Bintang menatap rumah berpagar besi hitam di depannya. Setelah sebelumnya sempat ditinggal, tiba-tiba taksi yang ditumpangi ibu tirinya itu kembali. Tanpa basa-basi, Saniya menyuruhnya masuk ke dalam mobil. Dan kini, di sinilah ia berdiri.
Rumah satu lantai dengan desain minimalis itu tampak sederhana, dengan cat biru yang mulai memudar. Terasnya dipenuhi daun-daun kering, bunga-bunga dalam pot juga mati. Ia tahu, rumah ini milik Saniya. Dulu, mendiang ayahnya pernah mengajaknya ke sini. Setelah menikah, Saniya pindah dan tinggal bersama mereka.
"Mau tetap berdiri di situ jadi patung penjaga?"
Bintang refleks mengalihkan pandangan ke arah sumber suara. Ternyata, Saniya sudah ada di teras rumah. Ia sempat terdiam sejenak, sebelum akhirnya melangkah cepat menghampiri ibu tirinya itu.
"Hachoo!"
Baru satu langkah melewati pintu rumah, Bintang sudah bersin. Saniya sempat menoleh beberapa detik, lalu kembali menatap ke depan. Sementara Bintang melepas pelukannya pada ransel besar yang sejak tadi ia bopong, lalu menggosok-gosok hidungnya yang gatal. Tak hanya bagian luar, bagian dalam pun berdebu dan kotor.
Saniya melepas genggaman tangannya pada kopernya. Kemudian berkata, "Gosok hidungmu sambil ikutin saya!"
Buru-buru Bintang mengambil ranselnya, lalu berjalan mengikuti Saniya yang mulai masuk ke ruang tengah. Berbeda dengan ruang tamu yang ada satu set sofa dan sebuah meja kaca, di ruang tengah hanya ada satu sofa panjang dan rak TV yang kosong tanpa ada satu barang pun termasuk TV. Di sebelahnya, sebuah penyekat rotan menjadi pembatas antara ruang tengah dan dapur.
Bintang mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan. Semua asing baginya. Tahun lalu saat ia datang bersama sang ayah, ia hanya duduk di ruang tamu.
"Heh!"
Bintang menoleh. Saniya tampak berdiri di depan salah satu pintu yang berjejer menghadap ke ruang tengah.
"Kemari!" titah Saniya. "Kamu pakai kamar ini," ucapnya saat Bintang menghampiri dirinya. Setelah mengatakan itu ia beranjak dari posisinya.
"Jadi Aya boleh tinggal sama Bu Sani?" Satu pertanyaan Bintang berhasil menghentikan langkah Saniya yang belum jauh.
Wanita itu menjawab tanpa menoleh, "Boleh, tapi kamu harus beberes rumah tiap hari."