Bintang dan seluruh teman sekelasnya sedang menuju ruang komputer. Ia dan Bulan berjalan beriringan. Saat melewati perpustakaan, ia hampir jatuh karena menginjak tali sepatunya sendiri.
"Duluan aja, Lan," katanya pada Bulan, dan mendapat anggukan dari sang teman.
Bintang berjongkok, mengikat tali sepatunya yang entah sejak kapan terlepas, yang pasti sebelum ia menginjaknya. Saat kembali berdiri, tanpa sengaja ia menoleh ke arah jendela perpustakaan di sebelahnya.
Dari jarak beberapa meter, ia melihat seseorang berdiri di depan rak paling ujung. Kacamata bertengger di hidung, dan rambut hitamnya disisir rapi ke samping, side part khas anak sekolah. Meski hanya bertemu sekali dan itu pun dalam waktu singkat, Bintang bisa mengenali wajahnya.
Krak!
Bintang terperanjat. Suara itu muncul tiba-tiba, memecah sunyi. Ia menoleh cepat. Tak ada siapa pun, hanya pohon yang berdiri kokoh beberapa meter dari tempatnya berdiri.
Bintang kembali melihat ke dalam perpustakaan. Namun, dia sudah tak ada di tempat semula. Ia menyapu pandangan ke seluruh ruangan, tapi tak menemukan siapa pun selain staf perpustakaan.
BRAK!
Bintang terperanjat. Kali ini suaranya lebih keras daripada tadi. Seperti sebelumnya, ia menoleh cepat. Ternyata ranting pohon agak besar jatuh ke tanah. Ia menoleh ke segala arah. Tak ada seorang pun selain dirinya. Staf perpustakaan tetap duduk santai di kursinya.
Apa suaranya nggak sampai ke dalam? pikirnya.
Bintang mengusap tengkuk lehernya. Entah mengapa ia tiba-tiba merinding. "Gara-gara cerita Sinta, malah jadi parno," gumamnya.
Tak mau berlama-lama lagi, gadis itu memutuskan untuk bergegas ke ruang komputer. Langkah kakinya cepat, nyaris setengah berlari, menyusuri lorong sekolah yang sepi karena masih KMB. Ia harus cepat sampai sebelum materi dimulai.
🏠
Harap lepas sepatu! Ruangan ini baru direnovasi.
Bintang melepas sepatunya setelah membaca dua kalimat dicetak tebal di kertas yang menembel di pintu ruangan. Ia meletakkan sepatunya di rak yang telah disediakan. Banyak sepatu sudah berjejer di rak kayu tersebut.
Saat masuk ke dalam, semua temannya sudah duduk di depan komputer masing-masing. Ia mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan, mencari tempat kosong untuk ditempati.
Di sudut belakang, Bulan melambaikan tangan sambil menunjuk bangku di sebelahnya. Bintang pun bergegas menghampiri dan duduk di sana.