Rumah Tanpa Kasih

Luv
Chapter #19

18| Instagram Story

Selasa sore, perpustakaan sekolah sudah sepi karena jam sekolah telah usai.

Bintang melangkah pelan masuk ke perpustakaan. Ia ingin meminjam beberapa novel.

Ruangan itu lenggang, menampakkan banyak kursi-kursi kosong dan meja yang tertata rapi. Hanya ada dua orang di antara banyaknya kursi. Salah satu di antaranya duduk di meja dekat jendela. Seseorang yang ia kenal.

Langkah Bintang berhenti tepat di tengah antara meja dan rak buku. Tatapan jatuh pada orang itu. Entah kenapa, orang itu selalu menarik perhatiannya sejak pertama kali ia melihatnya.

Cahaya sore yang masuk dari jendela jatuh tepat di sebelah laki-laki itu. Membuat rambut hitam yang tertata rapi dengan gaya site part itu tampak sedikit berkilau kekuningan. Wajahnya tampak serius membaca buku di atas meja sambil memegang sebuah pulpen.

Bisa-bisanya waktu itu aku ngira dia hantu, batinnya.

"Permisi."

Bintang langsung mengalihkan pandangannya, kemudian bergeser memberi jalan ke orang yang sebelum duduk di salah satu kursi.

Setelah itu, ia mengalihkan fokusnya ke rak buku di dekatnya. Membaca judul-judul yang ada di punggung buku yang berjejer rapi. Namun beberapa detik kemudian, matanya kembali melirik ke arah Alfa.

Pemuda itu tampak tenggelam dalam buku yang sedang dibacanya. Sesekali ia menulis sesuatu di buku catatan sebelum kembali membalik halaman.

Sepertinya ia tidak menyadari keberadaan Bintang di ruangan itu. Entah kenapa, hal itu justru membuat Bintang merasa lega.

Bintang menghela napas pelan, lalu melangkah ke rak khusus novel dan mulai mencari cerita yang menarik untuk ia baca.

Sementara itu, seorang guru laki-laki berbadan gempal menghampiri Alfa dengan sebuah buku paket tebal di tangan.

"Alfa," panggil guru itu. "Pakai buku ini juga untuk belajar," imbuhnya sembari meletakkan buku matematika di meja Alfa.

Alfa mengangguk ringan. "Baik Pak."

Setelah itu, sang guru duduk di seberang dan mulai bimbingan. Ia menjelaskan dengan tegas tapi suaranya pelan, menyesuaikan tempat di mana ia mengajar.

"Jangan pakai rumus itu," katanya. "Ada rumus cepat."

Sang guru mengambil pulpen dari saku kemeja putihnya, lalu menuliskan sebuah rumus di kertas HVS yang ia bawa. Ia menjelaskan dengan detail langkah-langkah pengerjaan rumus cepat yang ia sebut itu.

Sementara Alfa memperhatikan dengan seksama penjelasan sang guru, pandangannya fokus pada kertas di tengah meja.

Di sisi lain, Gamma dan teman-temannya sibuk berlatih basket di lapangan. Di pinggir lapangan, pelatih mereka berdiri sambil sesekali berseru menyemangati. Tak jauh dari sana, guru PJOK sekaligus pembina ekskul basket mereka duduk mengamati jalannya latihan.

"Istirahat sepuluh menit!" seru sang pelatih.

Gamma langsung menjatuhkan diri pinggir lapangan. Kaosnya basah dengan keringat. Ia mengambil botol minumnya dan meneguknya hingga habis setengah.

"Kaki gue rasanya mau copot," keluh Jagad yang duduk di sebelah Gamma.

"Makanya pemanasan yang bener."

"Udah bener!" sahut Jagad dengan nada sedikit keras.

"Santai aja kali."

"Eh, kalian mau kuliah di mana?" tanya teman mereka yang lain.

"Masih lama kali," sahut Jagad.

"Nggak juga. Tahun depan udah kelas dua belas," timpal temannya yang berambut buzz cut tadi, Seno.

Lihat selengkapnya