Rumah Tanpa Kasih

Luv
Chapter #15

14| Lima Belas Menit

Suara alarm berbunyi nyaring di kamar bernuansa putih itu. Seorang gadis menggeliat pelan, tangannya bergerak menarik selimut hingga menutupi seluruh wajahnya. Beberapa detik kemudian, ia menarik turun selimut hingga sedada.

Tangan Bintang bergerak mengambil ponselnya yang masih berbunyi. Matanya terbelalak. "Lah kok setengah tujuh?!"

Ia langsung membuka fitur alarm. "Ck, salah atur angka," lirihnya.

Bintang menaruh asal ponselnya ke kasur, ia bangkit dan menyibak selimut. Kemudian mengambil handuk dan seragam sekolahnya yang menggantung dalam lemari.

"Haduh, hari Senin pula!" erangnya frustrasi.

Beberapa menit kemudian, ia sudah berlari di pinggir jalan. Di ujung gang perumahan, ia melihat angkot biru yang biasa ia naiki. Bintang menambah kecepatan larinya, namun angkot itu berjalan jauh lebih cepat dari dirinya.

"Angkot!" teriak Bintang sambil mengangkat tangannya, berharap kernet ataupun sopir itu angkot melihatnya. Namun, kendaraan umum itu tak berhenti.

Langkahnya melambat di ujung gang, dan akhirnya berhenti. Ia membungkuk sebentar, menetralkan napasnya yang tersengal-sengal.

Bintang menghela napas panjang dan berat. Kepalanya celingak-celinguk, mencari kendaraan umum lain. Namun, nihil. Hanya ada kendaraan pribadi yang berlalu-lalang.

"Pesan ojol aja deh, ya," gumamnya sambil mencengkeram erat dua tali tas gendongnya.

Bintang mengeluarkan ponsel dari tasnya. Lalu membuka aplikasi ojek online berwarna kuning.

"Kenapa enggak dapat-dapat driver?" gerutunya. Dua telunjuknya mengetuk-ngetuk pinggiran ponselnya. Sudah lima menit, tapi ia tak kunjung dapat driver.

Gadis itu berdecak kesal. Ia memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas. Kemudian, beranjak dari sana. Ia berlari semampunya. Saat tiba di pertigaan, ia terus berlari tanpa menoleh ke samping. Dari sisi kiri, tiba-tiba sebuah sepeda melintas di depannya. Ia tersentak mundur, kehilangan keseimbangan dan berakhir jatuh terduduk. Sementara si pengendara sepeda terhuyung ke samping. Jika saja kakinya tidak sigap, mungkin ia juga akan terjatuh ke aspal.

"Aduh," lirih Bintang sangat pelan.

Pemuda yang juga berseragam putih-abu-abu itu turun dari sepeda. Ia mengulurkan tangannya, menawarkan bantuan kepada Bintang. "Maaf," katanya.

Sejenak, Bintang menatap pemuda itu. Agak ragu, ia menerima uluran tangan itu sambil berkata, "Aku yang salah, enggak lihat-lihat dulu ke samping."

"Makasih." Bintang melepaskan genggamannya.

Pemuda berkacamata itu mengangguk, kemudian kembali duduk ke jok sepeda gunungnya. "Mau bareng, daripada telat?" tawarnya.

Bintang tidak langsung menjawab. Tawaran itu nyaris tak mungkin ditolak. Dan, ya. Gadis itu mengangguk.

Tak buang waktu, Bintang berdiri di pijakan kaki di sisi roda belakang. Kedua tangannya berpegangan pada bahu pemuda yang sampai saat ini namanya belum ia ketahui.

Seolah tahu isi pikirannya, pemuda itu memperkenalkan diri. "Aku Alfa. Kamu?"

"Bintang."

Setelah itu tak ada lagi percakapan hingga mereka berdua sampai di depan gerbang sekolah yang sudah tertutup rapat.

🏠

Lapangan sekolah sudah dipenuhi barisan rapi ketika mereka tiba di sana. Suara pemimpin upacara menggema, meminta pasukan upacara menurunkan tangan. Bendera merah putih sudah mencapai puncak tiang.

Alfa dan Bintang berjalan mengekor di belakang guru piket. Salman, guru matematika berbadan kurus dan jangkung itu membawa mereka ke sisi lapangan, barisan terpisah dari murid-murid lain, tepat di sebelah barisan guru.

Mereka berdiri sebelahan. Hanya ada mereka. Itu artinya, hanya mereka berdua yang terlambat.

Dari barisan bagian selatan-barisan khusus kelas sebelas-Sinta yang berdiri di depan Bulan, menoleh ke belakang. "Bul, Bintang tuh," ujarnya sambil mengedikkan dagu.

Lihat selengkapnya