengan ritme cepat pada pinggiran meja makan, sebuah kebiasaan yang selalu muncul saat napasnya mulai terasa sesak oleh ketidakpastian. Cahaya putih yang menyilaukan dari luar jendela seolah menelan seluruh cakrawala, menghapus batas antara langit dan bumi hingga hanya menyisakan kekosongan yang murni. Di depannya, sebuah gelas kaca berdiri kaku, namun Aris enggan menyentuhnya karena takut getaran tangannya akan mengacaukan kesunyian yang rapuh ini.
"Jangan sampai ada yang meleset, sedikit pun jangan," bisik Aris dengan suara parau yang terdengar seperti gesekan amplas pada kayu tua. Matanya tertuju tajam pada daftar instruksi di pintu kulkas, di mana tinta hitamnya tampak berdenyut seolah memiliki nyawa sendiri di bawah benderang lampu yang tak pernah padam. Ia tahu betul bahwa di dimensi Mimpi Putih ini, logika manusia adalah barang rongsokan yang tidak lagi memiliki nilai tukar untuk keselamatan mereka.
Konsekuensi dari sebuah kecerobohan baru saja menampakkan wujudnya ketika putri bungsunya, Maya, secara tidak sengaja menyenggol saklar lampu di sudut koridor hingga terdengar bunyi klik yang mematikan. Seketika itu juga, bagian lantai yang tidak terkena cahaya langsung lenyap, bukan menjadi gelap, melainkan benar-benar terhapus dari eksistensi ruang. Maya menjerit saat melihat ujung sandalnya menghilang ke dalam lubang putih hampa yang kini menganga di tempat yang seharusnya merupakan lantai kayu jati yang kokoh.
Aris segera menyambar lengan Maya, menariknya menjauh dari tepi kehampaan yang terus merayap mengikuti bayangan yang memendek. Keringat dingin mengucur di pelipisnya, sementara jantungnya berdegup kencang melawan rasa ngeri yang mulai melumpuhkan akal sehatnya. "Hitung sampai sepuluh, Maya! Tutup matamu sekarang juga sebelum bayanganmu mulai berdiri sendiri!" perintah Aris dengan nada bicara yang melompat-lompat, menahan ledakan histeria yang nyaris pecah di tenggorokannya.
Di sudut ruangan, bayangan Aris sendiri mulai menunjukkan perilaku yang ganjil, jemari bayangan itu memanjang dan menekuk ke arah yang berlawanan dengan gerakan tangan aslinya. Ia bisa merasakan tarikan halus di permukaan kulitnya, seolah-olah bayangan itu sedang berusaha merobek diri dari pijakan kakinya untuk menjadi entitas yang mandiri. Ketegangan domestik ini bukan lagi soal perselisihan harian, melainkan perjuangan brutal melawan hukum alam yang telah terdistorsi secara radikal oleh kehendak mimpi.
Setiap detik yang berlalu tanpa malam membuat kewarasan mereka terkikis, memaksa Aris untuk mengambil keputusan yang selama ini ia hindari dengan segala cara. Ia melirik palu besar di gudang, menyadari bahwa mengikuti aturan di kulkas mungkin hanya cara untuk memperlama penderitaan mereka di dalam penjara cahaya ini. Jika cahaya adalah sumber dari segala kepatuhan yang mematikan ini, maka kegelapan total mungkin menjadi satu-satunya kunci untuk menghancurkan sistem dan memaksa mereka kembali ke dunia nyata.
Dengan tangan yang masih gemetar, Aris mengangkat palu itu tinggi-tinggi, menatap lampu utama di tengah ruangan yang bersinar dengan intensitas yang menyakitkan mata. Ia tahu bahwa menghancurkan sumber cahaya berarti melanggar aturan paling suci di rumah ini dan bisa mengakibatkan mereka semua terhapus selamanya dari kenyataan. Namun, saat ia melihat bayangannya mulai menyeringai ke arahnya dari dinding, Aris mengayunkan palu itu dengan sekuat tenaga ke arah bola lampu yang berpijar terang.
Aris memijat pangkal hidungnya yang berdenyut, sebuah ritual kecil yang selalu ia lakukan setiap kali rasa cemas mulai merayap naik ke tenggorokannya. Cahaya putih di luar jendela ruang tamu masih tetap sama, benderang tanpa bayang-bayang pohon atau tiang listrik, seolah-olah dunia baru saja dicelup ke dalam tinta cahaya yang abadi. Jam di dinding sudah berhenti berdetak sejak lama, namun jam di pintu kulkas terus menghitung mundur dengan ritme yang ganjil, mengingatkan mereka bahwa waktu di dimensi Mimpi Putih ini memiliki aturannya sendiri yang kejam.
Maya berjalan gontai melewati ruang tengah dengan mata yang memerah akibat kurang tidur, jemarinya terus memilin ujung bajunya dengan gelisah. Ia menuju kamar mandi tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, mengabaikan tatapan Aris yang penuh kekhawatiran karena ia tahu bicara hanya akan menguras energi mereka yang tersisa. Di dalam kepalanya, suara-suara dari bawah lantai mulai terdengar seperti bisikan parau yang memanggil namanya, namun ia mencoba fokus pada pantulan wajahnya yang tampak pucat di cermin tanpa adanya bayangan di belakang tubuhnya.
Selesai membasuh muka, Maya melangkah keluar dengan pikiran yang masih tertinggal pada mimpi buruk yang baru saja ia alami di sela kantuknya yang berat. Tanpa sadar, karena kebiasaan bertahun-tahun yang sudah mendarah daging, tangannya terulur ke arah saklar lampu di samping pintu untuk mematikannya saat ia melangkah keluar. Aris yang melihat gerakan itu dari kejauhan ingin berteriak melarang, namun suaranya tercekat di kerongkongan seolah-olah udara di sekitar mereka tiba-tiba membeku menjadi kristal es yang tajam.
Alih-alih mendengar suara klik logam yang tajam dan familiar, telinga Maya justru menangkap suara desis halus yang terdengar seperti udara yang keluar dari lubang balon yang sangat kecil. Ruangan di dalam kamar mandi itu tidak berubah menjadi gelap seperti biasanya, melainkan mulai memudar, warna dinding dan keramiknya perlahan-lahan luruh menjadi putih hampa yang kosong. Maya mematung dengan tangan yang masih menempel pada saklar, menyadari bahwa ia baru saja menghapus sebagian dari realitas mereka hanya dengan satu gerakan refleks yang fatal.
Aris segera melompat dari kursinya, namun langkahnya terhenti ketika ia melihat bayangan Maya di lantai mulai memanjang dan bergerak secara mandiri menuju kegelapan yang baru tercipta. Bayangan itu tidak lagi mengikuti gerak tubuh Maya, melainkan berdiri tegak dan menoleh ke arah Aris dengan senyum yang tidak dimiliki oleh istrinya yang asli. Saat Maya mencoba menarik tangannya, ia menyadari bahwa sebagian jemarinya sudah mulai transparan, menyatu dengan kekosongan putih yang kini mulai merayap keluar dari ambang pintu kamar mandi yang sudah tidak memiliki ruang lagi.
Aris melangkah ragu mendekati ambang pintu kamar mandi yang sedikit terbuka. Jemarinya yang gemetar berulang kali memutar-mutar cincin kawin di jari manisnya, sebuah kebiasaan yang muncul setiap kali jantungnya berdegup tidak keruan. Bau pembersih lantai yang tajam biasanya menyambut dari sana, namun kini yang tercium hanyalah aroma udara hampa yang dingin dan tidak berbau sama sekali.
Begitu pintu didorong sepenuhnya, Aris terhuyung ke belakang hingga punggungnya menabrak dinding koridor. Wastafel porselen, cermin yang biasa memantulkan wajah lelahnya, hingga ubin lantai bermotif bunga telah lenyap tanpa jejak. Ruangan itu kini bukan lagi bagian dari rumah mereka, melainkan sebuah kotak putih hampa yang luasnya terasa tak berujung, seolah-olah realitas di dalam sana baru saja dihapus oleh tangan raksasa yang tak terlihat.
Maya jatuh terduduk di lantai kayu sambil menutup wajahnya yang basah oleh air mata. Isak tangisnya terdengar menyayat hati, penuh dengan penyesalan yang mendalam karena tangannya baru saja menyentuh saklar lampu yang terlarang itu. "Aku tidak sengaja, Aris! Aku bersumpah tanganku hanya terpeleset saat mencari pegangan!" teriaknya dengan suara parau yang bergetar hebat di tengah kesunyian rumah yang mencekam.
Ketegangan semakin memuncak saat Aris menyadari bahwa kegelapan sesaat tadi telah menelan fungsi ruang tersebut secara permanen. Ia menatap ke arah pintu kulkas, di mana instruksi misterius itu seolah menertawakan kecerobohan mereka dari balik kertas kusam. Cahaya putih yang menyilaukan di luar sana perlahan mulai merayap masuk melalui celah-celah hampa tersebut, mengancam untuk menghapus sisa-sisa kediaman mereka jika aturan berikutnya kembali dilanggar.
Tiba-tiba, suara ketukan keras terdengar dari bawah lantai kayu yang seharusnya tidak memiliki ruang bawah tanah sama sekali. Aris segera menggenggam tangan Maya dengan erat, berusaha memberikan kekuatan meski telapak tangannya sendiri terasa sedingin es. Mereka berdua hanya bisa terdiam terpaku, menyadari bahwa setiap inci dari rumah ini kini sedang mengawasi mereka, menunggu satu kesalahan kecil lagi untuk melenyapkan keberadaan mereka selamanya.
Cahaya putih yang berpijar dari langit-langit tanpa lampu itu terasa menusuk pori-pori, menciptakan suasana steril yang mencekik. Aris berdiri terpaku di ambang pintu kamar mandi, menatap ruang kosong yang baru saja menelan wastafel dan cermin. Tidak ada puing, tidak ada debu, hanya kekosongan mutlak yang memuakkan mata. Jantungnya berdegup kencang, memberikan sensasi nyeri yang menjalar hingga ke ujung jemari yang gemetar hebat.
Tangannya yang kasar berulang kali mengusap permukaan pintu yang kini terasa asing, seolah mencari sisa-sisa realitas yang masih bisa ia genggam. Ia tidak bisa berhenti membayangkan bagaimana jika tadi anak bungsunya masih berada di dalam saat saklar itu ditekan. Pikiran itu menghantamnya seperti godam, membuatnya harus bersandar pada dinding dingin agar tidak jatuh tersungkur di atas lantai pualam yang tak bernyawa.
Hening di rumah ini bukanlah ketenangan, melainkan ancaman yang merayap pelan di balik bayang-bayang yang mulai tidak patuh. Di dimensi Mimpi Putih ini, hukum fisika telah digantikan oleh tirani cahaya yang tidak memiliki belas kasihan sama sekali. Aris menyadari bahwa eksistensi mereka kini bergantung sepenuhnya pada pendaran lampu yang terus menyala tanpa henti di setiap sudut ruangan yang mereka tempati.
Kegelapan bukan lagi sekadar ketiadaan partikel cahaya atau waktu untuk beristirahat, melainkan sebuah penghapusan paksa atas segala sesuatu yang ada. Apa pun yang luput dari jangkauan cahaya akan dianggap tidak ada oleh semesta yang cacat ini, lenyap dalam sekejap tanpa meninggalkan jejak memori. Realitas ini adalah kanvas putih yang siap menghapus sketsa kehidupan mereka jika mereka berani berkedip dalam kegelapan.
Dengan gerakan yang kaku dan terburu-buru, Aris merogoh laci dapur, mencari gulungan selotip hitam yang ia simpan dengan penuh kecemasan. Ia mulai menempelkan potongan-potongan selotip itu pada setiap saklar lampu di seluruh penjuru rumah dengan napas yang memburu tidak beraturan. Setiap tarikan selotip menghasilkan suara robekan tajam yang menggema di koridor sunyi, memecah keheningan yang terasa sangat tidak alami.