Aris berdiri di tengah ruang tamu yang bermandikan cahaya putih tanpa sumber, jemarinya terus-menerus memutar cincin kawin di jari manisnya--sebuah ritual kegelisahan yang tak kunjung usai sejak jam dinding berhenti berdetak. Ia menatap lampu gantung kristal dengan pandangan tajam, seolah sedang menghitung setiap partikel cahaya yang mengancam akan menghapus keberadaan keluarganya jika mereka sedikit saja lengah dari aturan di pintu kulkas.
"Kita tidak bisa terus bersembunyi di balik aturan yang ditulis oleh entitas entah siapa," gumam Aris dengan suara parau yang bergetar namun penuh tekad, sebuah pola bicara yang selalu muncul tiap kali ia merasa terdesak oleh situasi mustahil. Ia melangkah menuju panel listrik utama, mengabaikan tatapan ngeri dari istrinya yang masih mematung di sudut ruangan sambil memeluk kedua anak mereka yang mulai kehilangan rona wajah akibat paparan sinar abadi.
Keputusan Aris sudah bulat untuk melawan arus logika dimensi ini, karena baginya, lebih baik menghadapi risiko kehampaan daripada membiarkan bayangannya sendiri perlahan-lahan merangkak naik ke dinding dan mengambil alih identitasnya sebagai kepala keluarga. Ia tahu bahwa melanggar Prosedur Menjaga Bayangan adalah sebuah pengkhianatan terhadap rasa aman semu yang selama ini mereka pelihara, namun instingnya berteriak bahwa cahaya inilah penjara yang sebenarnya.
Tangan Aris meraih tuas sakelar utama, sementara keringat dingin mengucur deras membasahi kemejanya yang sudah kusut, menciptakan kontras yang tajam dengan kebersihan steril ruangan Mimpi Putih tersebut. Ia teringat bagaimana anak bungsunya hampir menghilang hanya karena satu lampu kamar mandi mati, namun ia yakin bahwa mematikan segalanya sekaligus akan menciptakan kejutan sistem yang mampu merobek selaput dimensi ini hingga hancur berkeping-keping.
Suasana mendadak menjadi sangat dingin saat Aris menarik tuas itu dengan satu sentakan keras, sebuah ledakan sunyi yang terasa seperti menghantam gendang telinga mereka semua saat kegelapan total menelan rumah itu untuk pertama kalinya. Suara teriakan tertahan dan bunyi benda pecah memenuhi udara, menandakan bahwa realitas palsu yang mereka tempati sedang memberontak melawan kegelapan yang dipaksakan masuk ke dalam inti simulasi yang rapuh.
Dalam detik-detik yang terasa seperti keabadian, Aris merasakan lantai di bawah kakinya melenyap, membuatnya terjerembap ke dalam sebuah lubang hitam yang tidak memiliki dasar, hingga akhirnya ia tersentak bangun di atas lantai kayu yang dingin dan berdebu.
Napasnya tersengal-sengal saat ia menyadari bahwa ia kembali berada di rumah aslinya,
di mana kegelapan malam terasa begitu hangat dan nyata, jauh dari cahaya putih yang menyiksa jiwanya selama berhari-hari.
Ia segera menyalakan lampu senter untuk mencari keberadaan istri dan anak-anaknya yang terduduk lemas di dekat meja makan, namun kelegaan itu seketika berubah menjadi teror murni yang membekukan darahnya. Saat cahaya senter mengenai punggung anak-anaknya, Aris melihat dua bayangan hitam yang sangat pekat memanjang di lantai; satu bayangan yang mengikuti gerakan mereka, dan satu lagi yang tetap tegak berdiri diam sambil perlahan memutar kepalanya ke arah Aris dengan senyum yang tidak manusiawi.
Santi menerjang tubuh suaminya dengan kecepatan yang didorong oleh keputusasaan murni. Aris mengejang, namun Santi segera menyelimuti kepala pria itu dengan kain hitam tebal yang sudah ia siapkan sejak jam kulkas menunjukkan angka tiga. Ia menekan kain itu kuat-kuat, berusaha memutus kontak visual antara mata Aris yang liar dengan cahaya putih yang memenuhi setiap sudut rumah tanpa ampun.
Aris mengerang dengan suara yang bukan miliknya, sebuah geraman rendah yang terdengar seperti gesekan batu di bawah lantai. Tangannya mencengkeram lengan Santi hingga membiru, namun wanita itu tidak melepaskan dekapannya. "Dino, sekarang! Jangan tunggu sampai dia bicara lagi!" teriak Santi dengan suara serak, sementara peluh dingin membasahi keningnya yang berkerut dalam.
Dino berlari melintasi ruang tamu, kakinya menghantam lantai kayu dengan bunyi berdebam yang ganjil. Ia tidak berani menoleh ke arah bayangannya sendiri yang kini tertinggal beberapa jengkal di belakang, seolah-olah bayangan itu memiliki berat dan massa sendiri. Tujuannya hanya satu, yakni saklar utama di dekat pintu masuk yang selama ini menjadi tabu untuk disentuh oleh siapa pun.
Jari-jari Dino yang gemetar meraih tuas besi itu, sementara telinganya menangkap suara ketukan dari bawah lantai yang semakin keras dan menuntut. "Abaikan suaranya, Dino! Ingat aturan nomor tiga!" teriaknya pada diri sendiri untuk mengusir ketakutan. Dengan satu sentakan kasar yang mempertaruhkan eksistensi mereka, ia menarik tuas itu ke bawah hingga terdengar bunyi percikan listrik yang tajam.
Di sudut lain, Maya bergerak seperti penari yang kerasukan di bawah sorotan cahaya putih yang berdenyut liar dan menyakitkan mata. Ia memegang tongkat kayu panjang, mengayunkannya dengan presisi yang mematikan ke arah setiap bola lampu kecil yang masih menyala. Kaca-kaca pecah berhamburan di lantai, berkilau seperti kristal es di tengah dimensi yang meredup secara paksa.
Setiap kali sebuah lampu meledak, sebagian dari perabotan rumah ikut lenyap ke dalam kekosongan putih, menyisakan ruang hampa yang mengerikan. Maya terus memukul, mengabaikan fakta bahwa ujung kakinya mulai terasa dingin dan tak kasat mata. Ia tahu bahwa satu-satunya cara untuk bangun adalah dengan menghancurkan seluruh sumber cahaya sebelum bayangan sang ayah berhasil mematikan mereka lebih dulu.
Suasana menjadi kacau balau saat bayangan Aris yang terlepas mulai merayap di dinding, mencoba menjangkau Maya dengan tangan-tangan hitam yang memanjang. Santi semakin erat memeluk kepala Aris, menenggelamkan wajah suaminya ke dalam kegelapan kain hitam agar kesadarannya tidak direnggut sepenuhnya. "Kita harus berani menjadi gelap, atau kita tidak akan pernah ada lagi," bisik Santi dengan nada penuh tekad.
Tepat saat lampu terakhir di langit-langit berkedip dan padam, sebuah ledakan sunyi menghantam indra mereka, melemparkan segalanya ke dalam kegelapan total yang pekat. Rasa mual yang hebat menghantam perut mereka saat gravitasi seolah-olah berputar balik, menarik mereka keluar dari dimensi Mimpi Putih yang menyesakkan. Suara detak jam dinding yang normal tiba-tiba terdengar, memecah kesunyian yang telah berlangsung selamanya.
Santi terbangun dengan napas tersengal di atas lantai ruang tamu yang dingin, menyadari bahwa hari sudah malam dan rumah mereka kembali gelap gulita. Ia meraba-raba sekitarnya, menemukan tangan Aris yang kini terasa hangat dan manusiawi kembali. Mereka menangis dalam kegelapan yang memberkati, merasakan udara malam yang lembap menyentuh kulit mereka setelah sekian lama terjebak dalam cahaya abadi.
Dengan tangan gemetar, Santi menyalakan lampu senter kecil untuk memastikan keadaan anak-anaknya yang meringkuk di sudut ruangan. Cahaya senter itu menyapu lantai, dan seketika jeritan tertahan keluar dari tenggorokan Santi yang kering. Di bawah kaki Dino dan Maya, terpantul dua bayangan hitam yang pekat; satu bergerak mengikuti napas mereka, sementara yang lain berdiri tegak membeku sambil menatap balik ke arahnya.
Prang! Serpihan kaca lampu hias berserakan di lantai porselen yang dingin. Maya tidak berhenti di sana; tangan gemetarnya menyambar vas bunga porselen dan menghantamkannya ke lampu meja terdekat. Begitu cahaya lampu itu padam, sudut ruangan yang semula terlihat nyata mendadak lenyap ditelan kekosongan putih yang hampa, seolah-olah realitas di sana tidak pernah ada.
Aris meronta hebat di atas sofa, urat-urat lehernya menegang hingga tampak seperti akar pohon yang hendak pecah. Kekuatannya berlipat ganda, jauh melampaui batas manusia normal, karena bayangannya yang hitam pekat di dinding kini bergerak-gerak liar. Bayangan itu mencoba menahan setiap gerakan Maya, seakan-akan eksistensi gelap itu sedang bertarung demi nyawanya sendiri agar tidak ikut terhapus.
"Berhenti, Maya! Kau akan membunuh kita semua jika lampu ini mati!" teriak Aris dengan suara yang sudah tidak lagi terdengar seperti miliknya. Ada nada ganda dalam setiap kata yang keluar, sebuah gema parau yang seolah ditiupkan oleh bayangan di belakangnya. Maya tidak menjawab, ia terus memutar kunci inggris di tangannya, mengincar bohlam terakhir yang masih berpijar di langit-langit ruang tengah.
Maya menarik napas pendek, jemarinya yang lecet terus mencengkeram besi dingin itu dengan sisa tenaga yang ada. Ia tahu bahwa aturan di pintu kulkas adalah jebakan yang membuat mereka tetap terkurung dalam ilusi ini. "Kita tidak sedang hidup, Aris! Kita hanya sedang diawetkan dalam mimpi buruk yang terang benderang!" pekiknya sambil melemparkan benda keras itu tepat ke arah sumber cahaya utama.
Benturan keras terjadi, dan bohlam di langit-langit itu meledak dalam hujan percikan api kecil yang singkat. Seketika itu juga, separuh dari ruang tamu mereka menjadi putih polos, tanpa tekstur, tanpa bayangan, dan tanpa suara. Aris terlempar ke lantai, bayangannya yang semula liar kini mulai memudar, menjadi abu-abu tipis yang merayap kembali ke arah kaki tuannya dengan gerakan yang sangat menyedihkan.
Di tengah kepungan warna putih yang merayap maju, Maya melihat Aris mulai kehilangan bentuk fisiknya dari ujung jari kaki. Rasanya seperti melihat lukisan yang dihapus oleh penghapus raksasa yang tidak kasat mata. Namun, Maya tidak berpaling; ia justru mematikan lampu senter kecil di sakunya, satu-satunya sumber cahaya yang tersisa di ruangan yang kini hampir seluruhnya telah menjadi ruang hampa tanpa dimensi.
Kegelapan total akhirnya menyergap, memutus semua aturan gila yang selama ini membelenggu mereka di dalam dimensi Mimpi Putih. Untuk sesaat, tidak ada suara napas, tidak ada detak jantung, hanya keheningan yang menyesakkan dada. Maya merasakan tubuhnya jatuh bebas ke dalam sumur tanpa dasar, sebuah sensasi mual yang hebat sebelum akhirnya punggungnya menghantam sesuatu yang empuk dan berbau debu akrab.
Maya membuka matanya perlahan dan menemukan dirinya berada di atas tempat tidur di kamar lamanya yang remang-remang. Suara jangkrik di luar jendela terdengar sangat merdu, menandakan bahwa malam yang sesungguhnya telah kembali menjemput mereka. Di sampingnya, Aris terengah-engah dengan keringat dingin yang membasahi dahi, tampak terkejut namun lega karena bisa merasakan kembali berat tubuhnya sendiri di dunia nyata.