Aris berdiri mematung di ambang pintu dapur, jemarinya terus-menerus memutar cincin kawin di jari manisnya--sebuah kebiasaan yang muncul setiap kali ia merasa dunianya sedang runtuh. Di hadapannya, di bawah cahaya putih yang menyilaukan dan tanpa sumber yang jelas, berdiri sesosok pria yang mengenakan kemeja flanel biru yang sama persis dengan miliknya. Pria itu tersenyum dengan sorot mata yang terlalu tenang, seolah-olah ia adalah pemilik sah dari rumah yang kini terjebak dalam dimensi hampa ini.
"Logika itu simpel, Ris. Kenapa harus mempersulit diri dengan aturan kulkas yang konyol itu?" suara sosok itu terdengar seperti rekaman suara Aris sendiri yang diputar ulang dengan nada yang lebih halus. Aris merasakan tenggorokannya mengering, sementara kakinya tetap terpaku pada lantai yang dingin. Penipu itu tidak memiliki bayangan di bawah kakinya, seolah-olah cahaya putih yang merajai ruangan ini menolak untuk mengakui keberadaannya sebagai benda padat.
Istri Aris, Maya, muncul dari arah lorong sambil mendekap kedua anak mereka dengan gemetar yang tak kunjung reda. Langkahnya terhenti seketika saat melihat dua sosok suaminya berdiri berhadapan dalam diam yang mencekam. "Aris?" panggil Maya dengan suara parau, matanya beralih dari satu wajah ke wajah lainnya, mencari tanda-tanda kehidupan yang ia kenal. Penipu itu segera menoleh, memberikan tatapan hangat yang sangat meyakinkan, sebuah manipulasi emosi yang nyaris sempurna.
"Maya, jangan dengarkan dia. Dia hanya proyeksi dari kegelisahanmu," ucap sang penipu dengan ritme bicara yang tertata rapi, sangat kontras dengan Aris yang asli yang kini mulai berkeringat dingin. Aris mencoba berbicara, namun kata-katanya tertahan di kerongkongan; ia cenderung menunggu dan mengamati sebelum bertindak, sebuah bias keputusan yang sering kali membuatnya terlihat lemah di saat kritis. Ia tahu bahwa satu gerakan salah akan membuat cahaya di ruangan ini menganggap salah satu dari mereka tidak lagi diperlukan.
Ketegangan memuncak ketika sang penipu mulai melangkah mendekati Maya, tangannya terulur seolah ingin mengambil alih peran sebagai pelindung keluarga. Aris melihat bayangannya sendiri di dinding mulai menggeliat tidak wajar, seakan ingin melepaskan diri dari tumitnya untuk bergabung dengan kekosongan di seberang sana. Ia teringat aturan nomor dua, namun rasa cemburu dan takut yang meledak membuatnya lupa untuk menutup mata dan menghitung sampai sepuluh sesuai prosedur.
Dengan teriakan yang pecah, Aris menerjang kembarannya, namun tangannya hanya menembus udara kosong yang dingin seperti es, membuat keseimbangannya goyah. Sang penipu tertawa kecil, suara yang terdengar seperti gesekan logam, sementara perlahan-lahan fitur wajahnya mulai memudar menjadi kanvas putih yang rata. Maya menjerit saat menyadari bahwa sosok yang ia kira suaminya kini tidak lagi memiliki mata, hanya lubang hitam yang menatap jauh ke dalam jiwanya.
Keadaan menjadi semakin kacau ketika lampu di langit-langit berkedip hebat, memicu kepanikan massal di dalam ruang tengah yang semakin sempit oleh tekanan dimensi. Aris menyadari bahwa keberadaan penipu ini hanyalah umpan agar mereka melanggar aturan kebersamaan yang sakral di jam tiga pagi. Di tengah hiruk-pikuk itu, Aris melihat bayangan anak bungsu mereka mulai berdiri tegak di dinding, meskipun sang anak sedang meringkuk ketakutan di lantai yang terang benderang.
Cahaya putih yang memancar dari langit-langit ruang tamu terasa begitu tajam, seolah-olah hendak menguliti permukaan benda-benda di sekitarnya. Aris berdiri terpaku di ambang pintu, jemarinya bergetar hebat saat ia meremas ujung kemejanya yang sudah kusut. Di hadapannya, pada sofa beludru merah yang biasa mereka gunakan untuk bersantai, duduk seorang wanita yang secara visual adalah istrinya, Santi.
Wanita itu mengenakan daster motif bunga kamboja yang sama persis dengan yang dipakai Santi saat mereka terbangun di dimensi Mimpi Putih ini. Namun, ada sesuatu yang sangat salah pada tekstur kulitnya yang terpapar cahaya tanpa sumber itu. Wajahnya begitu mulus, terlalu sempurna hingga menyerupai porselen yang baru keluar dari cetakan pabrik, tanpa pori-pori, tanpa kerutan, dan tanpa tanda-tanda kehidupan yang wajar.
Aris menelan ludah dengan susah payah, tenggorokannya terasa seperti disumbat segenggam pasir kering. Ia teringat pada aturan nomor dua di pintu kulkas yang memperingatkan tentang bayangan yang tidak selaras, tapi situasi ini jauh lebih buruk. Di bawah kaki wanita itu, lantai marmer putih yang mengilap tampak bersih tanpa noda hitam sedikit pun, padahal lampu kristal di atasnya menyala dengan kekuatan maksimal.
Sosok itu tidak memiliki bayangan, sebuah anomali yang membuat perut Aris mual karena ngeri. Ia mencoba mengingat ritual kecilnya untuk menenangkan diri, yaitu mengetukkan kuku ibu jari ke telapak tangan sebanyak tiga kali, namun gerakannya terhenti saat wanita itu menoleh. "Mas, kenapa berdiri di sana terus? Sini duduk, tehnya sudah hampir dingin," ucap sosok itu dengan suara yang terdengar seperti rekaman rusak.
Irama bicaranya datar, tanpa intonasi emosional yang biasanya membuat Aris merasa tenang saat pulang kerja. Aris tidak menjawab, ia justru melangkah mundur hingga punggungnya menabrak dinding yang terasa dingin dan asing. Ia tahu bahwa menurut aturan, ia seharusnya segera menutup mata dan menghitung sampai sepuluh, namun rasa ingin tahunya yang destruktif justru memaksa matanya tetap terbuka lebar.
Tiba-tiba, dari arah dapur, terdengar suara langkah kaki yang sangat nyata dan berat. Santi yang asli muncul dengan wajah pucat pasi, memegang pisau dapur yang berlumuran cairan bening aneh. "Aris, jangan dengarkan dia! Dia bukan aku!" teriak Santi asli dengan suara serak yang penuh ketakutan. Aris menoleh dengan cepat, matanya berpindah-pindah antara dua sosok yang memiliki wajah identik namun aura yang berbeda.
Sosok di sofa mulai berdiri, gerakannya patah-patah seperti boneka kayu yang ditarik oleh benang tak terlihat. "Aku adalah istrimu, Aris. Bukankah kau selalu menginginkan aku yang sempurna, yang tidak pernah mengeluh?" tanya sosok tanpa bayangan itu sambil melangkah mendekat. Setiap langkah yang ia ambil tidak menimbulkan suara sama sekali, seolah-olah ia tidak memiliki massa fisik yang nyata untuk menapak di lantai.
Aris merasakan kepalanya berdenyut hebat, sebuah bias keputusan yang buruk mulai merasuki pikirannya karena ia merasa tidak bisa mempercayai siapa pun lagi. Ia meraih lampu meja di sampingnya dan melemparkannya ke arah sosok di sofa, namun benda itu justru menembus tubuh sang wanita. Lampu itu jatuh ke lantai dan pecah
berkeping-keping, namun tidak ada kegelapan yang tercipta karena cahaya putih dimensi ini tetap dominan.
Aku harus mematikan semuanya, aku harus membuat tempat ini gelap agar mereka semua hilang dari pandanganku.
Dengan nekat, Aris berlari menuju panel listrik utama di dekat pintu masuk, mengabaikan teriakan histeris dari Santi yang asli. Ia menarik tuas pemutus arus dengan tenaga penuh, berharap kegelapan akan menyelamatkannya dari kegilaan ini. Namun, saat suara 'klik' terdengar, lampu memang padam, tapi ruangan itu tidak berubah menjadi gelap gulita seperti yang ia harapkan dalam dunia nyata.
Sebaliknya, seluruh perabotan rumah--sofa, meja, hingga dinding--mulai memudar dan menghilang menjadi kabut putih hampa karena tidak lagi tersentuh cahaya. Aris melihat kakinya sendiri mulai transparan, sementara kedua sosok wanita di depannya kini menyatu menjadi satu entitas yang mengerikan. Di tengah kepanikan itu, ia menyadari bahwa bayangannya sendiri telah terlepas sepenuhnya dan kini berdiri tegak di hadapannya, siap untuk mencekik lehernya sendiri.
Cahaya putih yang tak bersumber itu memantul di permukaan lantai pualam, menciptakan suasana yang terlalu terang hingga menyakitkan mata. Aris berdiri terpaku di sudut ruang tamu, jemarinya terus-menerus memutar cincin kawin di jari manisnya--sebuah kebiasaan yang muncul setiap kali jantungnya berdegup tidak keruan. Di hadapannya, sosok yang sangat mirip dengan istrinya, Santi, berdiri dengan postur yang terlalu tegak, seolah-olah tulang belakangnya terbuat dari kawat baja yang kaku.
Santi palsu itu berbicara dengan nada yang begitu lembut, hampir menyerupai bisikan angin yang menenangkan di tengah badai. "Di luar sana sangat tenang, Aris," ucapnya dengan ritme bicara yang datar namun menghanyutkan, tanpa ada jeda napas yang manusiawi di sela kalimatnya. Ia melangkah maju satu tindak, membuat Maya, putri bungsu mereka, mundur selangkah sambil meremas ujung baju ayahnya dengan gemetar karena ketakutan yang mendalam.
Wanita itu melanjutkan narasinya tentang dunia di balik pintu depan rumah mereka yang kini hanya menampakkan hamparan kabut putih tanpa batas. "Tidak ada aturan kulkas yang konyol, tidak ada rasa takut yang menghimpit dada, dan tidak ada lagi bayangan yang mencoba mencekik kalian saat terlelap." Suaranya terdengar seperti melodi kotak musik tua yang terus berputar, mencoba membius nalar sehat keluarga yang sudah terjebak selama puluhan jam tanpa kepastian.
"Kalian hanya perlu mematikan lampu kristal di langit-langit ini dan ikut denganku menuju hamparan putih itu," ajak Santi palsu dengan senyum yang terlalu lebar hingga menampakkan deretan gigi yang terlampau putih. Maya hampir terpesona oleh binar di mata wanita itu, sebuah binar yang menjanjikan kedamaian abadi tanpa harus terus-menerus menghitung detik demi detik di bawah tekanan aturan misterius yang mencekam jiwa mereka.