Area parkiran mulai lengang, meskipun beberapa siswa masih berlalu-lalang. Deretan motor tersusun rapi, begitupun sepeda-sepeda yang terparkir di seberangnya. Di antara keduanya, ada jalan untuk keluar masuk.
Gamma berdiri di dekat motornya bersama dua temannya. Jagad masih berbicara panjang lebar, sementara Angkasa sesekali menimpali dengan tawa pendek dan candaan.
Gamma hanya mendengarkan dengan senyum kecil. Ia tengah menarik motornya keluar dari barisan saat seseorang berhenti tak jauh dari mereka, tepat di deretan sepeda.
Pandangan mereka sempat bertemu. Tatapan mereka sama-sama datar. Tak lebih dari satu detik. Gamma yang lebih dulu mengalihkan pandangan. Ia kembali fokus pada motornya, menariknya sedikit ke belakang agar lebih leluasa keluar.
Sementara itu, tangan Alfa meraih setang sepeda dan mengeluarkannya dari barisan. Ia mendorong sepedanya ke arah jalur tengah, lalu mengayuhnya dengan santai meninggalkan parkiran.
"Kenal?" tanya Angkasa, mengikuti arah pandang Gamma tadi.
Gamma hanya bergumam tak jelas, lalu memakai helmnya.
"Ya kenal lah," sahut Jagad sambil duduk di jok motornya. "Siapa yang nggak kenal sama si Alfa. Guru-guru aja selalu nyebut dia terus di kelas."
Gamma menyalakan mesin motornya, suara halusnya langsung mengisi jeda yang sempat muncul. Setelah berpamitan, ia menarik gas pelan.
"Hati-hati." seru Jagad dan Angkasa bersamaan.
Gamma mengangguk singkat, lalu melaju keluar parkiran.
Setelah melewati gerbang sekolah, Alfa ternyata belum jauh di depan. Untuk sesaat, jalur mereka hampir sejajar, namun tak ada yang saling menoleh.
Gamma mengembuskan napas pelan sebelum memusatkan perhatian ke jalan di depannya. Sementara itu, Alfa mengayuh sepedanya lebih sedikit lebih cepat.
🏠
Alfa membelokkan sepedanya ke gang sisi kirinya, meninggalkan keramaian jalan utama. Sore itu matahari sudah condong ke barat, tetapi udara masih cukup terik karena musim kemarau. Deretan toko berjajar di sepanjang gang, dan di antaranya terdapat sebuah toko buku bekas yang menjadi tujuannya.
Ia memperlambat kayuhannya di depan sebuah toko buku bekas.
Bangunannya tidak besar. Cat bangunannya terlihat bagus, tapi papan nama yang menggantung di atas pintu tampak kusam dimakan usia.
Alfa memarkirkan sepedanya di depan toko, lalu masuk. Aroma khas kertas lama menyambutnya. Rak-rak kayu memenuhi ruangan sempit itu, dipadati buku dengan ukuran dan warna cover yang beragam. Seorang pria paruh baya duduk di balik meja kasir sambil membaca koran.
"Sore, Pak. Ada buku kumpulan soal OSN matematika SMA?"
Pria paruh baya di balik meja itu mengangkat kepala dari koran yang sedang dibacanya. "Saya carikan duku ya," ucapnya sambil berdiri.
Lalu pria itu mencari di antara rak-rak di belakang kursinya. Sementara itu, Alfa berbalik badan, melangkah pelan menuju meja penuh tumpukan buku. Sebagian besar adalah buku pelajaran bekas, meski sesekali terselip novel dan majalah lama di antaranya.
Jemarinya menyentuh setiap buku paling atas dari tumpukan-tumpukan itu. Sesekali ia mengangkat satu buku untuk melihat judul yang tertutup tumpukan lain. Ia membalik beberapa halaman pertama, membaca sekilas isinya, lalu mengembalikannya ke tempat semula.
"Nak, ada dua."
Suara itu mengalihkan perhatian Alfa. Ia menoleh lalu menghampiri Pak Darman.
"Mau yang mana?"
"Saya lihat isinya dulu, Pak."
Pak Darman mengangguk, kemudian menyerahkan dua buku di tangannya.
Alfa mengecek dua buku itu secara bergantian. Setelah sepuluh menit berlalu, ia bersuara.
"Kalau semua berapa, Pak?"
"Lima puluh ribu aja."