Pintu kamar Saniya terbuka saat Bintang baru saja ingin mengetuknya. Wanita itu tampak agak terkejut dengan keberadaannya di depan pintu.
"Kenapa berdiri di sini?"
Bukannya menjawab, bibir Bintang malah terkatup rapat, dari raut wajahnya tampak keraguan.
Bintang mendengus kesal. "Kalau cuma mau cosplay jadi patung, jangan di sini," sarkasnya.
Ragu-ragu, ia membuka mulutnya. "Mm ... boleh ... Aya mau–"
"Kalau mau minta uang, enggak ada," potong Saniya, jengah mendengar Bintang berbicara setengah-setengah. "Bulan ini kan udah saya kasih."
Aya cuma mau cerita ....
Saniya menggeleng kecil melihat Bintang yang berdiri diam dengan kedua tangan sibuk meremas kaosnya sendiri. "Beneran mau cosplay patung," gumamnya tak habis pikir.
Dengan langkah gontai, ia kembali ke kamar. Bintang membuka lemari model kuno yang sudah dipakainya sejak tinggal di rumah ini, tepatnya empat tahun. Tangannya meraih sebuah kotak sepatu, sepatu yang baru ia pensiunkan dua bulan yang lalu.
Matanya menatap sepasang sepatu di genggamannya. Warnanya sudah pudar, solnya sudah tipis, dan bagian belakang sepatu sedikit robek. Tapi masalah utamanya adalah kekecilan. Tak masalah jika tampilannya jelek, selagi tak kekecilan ia akan memakai bahkan hingga beberapa tahun ke depan. Tapi karena kekecilan, ia beli baru. Namun, belum ada seumur jagung malah hilang.
"Padahal baru beli, malah hilang. Semoga yang ngambil sakit perut," runtuknya.
🏠
Angkot berhenti tepat di depan gerbang sekolah. Suaranya menderu sebentar, lalu pelan meredam. Bintang turun tanpa suara dan berjalan masuk bersama siswa-siswa lain yang berhamburan dari arah yang berbeda.
Sepatunya yang sempit serasa mencengkeram kakinya dengan kuat. Rasanya benar-benar tak nyaman, tapi ia tetap berjalan. Seperti biasa. Seperti tak terjadi apa-apa.