Rumah Tanpa Pagar

Bilsyah Ifaq
Chapter #2

Langkah yang Beradu

Lampu neon di ruang tengah Panti Harapan Abadi berkedip tidak stabil, mengirimkan bunyi berdengung yang menusuk telinga Arga. Ia menatap tumpukan tagihan berwarna merah di atas meja kayu yang sudah lapuk dimakan rayap. Jemarinya terus memutar-mutar koin logam, sebuah kebiasaan lama setiap kali pikirannya buntu mencari jalan keluar dari himpitan ekonomi yang mencekik.

Arga berdiri dan melangkah menuju jendela, melihat adik-adiknya yang sedang tertidur lelap di atas kasur tipis. "Pokoknya, jangan sampai ada yang gelap-gelapan lagi besok," bisiknya pelan dengan nada bicara yang rendah namun penuh penekanan. Ia selalu menggunakan diksi yang tegas seolah-olah sedang memberi perintah pada nasib buruk agar segera menjauh dari rumah itu.

Keputusannya sudah bulat untuk mendatangi gudang pelabuhan di ujung kota malam ini juga demi mencari kerja serabutan. Meski tubuhnya masih terasa remuk setelah seharian mengangkut beras, Arga lebih memilih menghancurkan ototnya sendiri daripada melihat tangis anak-anak panti. Baginya, rasa sakit fisik jauh lebih mudah diobati dibandingkan rasa malu karena gagal menjaga tempat bernaung mereka.

Di bawah remang cahaya jalan, ia menghitung sisa uang di saku yang hanya cukup untuk membeli beberapa liter beras dan lilin darurat. Langkah kakinya sengaja dipercepat, menghindari tatapan iba dari tetangga yang mungkin tahu bahwa panti mereka sedang di ambang kebangkrutan. Arga tidak butuh belas kasihan yang hanya bertahan sehari; ia butuh fondasi yang kokoh agar atap panti tidak roboh.

Sesampainya di dermaga, bau garam dan solar menyambut hidungnya, membangkitkan tekad yang sempat goyah oleh rasa lelah yang luar biasa. Ia mendekati mandor kapal penangkap ikan, menawarkan tenaga kasarnya dengan upah yang bahkan di bawah standar minimum pasar. Arga tidak peduli pada harga diri yang terkikis, selama adik-adiknya bisa tetap bersekolah dan memiliki lampu untuk belajar di malam hari.

Setiap beban karung yang mendarat di bahunya terasa seperti tanggung jawab besar yang harus ia pikul demi masa depan Harapan Abadi. Keringat bercampur debu pelabuhan membasahi kaosnya yang sudah bolong di beberapa bagian, namun matanya tetap tajam menatap setiap peluang koin tambahan. Ia terus bergerak tanpa henti, mengabaikan denyut nyeri di punggungnya yang seakan berteriak minta segera diistirahatkan.

Namun, saat ia sedang asyik bekerja, seorang pria asing berpakaian rapi muncul dari balik bayang-bayang kontainer dan memanggil namanya dengan suara dingin. Pria itu memegang dokumen berlogo bank yang sama dengan surat penyitaan yang selama ini Arga sembunyikan di bawah bantalnya. Arga membeku, menyadari bahwa perjuangan fisiknya mungkin tidak akan pernah cukup untuk melawan kekuatan kertas yang bisa menghapus rumah mereka dalam sekejap.

Ujung jari Arga yang kasar menyentuh permukaan kaca etalase yang dingin dan sedikit berdebu. Di balik lapisan bening itu, sebuah kertas buram berisi lowongan kerja tertempel miring, seolah-olah hampir menyerah pada gravitasi. Arga menatap tulisan tangan yang memudar itu dengan saksama, mencoba menghitung peluang yang tersisa di dalam kantongnya yang kian menipis.

"Cari kerja, Dek?" Suara parau seorang pria paruh baya memecah keheningan pagi dari balik meja kayu yang tinggi. Arga tersentak kecil, lalu segera mengangguk cepat sambil jemarinya secara refleks merapikan kerah kemeja birunya yang sudah mulai pudar warnanya. Ia memaksakan sebuah senyum sopan, meski perutnya mulai memberikan protes kecil yang hanya bisa ia dengar sendiri.

Pria itu memperhatikannya dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan tatapan yang sulit diartikan, sementara Arga tetap berdiri tegak demi menjaga martabat panti yang ia bawa. "Apa saja, Pak. Saya bisa angkat-angkat barang atau bersih-bersih gudang," ucap Arga dengan nada bicara yang ditekan agar tetap stabil dan tidak menunjukkan keputusasaan yang sedang membakar batinnya saat ini.

Arga tahu benar bahwa setiap detik yang terbuang berarti satu porsi makan siang yang terancam hilang bagi adik-adiknya di Harapan Abadi. Ia butuh kepastian pekerjaan apa saja sebelum matahari benar-benar naik tinggi dan memanggang aspal jalanan. Baginya, rasa lelah adalah kemewahan yang tidak bisa ia beli, sebab rumah tanpa pagar itu sedang menggantungkan seluruh napasnya pada pundak ringkihnya.

Tanpa banyak bicara lagi, pria itu memberikan isyarat agar Arga masuk ke dalam area gudang yang beraroma kayu tua dan pengap. Arga melangkah masuk dengan mantap, meski hatinya berbisik bahwa ini barulah awal dari perjuangan panjang yang harus ia tempuh demi menjaga atap tempat mereka berteduh. Di sudut matanya, ia melihat tumpukan peti berat yang menantinya untuk segera dipindahkan ke dalam truk yang siap berangkat.

Sambil mengangkat peti pertama, Arga membayangkan wajah-wajah ceria anak-anak panti yang menantinya pulang dengan kabar baik sore nanti. Keringat mulai menetes di pelipisnya, namun ia justru mempercepat gerakannya seolah rasa sakit di ototnya adalah bahan bakar baru. Ia bersumpah dalam hati bahwa tidak akan membiarkan pintu panti itu disegel hanya karena ia gagal membawa pulang beberapa lembar rupiah hari ini.

Arga memandangi tumpukan piring yang menjulang seperti menara rapuh di sudut wastafel yang berminyak. Aroma sisa lemak dan sisa kopi yang menguap di udara lembap kedai itu membuat perutnya yang kempis terasa diremas-remas. Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan gemuruh di lambungnya yang sudah tidak diisi sejak kemarin sore demi menyisihkan jatah makan untuk si kecil Rian di panti.

"Cepat sedikit, jangan cuma melamun di situ kalau mau dibayar hari ini," gerutu Pak Darma, pemilik kedai yang wajahnya selalu ditekuk seperti kertas kusut. Arga tidak menjawab, hanya mengangguk pelan sambil menyelipkan helaian rambut yang jatuh ke dahinya. Ia memiliki kebiasaan unik, yaitu mengetukkan jari telunjuknya tiga kali ke pinggiran wastafel sebelum memulai pekerjaan apa pun sebagai tanda kesiapan mental.

"Beres, Pak. Semua akan kinclong sebelum pelanggan malam datang," sahut Arga dengan nada bicara yang cepat dan ritmik, sebuah ciri khas yang muncul setiap kali ia merasa terdesak atau gugup. Tangannya yang kasar mulai meraih spons kuning yang sudah menipis, membenamkannya ke dalam air sabun yang berbusa sedikit. Ia tahu betul, setiap butir keringat yang jatuh di sini adalah napas tambahan bagi panti asuhan Harapan Abadi yang sedang diujung tanduk.

Denting keramik yang beradu dengan logam wastafel mulai meramaikan suasana dapur yang sempit itu, menciptakan irama monoton yang justru menenangkan pikiran Arga. Di tengah uap air panas, ia membayangkan wajah Ibu Pengasuh yang sedang kebingungan mencari cara melunasi tunggakan listrik bulan ini. Arga selalu mengambil keputusan berdasarkan prinsip bahwa tidak ada pengorbanan yang terlalu besar jika itu menyangkut rumah satu-satunya yang ia miliki.

Tiba-tiba, suara pintu dapur yang dibanting keras mengejutkannya hingga sebuah piring hampir saja terlepas dari tangan Arga yang licin. Seorang pria berpakaian rapi dengan tas jinjing kulit hitam masuk tanpa permisi, membuat Pak Darma seketika berdiri tegak dengan wajah pucat pasi. Arga memperlambat gerakannya, telinganya menajam untuk menangkap setiap kata yang terlontar di antara kedua orang dewasa yang tampak tegang itu.

"Waktumu habis, Darma. Tanah ini sudah pindah tangan, termasuk bangunan panti di sebelah itu," ucap pria asing itu dengan nada dingin yang menusuk tulang. Arga membeku, tangannya yang masih terendam air sabun mulai gemetar hebat sementara jantungnya berdegup kencang melawan rusuknya. Informasi itu menghantamnya lebih keras daripada rasa lapar yang sejak tadi menyiksanya tanpa ampun di tengah kesunyian dapur.

"Maksud Bapak apa? Panti Harapan Abadi tidak boleh digusur, itu rumah kami!" teriak Arga tanpa sadar, melupakan posisinya yang hanya seorang tukang cuci piring harian. Ia melangkah maju dengan busa sabun yang masih menempel di lengan bajunya yang digulung asal-asalan, matanya menyala penuh amarah dan ketakutan. Pak Darma mencoba menahannya, namun Arga sudah tidak peduli lagi pada sopan santun atau upahnya.

Pria berpakaian rapi itu menoleh ke arah Arga dengan tatapan meremehkan, seolah-olah Arga hanyalah debu yang mengganggu pemandangan matanya. "Rumah? Anak muda, tempat itu sudah dijual oleh yayasan pusatmu sendiri sejak sebulan yang lalu," katanya sambil melemparkan selembar dokumen ke atas meja kayu yang basah. Arga merasa dunianya seakan runtuh seketika, sebuah pengkhianatan yang tidak pernah ia duga sebelumnya dari orang-orang yang ia percayai.

Darah Arga mendidih saat ia menyadari bahwa selama ini perjuangannya mengumpulkan receh demi receh ternyata dikhianati oleh sistem yang seharusnya melindungi mereka. Ia mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga kukunya memutih, merasakan dorongan untuk menghancurkan apa saja yang ada di depannya demi meluapkan rasa sesak yang menghimpit dada. Ternyata, musuh yang ia hadapi bukanlah kemiskinan, melainkan keserakahan yang memakai topeng kepedulian.

"Kalian tidak bisa melakukan ini secara sepihak, kami punya hak untuk tetap tinggal di sana!" Arga kembali bersuara, suaranya kini lebih rendah namun bergetar dengan intensitas yang menakutkan. Pria itu hanya tertawa sinis, menunjukkan sebuah tanda tangan di atas materai yang sangat dikenal Arga sebagai tulisan tangan ketua yayasan mereka sendiri. Pengkhianatan itu terasa seperti belati yang diputar di dalam luka yang masih sangat basah.

Suasana dapur menjadi sangat mencekam, hanya suara air keran yang lupa dimatikan Arga yang terus mengalir membuang percuma sumber daya yang berharga. Pak Darma hanya tertunduk lesu, tidak berani membela karyawannya karena ia sendiri berada di bawah ancaman pengusiran yang sama dari lahan komersial tersebut. Arga merasa sendirian di tengah badai, namun api di matanya tidak menunjukkan tanda-tanda akan padam dalam waktu dekat.

Ia menatap sisa piring kotor di wastafel, lalu beralih menatap pria di hadapannya dengan keputusan bulat yang sudah mengkristal di dalam benaknya yang kacau. Arga tidak akan membiarkan adik-adiknya menggelandang di jalanan hanya karena tanda tangan di atas kertas yang tidak berperasaan itu. Ia tahu ia harus melakukan sesuatu yang drastis, sesuatu yang mungkin akan mengubah hidupnya selamanya demi menjaga keutuhan keluarga panti.

Tanpa peringatan, Arga menyambar dokumen di atas meja dan merobeknya menjadi dua bagian besar sebelum siapa pun sempat bereaksi untuk mencegah tindakannya yang nekat. "Jika kalian ingin meratakan panti kami, kalian harus melangkahi mayatku terlebih dahulu," tantangnya dengan suara yang menggelegar di seluruh ruangan kedai yang mendadak hening. Kini, perang yang sesungguhnya telah dimulai dan Arga tidak punya rencana untuk mundur satu langkah pun dari garis depan.

Debu pengap dari tumpukan kain tua menusuk hidung Arga saat ia menyeret gulungan karpet beludru merah itu ke sudut gudang yang remang-remang. Beban serat wol yang tebal itu menekan bahunya dengan keras, membuat tulang selangkanya seolah berderit di bawah tekanan yang tak kenal ampun. Setiap langkah yang ia ambil terasa seperti perjuangan melawan gravitasi yang berusaha merobohkan tubuh kurusnya ke lantai semen yang dingin dan kotor.

Keringat mulai mengalir deras dari pelipisnya, menciptakan jalur basah di tengah lapisan debu yang menempel di wajahnya yang kuyu. Tangannya yang kasar mencengkeram erat tepian karpet, memastikan kain mahal itu tidak menyentuh lantai yang kasar. Arga terus menggumamkan hitungan dalam hati, sebuah ritual kecil yang selalu ia lakukan setiap kali bebannya terasa hampir mustahil untuk dipikul sendirian di tempat kerja itu.

"Jangan sampai lecet sedikit pun, Arga! Satu goresan saja berarti upahmu bulan ini hangus untuk ganti rugi!" teriak mandor toko dengan suara parau yang memantul di dinding gudang yang sempit. Arga tidak menyahut, ia hanya mengatupkan rahangnya begitu rapat hingga giginya terasa ngilu. Ia tahu betul bahwa satu kesalahan kecil di sini akan menghancurkan seluruh rencana yang sudah ia susun dengan sangat teliti sejak awal minggu.

Di sela napasnya yang memburu, Arga memejamkan mata sejenak dan memanggil bayangan wajah Sinta yang sedang tertunduk lesu karena buku tulisnya sudah habis tak bersisa. Ia bisa melihat dengan jelas bagaimana adik kecilnya di panti asuhan itu mencoba menyambung sisa-sisa kertas hanya untuk mengerjakan tugas sekolah. Bayangan itulah yang menjadi bahan bakar bagi otot-ototnya yang mulai gemetar hebat karena kelelahan yang luar biasa.

Rasa perih yang menusuk di bahu kirinya mendadak terasa jauh lebih ringan dibandingkan rasa takut yang menghantui batinnya jika ia gagal membawa pulang uang malam ini. Baginya, Harapan Abadi bukan sekadar gedung tua dengan atap bocor, melainkan satu-satunya tempat di dunia ini di mana ia merasa benar-benar diinginkan dan memiliki arti. Ia bersumpah dalam hati tidak akan membiarkan satu pun dari adik-adiknya merasa terlantar selama ia masih bernapas.

Tiba-tiba, suara retakan kayu terdengar dari bawah kakinya, membuat Arga terperanjat dan hampir kehilangan keseimbangan di ambang pintu gudang yang licin. Jika ia terjatuh sekarang, bukan hanya karpet ini yang rusak, tapi harapan untuk membeli obat batuk Ibu panti juga akan sirna seketika. Dengan sisa tenaga yang ada, ia menghentakkan kakinya kuat-kuat, menstabilkan posisi tubuhnya sembari terus menatap lurus ke depan dengan tatapan yang penuh tekad.

Arga akhirnya berhasil meletakkan gulungan berat itu di atas rak kayu dengan suara dentuman halus yang menandakan tugasnya telah selesai dengan sempurna tanpa cacat. Ia menyeka keringat di dahinya dengan lengan baju yang sudah basah kuyup, lalu merogoh saku celananya untuk memastikan daftar belanjaan panti masih ada di sana. Meskipun tubuhnya remuk, senyum tipis tersungging di bibirnya saat ia membayangkan tawa riang anak-anak panti saat melihatnya pulang nanti.

Debu jalanan menempel di ujung hidung Arga, bercampur dengan keringat yang mengering menjadi kerak putih di pelipisnya. Ia menyandarkan punggungnya pada tiang listrik yang terasa panas menyengat kulit. Tangannya yang kasar terus meremas ujung kaos yang sudah memudar warnanya, sebuah kebiasaan kecil yang selalu ia lakukan setiap kali rasa cemas mulai merayapi dadanya yang sempit.

Di sampingnya, seorang wanita paruh baya dengan daster bunga-bunga sedang mengipasi diri menggunakan potongan kardus bekas. Wanita itu memperhatikannya sejak tadi, melihat bagaimana Arga menghitung recehan di telapak tangannya dengan ketelitian seorang bankir. "Kamu masih sekolah, Nak?" tanya ibu itu dengan suara serak yang memecah keheningan siang yang gersang di pinggir jalan itu.

Arga tidak langsung menjawab, melainkan menggeleng pelan sambil menyapu debu yang menumpuk di lipatan celana jinsnya yang sudah bolong di bagian lutut. "Saya fokus cari uang dulu, Bu," jawabnya dengan nada bicara yang datar dan ritme yang cepat, seolah ingin segera mengakhiri percakapan itu sebelum emosinya meluap. Ia tidak ingin dikasihani oleh siapa pun di dunia ini.

Wanita itu terdiam sejenak, lalu merogoh tas belanjanya yang tampak berat dan mengeluarkan sebungkus biskuit gandum yang masih tersegel rapat. Tanpa banyak bicara, ia menyodorkan biskuit itu ke depan wajah Arga yang kusam. Kebaikan kecil yang tidak terduga itu membuat tenggorokan Arga terasa tercekat hebat, seolah ada gumpalan pasir yang menyumbat saluran napasnya saat itu juga.

Arga menerima biskuit itu dengan tangan gemetar, merasakan tekstur plastiknya yang dingin di bawah terik matahari yang membakar ubun-ubun. Ia menyadari bahwa dunia ternyata tidak sepenuhnya dingin bagi mereka yang terus berjuang tanpa henti. Namun, kehangatan itu segera sirna ketika sebuah mobil hitam mewah berhenti mendadak tepat di depan panti asuhan Harapan Abadi yang letaknya tak jauh dari sana.

Seorang pria berpakaian rapi turun dari mobil tersebut, membawa map plastik berwarna biru tua yang terlihat sangat mengintimidasi di mata Arga. Pria itu menunjuk-nunjuk papan nama panti asuhan yang sudah miring dengan tatapan penuh penghinaan dan jijik. Arga segera berdiri tegak, mengepalkan tinjunya hingga buku-buku jarinya memutih, merasakan firasat buruk yang mulai membakar seluruh isi kepalanya.

"Tempat ini sudah habis masa kontraknya, dan kalian harus segera mengosongkan lahan ini dalam waktu tiga hari ke depan," ucap pria itu dengan suara yang menggelegar. Kalimat itu menghantam dada Arga lebih keras daripada rasa lapar yang ia tahan sejak pagi tadi. Ia tidak bisa membiarkan satu-satunya tempat yang ia sebut sebagai rumah bagi adik-adiknya dihancurkan begitu saja oleh orang asing.

Arga melangkah maju, menghalangi jalan pria itu dengan keberanian yang dipaksakan muncul dari sisa-sisa harga dirinya yang terluka. "Panti ini bukan sekadar bangunan tua, Pak, ini adalah hidup kami!" teriak Arga dengan suara yang bergetar karena emosi yang meluap-luap. Ia tahu bahwa perlawanan ini mungkin sia-sia, namun menyerah bukanlah pilihan bagi seorang kakak yang telah berjanji menjaga keluarganya.

Pria itu hanya tertawa sinis, menunjukkan selembar kertas bermaterai yang menyatakan bahwa pemilik sah lahan tersebut telah menjualnya kepada pengembang apartemen. Arga merasa dunianya runtuh seketika saat melihat tanda tangan di bawah kertas itu adalah milik seseorang yang selama ini ia percayai. Pengkhianatan itu terasa lebih menyakitkan daripada kenyataan bahwa mereka akan segera kehilangan tempat tinggal mereka.

Ternyata, pengelola panti yang selama ini Arga anggap sebagai sosok ayah telah menjual masa depan anak-anak itu demi kepentingan pribadinya sendiri. Arga menoleh ke arah jendela panti, melihat wajah-wajah polos adik-adiknya yang sedang mengintip dengan penuh ketakutan dari balik tirai yang robek. Kemarahan yang dingin mulai membeku di dalam hatinya, menggantikan rasa sedih yang sempat singgah sejenak tadi.

Lihat selengkapnya