Rumah Tanpa Kasih

Luv
Chapter #16

15| Jagad Bulan

"Bin, mau ke kantin nggak?"

Bintang yang sedang memasukkan buku tulisnya menjawab, "Mau."

"Ayo!" Bulan bangkit dari duduknya, dan disusul oleh Bintang.

"Halo, Bulbul!"

Baru satu langkah, Bulan berhenti. Dari ambang pintu, seorang siswa berambut ikal berjalan ke arahnya. Bulan menghela napas berat. Penganggunya sudah datang.

"Mau ke kantin kan? Ayo bareng dan gue traktir, karena gue dapat nilai bagus di ulangan geografi," ajak pemuda itu.

"Ogah! Gue punya uang sendiri," tolak Bulan dengan tegas. "Dan stop panggil gue Bulbul. Nama gue Bulan. B. U. L. A. N."

"Bulbul kan lucu. Anggap aja panggil kesayangan gue ke lo. Sama halnya lo yang manggil gue Sapu Jagad."

"Itu panggilan ngejek, bukan kesayangan."

"Tapi menurut gue, itu panggilan kesayangan kok. Gue seneng lo panggil Sapu Jagad."

Bulan mendengus dan memutar bola matanya, malas. Apasih ni orang, batinnya.

Kedua terus beradu mulut perkara nama panggilan. Sementara Bintang yang tadinya sudah berdiri, bersiap ke kantin, kini memilih kembali duduk dan hanya diam mendengarkan perdebatan dua orang itu. Bulan dan Jagad.

"Udah ya." Bulan kembali menghela napas. Entah sudah ke berapa kalinya. Ia menengok ke Bintang, lalu meraih tangan temannya itu.

Bintang sontak berdiri, kemudian berjalan mengikuti Bulan yang menggandengnya keluar kelas.

"BUL, BULBUL!"

Jagad berlari mengejar. Dua gadis itu masih belum jauh. Ia mengekor di belakang Bulan.

"Bul," panggilnya.

Bulan mendengus kesal. "Berasa ketempelan setan gue," gerutunya.

"Omongannyaaa," keluh Jagad, lalu berjalan di sebelah Bulan. "Enggak boleh ngomong kasar begitu."

Bulan kembali mendengus. Ia mempererat genggaman tangannya pada Bintang dan menariknya untuk berjalan lebih cepat, meninggalkan Jagad, manusia tak tahu malu itu.

"Lan." Bintang berbicara setelah sepanjang jalan hanya diam.

Bulan menoleh, menatap Bintang seolah bertanya, "kenapa?".

Bintang tak menjawab, bibirnya malah terkatup rapat. Ia ragu untuk mengatakan apa yang ada di otaknya.

"Kenapa?" tanya Bulan sedikit menekan pertanyaannya.

Bibir Bintang bergerak ragu, tapi perlahan mulai mengeluarkan suaranya. "Jangan tersinggung ya," pintanya.

Bulan mengerutkan dahinya.

"Tadi ... kata-katamu, apa enggak agak keterlaluan?"

Dahi Bulan makin mengerut, mencerna kata-kata Bintang yang menurutnya agak belibet. Enggak agak?

"Gimana kalau itu ngelukai perasaannya?"

Bulan menghela napas. Ia melepaskan gandengannya pada Bintang. "Dia aja nggak peduli sama perasaanku, buat apa aku peduliin perasaan dia," jawabnya. "Coba deh kalau kamu di posisiku, dikejar-kejar sebar-bar itu padahal udah nolak. Kamu bakal risih nggak?"

Bintang mengangguk pelan. "Risih."

"Nah." Kata itu keluar bersamaan dengan kepala Bulan yang mengangguk sekali. "Risih kan?"

Lihat selengkapnya