Dua hari berlalu dengan cepat. DM Gamma belum juga dibalas Bintang. Ia pun tidak mencoba mengirim pesan lagi. Bukan karena lupa, tapi latihan basket dan pertandingan yang sudah dimulai sangat menyita perhatiannya.
Tanpa terasa, seminggu pun berlalu sejak percakapan terakhir mereka. Kesibukan membuatnya tak lagi sempat memikirkan DM itu, setidaknya sampai ia melihat gadis itu bersama Alfa, kembarannya. Mereka berdua berjalan beriringan dan sesekali mengobrol.
Mereka saling kenal?
Gamma menatap keduanya cukup lama, memperhatikan mereka yang terlihat cukup akrab. Ini pertama kalinya ia melihat Alfa cukup dekat dengan seseorang di sekolah, apalagi seorang perempuan.
"Gam," seruan itu mengalihkan pandangannya, "ayo!"
Ia berlari menuju kendaraan yang sudah menunggu di depan gerbang sekolah. Sebelum masuk, ia menyempatkan membuka resleting jaket basketnya. Setelah semua siswa masuk, minibus merah itu melaju meninggalkan sekolah.
Tak jauh dari sana, Alfa dan Bintang berjalan beriringan sambil mengobrol ringan. Keduanya memang tidak sedekat itu sebelumnya. Pertemuan mereka lebih sering terjadi secara kebetulan, sampai beberapa hari lalu mereka kembali bertemu secara kebetulan. Saat itu, Bintang yang duduk di meja paling ujung perpustakaan, terlihat sangat frustrasi dengan soal-soal matematikanya. Alfa menghampirinya, lalu tanpa basa-basi menawari bantuan. Tentu, awalnya Bintang ragu dan hendak menolak. Tapi akhirnya ia iyakan tawaran itu. Setelah itu, mereka jadi lebih sering bertemu setiap jam istirahat di perpustakaan. Dari percakapan singkat soal pelajaran, obrolan mereka perlahan melebar ke hal-hal lain.
"Tugas yang waktu itu udah selesai?"
"Udah. Ternyata lebih gampang dan cepat setelah pakai rumus yang kamu jelasin."
Alfa tersenyum singkat lalu bertanya. "Lain kali kalau ada yang enggak ngerti lagi, tanya aja."
Bintang mengangguk. "Iya."
Mereka terus berjalan beberapa langkah dalam diam. Bintang sesekali menunduk, sementara Alfa tampak tidak keberatan dengan suasana hening di antara mereka.
"Kamu suka baca novel kan?" tanya Alfa memecah keheningan dan dijawab dengan anggukan oleh Bintang. "Pasti punya banyak koleksi," sambungnya.
"Lumayan," jawabnya. "Dulu cukup sering beli, tapi empat tahun terakhir jarang beli. Harga novel sekarang mahal-mahal. Jadi aku lebih sering pinjam di perpustakaan."
Alfa sempat tidak mengatakan apa-apa selama beberapa saat, sebelum akhirnya ia kembali melontarkan pertanyaan. "Kamu enggak tertarik beli buku preloved?"
"Mm, sebenarnya aku belum kepikiran untuk beli preloved," balasnya. "Kamu ... mau nawarin buku preloved-mu ke aku?" tambahnya tanpa pikir panjang.
Alfa tertawa kecil. "Enggak," jawabnya. "Aku punya toko buku bekas langganan. Banyak novel ori preloved yang dijual di sana. Mungkin kamu tertarik."
Bintang ber-o ria, kemudian menunduk malu. Bisa-bisanya langsung nyeplos begitu, batinnya.
"Kamu ... mau bareng?" tawar Alfa saat langkah mereka sudah dekat tempat parkir siswa.
Bintang langsung mendongak dan menggeleng.
"Kalau lain kali ke toko buku yang kuomongin tadi ... mau?" tanya pemuda itu dengan tatapan yang menurut Bintang cukup intens.
Bintang cukup lama terdiam, hingga akhirnya mengangguk singkat. "Aku, duluan." Setelah itu, tanpa menunggu balasan Alfa, ia berbalik badan dan menjauh dengan langkah pelan meskipun sebenarnya ingin berlari.
Begitu jaraknya cukup jauh dari Alfa, Bintang akhirnya mengembuskan napas yang sejak tadi tanpa sadar ia tahan. Ajakan tadi kembali terlintas di kepalanya.
Ini pertama kalinya ada seorang laki-laki yang mengajaknya pergi berdua. Bahkan, baru kali ini juga ia merasa sedekat itu dengan seorang laki-laki.
Bintang menunduk, berusaha mengabaikan rasa gugup yang muncul. Entah kenapa, wajahnya mulai terasa hangat. Sambil menggenggam kedua tali tas punggungnya, ia mempercepat langkah.
Ia terus berjalan hingga tiba di gerbang sekolah. Ia mengeluarkan ponselnya untuk melihat jam sebelum kembali memasukkannya ke dalam tas.
Ajakan Alfa tadi masih terlintas di kepalanya. Ia belum tahu harus bersikap seperti apa nanti, tetapi setidaknya ia sudah menyanggupi ajakan itu.
Sementara itu, Gamma yang sedang menuju GOR tanding dengan minibus sekolah, mengeluarkan ponselnya. Chat percakapannya dengan Bintang masih berada di sana, tanpa balasan.
"Kenapa, Gam?" tanya salah seorang teman yang duduk bangku seberangnya.