Rumah Tanpa Bayangan

Bilsyah Ifaq
Chapter #4

Bayangan yang Terlepas

Aris berdiri mematung di depan cermin wastafel, jemarinya yang gemetar terus-menerus memutar kancing kemeja paling atas--sebuah kebiasaan gugup yang tak bisa ia hentikan sejak terjebak di dimensi Mimpi Putih ini. Cahaya tanpa sumber yang berpijar dari segala arah membuat ruangan itu tidak menyisakan sudut gelap sedikit pun. Matanya yang merah karena kurang tidur menatap tajam ke arah pantulan dirinya, namun ia merasakan ada sesuatu yang sangat keliru dengan sosok di dalam kaca itu.

Pria di dalam cermin itu memiliki wajah yang sama, namun sorot matanya terasa jauh lebih tajam dan dingin seolah-olah sedang menghakimi setiap napas yang Aris hirup. "Dengar, ya, ini cuma soal waktu sampai cahaya ini menelan kita semua bulat-bulat," gumam Aris dengan ritme bicaranya yang cepat dan patah-patah, khas seseorang yang logikanya mulai terkikis oleh keputusasaan. Ia selalu berusaha merasionalkan keadaan, tetapi kali ini, bayangannya sendiri menolak untuk bekerja sama dengan akal sehatnya.

Saat Aris mengangkat tangan kanannya untuk mengusap keringat di dahi, pantulan di cermin tidak langsung mengikuti gerakannya; ada jeda satu detik yang sangat nyata dan mengerikan. Sosok di dalam kaca itu justru menyeringai lebar, sebuah ekspresi yang sama sekali tidak dilakukan oleh Aris yang asli. Aris tersentak mundur hingga punggungnya menabrak dinding, sementara jantungnya berdegup kencang seperti genderang perang yang bertalu-talu di dalam rongga dadanya yang sesak.

Ia segera teringat pada peraturan nomor dua yang tertempel di pintu kulkas tentang bayangan yang mulai bertindak sendiri, sebuah instruksi yang sebelumnya ia anggap sebagai lelucon belaka. Dengan tangan yang masih gemetar hebat, Aris mencoba menutup matanya rapat-rapat dan mulai menghitung dalam hati, berharap saat ia membukanya nanti, segalanya akan kembali normal. Namun, suara tawa halus yang bukan berasal dari tenggorokannya sendiri mulai terdengar menggema di ruangan yang seharusnya sunyi senyap itu.

Keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya saat ia menyadari bahwa bayangan hitam di bawah kakinya mulai memanjang dan meliuk-liuk di lantai putih, meskipun ia tidak bergerak sedikit pun. Bayangan itu tampak seperti makhluk hidup yang memiliki kehendak bebas, perlahan merayap naik ke dinding dan membentuk siluet yang jauh lebih besar dari ukuran tubuh Aris yang sebenarnya. Ketakutan yang murni mulai melumpuhkan saraf-sarafnya, membuatnya sulit untuk sekadar berteriak meminta tolong pada keluarganya.

Aris mengambil keputusan drastis dengan meraih botol sabun keramik berat di samping wastafel, berniat menghancurkan cermin itu untuk memutus kontak visual dengan kembarannya yang jahat. Namun, sebelum tangannya sempat mengayun, bayangan di dinding itu tiba-tiba mencengkeram leher bayangan Aris, dan secara ajaib, Aris yang asli merasakan tekanan yang sangat nyata mencekik kerongkongannya. Oksigen seolah lenyap dari paru-parunya, sementara pandangannya mulai kabur tertutup oleh bintik-bintik putih yang menyilaukan mata.

Dalam sisa kesadarannya yang kian menipis, ia melihat sosok di cermin itu melangkah keluar dari bingkai kaca, menginjakkan kaki di lantai porselen dengan bunyi langkah yang berat dan nyata. Aris menyadari bahwa ia bukan lagi penguasa atas dirinya sendiri, melainkan hanya sebuah sisa-sisa eksistensi yang perlahan memudar menjadi kabur. Saat sosok tanpa bayangan itu mendekat, Aris hanya bisa melihat dengan horor bagaimana dunianya mulai terbalik sepenuhnya dalam keheningan yang mematikan.

Aris membasuh wajahnya dengan air dingin yang mengalir dari keran wastafel dapur, berusaha mengusir rasa kantuk yang menggelayut berat di matanya. Cahaya putih yang menyilaukan dari langit-langit tanpa lampu itu seolah menembus hingga ke balik kelopak matanya yang terpejam. Suasana rumah begitu sunyi, hanya menyisakan deru pelan dari mesin kulkas yang terus bekerja di sudut ruangan yang serba pucat.

Saat ia menegakkan tubuh dan menyeka sisa air dengan telapak tangannya, Aris melirik ke arah lantai keramik di bawah kakinya secara tidak sengaja. Jantungnya mendadak berdegup kencang hingga terasa menyumbat tenggorokan saat ia menyadari ada sesuatu yang sangat keliru. Bayangan hitam di bawah sana tidak mengikuti gerakannya yang kini sudah berdiri tegak menghadap ke arah cermin wastafel.

Bayangan itu justru tetap dalam posisi membungkuk, seolah-olah sosok di lantai itu masih sibuk membasuh muka di dalam kegelapan yang tidak ada. Aris membeku, jemarinya yang gemetar mencengkeram pinggiran wastafel dengan sangat kuat hingga kuku-kukunya memutih karena tekanan. Ia ingin berteriak memanggil istrinya, namun suaranya seakan tertahan oleh udara dingin yang mendadak memenuhi paru-parunya.

Perlahan, sosok hitam di lantai itu mulai bergerak, namun gerakannya sama sekali tidak selaras dengan tubuh Aris yang masih mematung layaknya sebuah patung lilin. Bayangan itu menegakkan punggungnya dengan kaku, lalu memutar kepalanya ke arah samping hingga membentuk sudut yang mustahil bagi leher manusia normal. Aris bisa merasakan keringat dingin mulai membasahi punggungnya yang kini terasa kaku.

Pikiran Aris langsung melayang pada secarik kertas kusam yang tertempel di pintu kulkas, sebuah daftar peringatan yang awalnya ia anggap sebagai lelucon belaka. "Jika kau melihat bayanganmu sendiri bergerak tidak sesuai dengan gerakanmu, segera tutup matamu dan hitung sampai sepuluh," tulis aturan nomor dua itu dengan tinta hitam yang kini terbayang jelas di benak Aris yang kacau.

Tanpa membuang waktu lebih lama, ia segera memejamkan matanya rapat-rapat hingga pandangannya menjadi gelap gulita, sebuah kemewahan yang jarang ia rasakan di dimensi putih ini. Ia mulai menghitung di dalam hati dengan ritme yang terputus-putus akibat napasnya yang menderu tidak beraturan. Satu, dua, tiga, setiap angka yang ia sebutkan terasa seperti taruhan nyawa di tengah kesunyian yang mencekam.

Pada hitungan ketujuh, Aris mendengar suara gesekan halus di atas keramik, seolah-olah ada sesuatu yang berat sedang diseret dengan sangat perlahan tepat di belakangnya. Ia ingin sekali membuka mata dan memastikan apa yang terjadi, namun ketakutan akan kehilangan eksistensinya jauh lebih besar daripada rasa penasaran. Ia terus melanjutkan hitungannya hingga mencapai angka sepuluh dengan bibir yang terus berkomat-kamit tanpa suara.

Saat ia akhirnya memberanikan diri untuk membuka mata, bayangan di bawah kakinya telah kembali ke posisi yang seharusnya, mengikuti setiap inci gerakannya dengan patuh. Namun, ketika ia menoleh ke arah pintu kulkas, ia melihat bayangan istrinya yang sedang berdiri di ambang pintu tampak memegang sebilah pisau dapur. Istrinya hanya diam menatapnya dengan pandangan kosong, sementara bayangan di bawah kaki wanita itu sedang melakukan gerakan mencekik lehernya sendiri.

Aris mundur perlahan, menyadari bahwa aturan di kulkas mungkin hanya cara dimensi ini untuk mempermainkan kewarasan mereka sebelum akhirnya melahap mereka sepenuhnya. Ketegangan di ruangan itu mencapai puncaknya saat istrinya mulai melangkah maju tanpa suara, sementara lampu di atas mereka mulai berkedip-kedip seolah akan padam. Ia tahu bahwa sekali cahaya itu hilang, maka tidak akan ada lagi yang tersisa dari diri mereka di dunia yang kejam ini.

Lantai di bawah kaki Aris mulai terasa bergetar hebat, diiringi suara ketukan keras dari arah lantai yang seharusnya tidak memiliki ruang bawah tanah sama sekali. Ia menyadari bahwa pengkhianatan terbesar bukan berasal dari makhluk asing, melainkan dari bagian tubuh mereka sendiri yang kini memiliki kehendak bebas. Aris hanya bisa berdiri terpaku saat bayangan istrinya mulai terlepas sepenuhnya dari lantai dan merayap naik ke dinding dengan seringai yang mengerikan.

Aris berdiri mematung di sudut ruang tamu yang bermandikan cahaya putih tanpa sumber. Jemarinya yang gemetar terus-menerus memutar cincin kawin di jari manisnya, sebuah kebiasaan yang selalu ia lakukan setiap kali logika di kepalanya mulai retak. "Hanya sepuluh detik, Aris. Cukup pejamkan mata dan hitung sampai sepuluh," bisiknya dengan suara serak yang nyaris tenggelam oleh dengung statis yang entah berasal dari mana.

Kertas kusam di pintu kulkas telah memperingatkan hal ini dengan tulisan tangan yang tajam. Namun, matanya justru terpaku pada dinding di depannya, menyaksikan siluet hitam miliknya sendiri yang mulai berkhianat. Aris mengangkat tangan kanannya untuk menyeka keringat dingin di dahi, tetapi bayangan itu justru melakukan gerakan yang mustahil. Siluet gelap itu perlahan mengangkat tangan kirinya, seolah-olah sedang mengejek hukum fisika yang selama ini Aris yakini.

Ketakutan yang dingin menjalar dari ujung kakinya, membekukan setiap sendi hingga ia merasa seperti patung marmer di tengah padang kabut. Pikirannya mencoba memanggil angka satu, namun lidahnya terasa tebal dan kelu, seolah-olah kata-kata telah disedot keluar dari jiwanya. Ia tahu ia harus segera memutus kontak mata dengan keganjilan itu sebelum semuanya terlambat, namun rasa ingin tahu yang masokis menahan kelopak matanya tetap terbuka lebar.

"Ayah, kenapa diam saja?" suara Rina, anak bungsunya, terdengar dari arah dapur, memecah kesunyian yang mencekam. Aris ingin menjawab, ingin berteriak agar gadis kecil itu jangan mendekat, namun suaranya hanya berakhir sebagai embusan napas yang pendek dan tersengal. Bayangan di dinding itu kini mulai memiringkan kepalanya ke arah yang berlawanan dengan kepala Aris, menunjukkan senyum yang lebih lebar dari yang bisa dibentuk oleh otot wajah manusia.

Setiap kali Aris mencoba bergeser, bayangan itu tetap diam, seolah-olah ia telah melepaskan diri dari ikatan cahaya yang seharusnya menyatukan mereka. Keputusan Aris untuk tetap menatap adalah sebuah kesalahan fatal yang ia sadari sepenuhnya, namun egonya menolak untuk tunduk pada aturan gila di pintu kulkas. Ia merasa bahwa jika ia berpaling sekarang, ia akan kehilangan kendali atas dirinya sendiri selamanya di dalam dimensi Mimpi Putih ini.

Tiba-tiba, bayangan itu melangkah keluar dari garis batas dinding, menapakkan kaki hitamnya ke lantai pualam yang terang benderang. Aris merasakan kehampaan yang luar biasa di bawah kakinya sendiri, seolah-olah berat badannya mulai berpindah ke sosok gelap yang kini berdiri di hadapannya. Ia mencoba mengingat angka dua, tiga, atau apa pun, tetapi memori tentang urutan angka telah lenyap, digantikan oleh gambaran ruang bawah tanah yang seharusnya tidak ada di rumah ini.

Rina muncul di ambang pintu dengan boneka lusuhnya, matanya membelalak melihat ayahnya yang kini memiliki dua sosok gelap yang saling tumpang tindih. "Ayah, aturan nomor dua! Tutup matamu sekarang juga!" teriak Rina dengan nada memerintah yang tidak biasa bagi anak seusianya. Namun, Aris justru melihat ke arah lampu gantung, tangannya bergerak mencari sakelar dengan niat yang gelap dan tidak masuk akal, seolah-olah ia ingin menelan seluruh ruangan ini ke dalam ketiadaan.

Lihat selengkapnya