Rumah Tanpa Kasih

Luv
Chapter #13

12| Makam

Bintang menyusuri pinggir lapangan dengan kepala tertunduk. Sepanjang jalan, pandangannya jarang terangkat. Ia sengaja berangkat lebih pagi untuk mencari kalungnya yang hilang.

Kerikil dan dedaunan kering tak luput dari penglihatannya. Gadis itu memperlambat langkahnya saat melihat benda berkilau. Ia mendekat, tapi ternyata hanya serpihan plastik kecil.

Bintang menghela napas berat. "Enggak ada. Gimana dong!" ujarnya frustrasi.

"Bintang!"

Bahunya tersentak. Kaget karena namanya dipanggil di tengah lapangan yang masih sepi. Ia menoleh, di seberang lapangan Bu Endang berdiri dengan tas jinjing di bahu kanan.

Bintang berlari menghampiri saat sang guru melambaikan tangan, memberi isyarat untuk menghampiri.

"Iya, Bu, ada apa?" tanya Bintang. Tangannya refleks menyelipkan anak rambut ke belakang telinga, kebiasaan kecil setiap kali ia gugup.

"Esai kamu udah selesai?"

Bintang menggeleng pelan. "Belum, Bu. Bukannya dikumpulkan hari Selasa ya, Bu?"

"Memang. Saya mau tanya progresnya aja."

Setelah beberapa tanya jawab singkat, Bu Endang pergi. Bintang menghela napas lega, kemudian memutuskan ke perpustakaan untuk melanjutkan esainya. Perihal kalung, akan ia cari lagi nanti.

Bintang tersenyum singkat sambil menundukkan sedikit kepala, menyapa staf perpustakaan yang duduk di belakang meja dekat pintu masuk. Ia melangkah pelan menuju meja paling pojok dekat jendela. Setelah duduk, ia mengeluarkan buku catatan dan buku referensinya. Lalu, mulai meneruskan esainya.

Gadis itu menghela napas, lalu menyenderkan punggungnya ke kursi. Baru sepuluh menit berlalu, tapi ia sudah lelah. Pikirannya berkecamuk, tak bisa fokus karena memikirkan kalungnya yang hilang.

Bintang bangkit dari duduknya dan berjalan menyusuri rak-rak buku. Tangannya terulur menyapu buku-buku yang berjejer di rak sisi kirinya. Jemarinya bergerak hendak mengambil salah satu buku, namun bel masuk berbunyi nyaring.

Ia urungkan niat, lalu berjalan cepat menuju bangku yang ia tempati sebelumnya. Kedua tangannya bergerak cepat membereskan alat-alat tulisnya, lalu melenggang pergi tanpa memasukkannya ke dalam tas.

"Sebentar."

Bintang menghentikan langkahnya ketika suara itu mendadak muncul. Perlahan, ia menoleh.

Pemuda berkacamata muncul dari antara dua rak buku, lalu membungkuk mengambil pena yang ada di lantai. Kemudian, berjalan menghampiri Bintang dan menyodorkan pena itu.

Bintang hanya terdiam, menatap pena dan wajah siswa itu secara bergantian. Lalu, pandangannya turun ke ujung kaki.

Pemuda itu masih setia menunggu Bintang mengambil pena hitam merk Standard dari tangannya. "Kenapa? Punyamu kan?" tanyanya penuh heran karena Bintang tak kunjung mengambil benda miliknya sendiri.

Bintang menunduk. Dengan perlahan dan ragu, tangannya bergerak meraih pena miliknya itu. "Makasih," lirihnya.

Gadis itu mundur dua langkah, lalu berbalik dan berjalan cepat meninggalkan perpustakaan.

Lihat selengkapnya