Rumah Tanpa Kasih

Luv
Chapter #11

10| Gamma Sandewa

"Gara-gara Si Sapu Jagad aku jadi telat. Enggak mau lagi deh berangkat bareng dia. Habis dihukum lari tadi pagi, sekarang jam olahraga."

Sejak tadi Bulan terus menggerutu. Gadis berambut bob pendek itu tak henti memberi sumpah serapah kepada Sapu Jagad, anak kelas sebelah yang naksir dirinya. Sementara Bintang yang berdiri di sebelahnya hanya diam. Melamun.

Bunyi peluit terdengar dari ujung lapangan, tapi Bintang nyaris tak menggubris. Matanya menatap ke satu titik entah di mana. Angin menyapu rambutnya hingga membuat sedikit berantakan, tapi ia tetap tak bergerak.

PRIIIT!

Suara peluit kembali terdengar. Kali ini lebih kencang, tapi gadis berkucir satu itu tetap tak menggubris hingga sentuhan di bahu menyadarkannya.

"Bin," panggil Bulan, "baris!"

"A-a iya." Bintang buru-buru masuk ke barisan, berdiri paling belakang.

"Ketua kelas maju ke depan, pimpin pemanasan!" seru Pak Citro dari arah depan barisan. "Setelah itu lari keliling lapangan dua putaran."

Murid-murid mulai melakukan pemanasan. Tangan terangkat, pundak diputar perlahan, lalu badan dibungkukkan hingga ujung jari berusaha menyentuh lantai.

"Satu, dua, tiga, empat," mereka berseru kompak, "lima, enam, tujuh, delapan!"

Lapangan dipenuhi suara hitungan, mereka bergerak mengikuti irama stretching yang sudah mereka hafal.

"Mulai lari!"

Baris pertama mulai bergerak, disusul baris kedua, ketiga, dan seterusnya. Suara langkah kaki terdengar serempak, menciptakan debu tipis yang melayang pelan di udara panas. Beberapa siswa tampak bersemangat, sebagian lainnya menghela napas panjang.

Bintang ikut melangkah, tubuhnya bergerak otomatis mengikuti ritme barisan. Rambutnya yang diikat seperti ekor kuda itu bergerak ke kanan dan kiri saat berlari.

Ia meringis. Setiap hentakan kaki terasa nyeri yang menjalar dari ujung jari sampai tumit. Setiap kali menjejak paving, rasanya ingin berhenti berlari. Kakinya panas dan terasa perih. Langkahnya kini mulai pincang.

Tak lama kemudian, lari pemanasan mereka selesai. Pak Citro mengizinkan murid-muridnya istirahat sejenak sembari menunggu ketua dan wakil ketua kelas kembali dari mengambil bola basket.

"Kata Sinta, sepatumu udah ketemu ya? Ketemu di mana?" tanya Bulan memulai percakapan.

Kini, mereka duduk lesehan dengan meluruskan kaki ke depan.

"Di atas pohon," jawab Bintang singkat. Saat ini dia sibuk menggerakkan pergelangan kakinya. Rasanya pingin ku copot ini sepatu, batinnya.

"Ha?" Kening Bulan mengerut, kedua alisnya hampir menyatu sempurna.

"Udah gue bilang kemarin, diumpetin hantu. Tapi pada nggak percaya sih," sahut Sinta yang duduk di sebelah Bulan.

Bulan berdecak kesal. "Ck, obses banget sama hantu," runtuknya kesal bukan kepalang. "Saranku, stop baca yang horor-horor deh."

Sinta memanyunkan bibirnya dan mencibir pelan.

Sementara Bintang kembali terdiam. Apa iya beneran hantu? Nyangkutnya di pohon dekat perpustakaan lagi. Itu juga pohon yang kemarin cabangnya tiba-tiba jatuh.

PRIIIT!

Untuk ketiga kalinya suara peluit terdengar. Kali ini tidak senyaring yang pertama dan kedua. Semua yang duduk langsung bergegas berdiri, berkumpul di depan sang guru olahraga.

"Yang perempuan buat empat tim, masing-masing berisi empat orang, sementara yang laki-laki juga bentuk empat tim tapi berisi tiga orang," terang Pak Citro.

Lihat selengkapnya