Arga memilin ujung kemejanya yang mulai menipis, sebuah kebiasaan kecil yang selalu muncul saat ia menatap tumpukan kertas kusam di atas meja kayu yang sudah goyah. Di depannya, surat peringatan dari bank berserakan dengan angka-angka berwarna merah yang seakan berteriak menuntut haknya segera dilunasi.
"Kita telat lagi bulan ini, ya?" gumamnya dengan suara parau yang tertelan riuh hujan di luar sana. Setiap helai kertas itu bukan sekadar angka, melainkan ancaman nyata bagi atap yang menaungi dua puluh nyawa kecil yang kini tengah tertidur di kamar sebelah tanpa tahu badai apa yang sedang mendekat.
Ia melangkah menuju dapur, mendapati keran air yang terus menetes karena katupnya sudah lama aus dan mustahil diperbaiki tanpa biaya tambahan. Arga menarik napas panjang, mencoba meredam gemuruh di dadanya yang terasa jauh lebih sesak daripada ruang makan sempit yang mulai lembap ini.
Di sudut ruangan, tampak Bimo, salah satu anak tertua di panti, sedang berusaha menambal ember pecah dengan sisa lem seadanya agar mereka tetap bisa menampung air hujan. Arga mendekat, menepuk bahu anak itu dengan sapaan khasnya, "Jangan terlalu kencang menekannya, Bim, nanti malah hati kamu yang ikut retak kalau gagal."
Bimo hanya mendongak sekilas, matanya menyiratkan kelelahan yang seharusnya tidak dimiliki anak seusianya, namun ia tetap memaksakan sebuah senyum tipis untuk kakaknya. Arga tahu betul bahwa semangat adik-adiknya adalah satu-satunya bahan bakar yang membuatnya tetap berdiri meski lututnya sudah gemetar karena beban cicilan.
Tiba-tiba, suara deru mobil mewah memecah kesunyian malam, berhenti tepat di depan gerbang panti yang karatan, membawa seseorang yang sudah lama Arga hindari. Pria itu keluar dengan payung hitam besar, melangkah angkuh melewati genangan air menuju pintu yang kayunya sudah mulai lapuk dimakan usia dan rayap.
Ternyata itu adalah paman Arga, satu-satunya kerabat darah yang tersisa, yang datang bukan untuk memberi bantuan melainkan membawa akta tanah yang sudah dipalsukan tanda tangannya. Arga mematung melihat dokumen itu, menyadari bahwa pengkhianatan ini datang dari orang yang selama ini ia anggap sebagai pelindung hukum panti.
Dengan tangan bergetar, Arga merobek surat peringatan bank tadi di depan wajah pamannya, sebuah keputusan nekat yang menandai titik balik perjuangannya malam itu. Ia bersumpah dalam hati bahwa siapapun yang mencoba meruntuhkan Harapan Abadi harus melangkahi mayatnya terlebih dahulu sebelum menyentuh mimpi adik-adiknya.
Bunyi kaleng biskuit karatan yang dipukul tetesan air hujan memecah kesunyian malam di asrama laki-laki. Arga memanjat lemari kayu yang sudah mulai lapuk, jemarinya meraba permukaan kayu yang kasar untuk menyeimbangkan tubuh. Ia harus menaruh wadah plastik di bawah plafon yang kini melengkung karena beban air. Setiap tetesan yang jatuh terdengar seperti detak jam yang menghitung sisa umur bangunan tua panti asuhan Harapan Abadi.
Rian terbangun dari tidurnya yang gelisah, matanya merah karena rasa kantuk yang terganggu oleh suara bising itu. Tubuh kecilnya meringkuk di atas kasur tipis yang sudah kehilangan sisa pegasnya. "Kak, basah lagi ya?" tanyanya dengan suara serak yang hampir tenggelam oleh deru angin di luar. Arga tidak langsung menjawab, ia hanya fokus memastikan wadah itu tidak akan bergeser saat angin kencang menerjang atap.
Arga mengangguk kecil sebagai jawaban, sebuah kebiasaan yang ia lakukan untuk menghemat tenaga di tengah kelelahan yang luar biasa. Ia turun dari lemari dengan gerakan perlahan agar tidak menimbulkan decit lantai kayu yang bisa membangunkan anak-anak lainnya. Tangannya yang kasar segera meraih ujung kasur Rian, menggesernya menjauh dari rembesan air yang mulai membentuk genangan kecil di lantai semen yang retak.
Malam terasa jauh lebih dingin dari biasanya karena atap seng panti asuhan seolah-olah mulai menyerah pada tekanan alam. Arga bisa merasakan hembusan angin yang menyelinap masuk melalui celah-celah dinding kayu yang sudah tidak rapat lagi. Ia menarik selimut lusuh milik Rian sampai ke dada anak itu, berusaha memberikan sedikit kehangatan di tengah badai yang seakan ingin meruntuhkan satu-satunya tempat yang mereka sebut rumah.
Di sudut ruangan, Arga berdiri mematung sambil menatap langit-langit yang semakin menghitam karena jamur dan kelembapan yang parah. Pikirannya melayang pada tagihan perbaikan yang belum sempat terbayar dan stok beras yang kian menipis di dapur. Ia tahu bahwa ia bukan sekadar kakak bagi anak-anak di sini, melainkan benteng terakhir yang menjaga agar mimpi-mimpi mereka tidak ikut hanyut terbawa banjir.
Keesokan paginya, suasana panti tidak menjadi lebih baik ketika Arga menemukan sepucuk surat resmi di bawah pintu depan. Kertas itu berlogo lembaga keuangan dengan tulisan merah yang mencolok di bagian atasnya, menyatakan bahwa lahan panti akan segera disita. Jantung Arga berdegup kencang, tangannya gemetar saat ia meremas kertas itu kuat-kuat hingga buku-buku jarinya memutih karena menahan emosi yang meluap.
"Kita tidak akan pergi dari sini, aku bersumpah," bisik Arga pada bayangannya sendiri di kaca jendela yang buram. Ia memiliki ritual unik setiap kali merasa tertekan, yaitu menggosok bekas luka di telapak tangan kirinya dengan ibu jari secara berulang. Baginya, rasa perih yang timbul dari gesekan itu adalah pengingat bahwa rasa sakit adalah bahan bakar terbaik untuk tetap bertahan hidup dan berjuang.
Siang harinya, Arga menemui Ibu Sari, pengelola panti yang sudah mulai sering sakit-sakitan belakangan ini. Ibu Sari tampak sedang memijat pelipisnya sambil menatap buku catatan keuangan yang penuh dengan angka-angka berwarna merah. Arga duduk di hadapannya, mencoba mengatur napas agar suaranya terdengar stabil dan meyakinkan meskipun di dalam batinnya ia merasa sangat hancur.
"Bu, saya akan mencari kerja tambahan di pasar malam mulai nanti sore," ucap Arga dengan nada bicara yang cepat dan tegas. Ia selalu menggunakan kalimat pendek saat sedang membuat keputusan besar yang tidak ingin diperdebatkan oleh siapa pun. Ibu Sari mendongak, matanya yang sayu menunjukkan kekhawatiran yang mendalam namun ia juga tahu bahwa Arga adalah pemuda yang sangat keras kepala.
Konflik memuncak ketika salah satu donatur lama datang bukan untuk memberi bantuan, melainkan untuk menawarkan kesepakatan yang licik. Pria itu ingin membeli lahan panti asuhan dengan harga murah untuk dijadikan gudang tekstil, dengan janji akan memindahkan anak-anak ke fasilitas lain. Arga yang mendengar hal itu langsung berdiri dari kursinya, suaranya naik satu oktav saat ia menolak tawaran tersebut tanpa ragu sedikit pun.
"Tempat ini bukan barang dagangan yang bisa Anda tawar dengan harga recehan!" teriak Arga sambil menunjuk pintu keluar dengan tangan yang masih gemetar. Kemarahannya meledak karena ia tahu bahwa fasilitas yang dijanjikan itu hanyalah kebohongan untuk menyingkirkan mereka dari tanah ini. Pria donatur itu pergi dengan wajah merah padam, meninggalkan ancaman bahwa proses penyitaan akan dipercepat karena penolakan Arga.
Malam itu, Arga mengumpulkan semua anak panti di ruang tengah yang remang-remang untuk menyampaikan kebenaran yang pahit. Rian dan anak-anak lainnya menatap Arga dengan wajah penuh ketakutan, namun Arga berusaha menampilkan senyum yang paling tegar. Ia menyadari bahwa selama ini ia merindukan keluarga sedarah, padahal orang-orang yang duduk di depannya inilah keluarga sejatinya yang harus ia lindungi.
Namun, sebuah kejutan pahit terungkap saat Arga menemukan dokumen rahasia di laci meja Ibu Sari yang terkunci rapat selama bertahun-tahun. Ternyata, selama ini Ibu Sari diam-diam menerima uang dari pihak pengembang untuk membiarkan panti asuhan terbengkalai agar penyitaan terasa wajar. Pengkhianatan ini menghantam Arga lebih keras daripada badai mana pun, karena orang yang ia anggap sebagai ibu ternyata adalah duri dalam daging.
Dunia Arga seakan runtuh seketika saat ia menatap wajah Ibu Sari yang kini tertunduk malu di bawah cahaya lampu minyak yang berkedip. Tidak ada lagi kata-kata yang bisa diucapkan, hanya ada keheningan yang menyesakkan di antara mereka sementara hujan kembali turun dengan derasnya. Arga menyadari bahwa mulai detik ini, ia benar-benar sendirian dalam memimpin adik-adiknya untuk merebut kembali rumah mereka yang terancam hilang.
Angin sore berhembus melalui celah ventilasi kayu yang mulai lapuk di ruang makan panti Harapan Abadi. Bau apek kayu tua bercampur dengan aroma nasi hangat yang baru saja matang, meski tanpa lauk yang menggugah selera. Di meja panjang yang permukaannya sudah terkelupas, anak-anak duduk berhimpitan dengan piring plastik berwarna pudar di hadapan mereka masing-masing.
Arga menarik napas panjang, memutar-mutar sendok aluminiumnya yang bengkok, sebuah kebiasaan yang selalu ia lakukan saat pikirannya sedang kalut. Ia menatap butiran nasi putih di piringnya yang hanya ditemani taburan garam halus dan sedikit minyak goreng sisa kemarin. Baginya, pemandangan ini adalah pengingat tajam bahwa dinding panti ini sedang berbisik tentang keruntuhan ekonomi yang kian mendekat.
"Nasi garam juga enak kok, Kak," celetuk Sinta sambil mengunyah pelan, suaranya yang cempreng memecah keheningan yang menyesakkan. Bocah perempuan berusia tujuh tahun itu tersenyum lebar, menunjukkan deretan giginya yang rapi meskipun matanya terlihat sedikit sayu. Arga merasakan tenggorokannya menyempit, sebuah gelombang emosi yang sulit ia definisikan menghantam dadanya dengan keras.
Tanpa berucap sepatah kata pun, Arga menggeser piringnya ke arah Sinta, memberikan seluruh porsinya untuk si bungsu yang terlihat masih sangat lapar itu. Ia selalu memastikan anak-anak yang lebih kecil mendapatkan bagian lebih banyak, sebuah prinsip yang ia pegang teguh sejak ia memutuskan untuk menjadi pelindung di tempat ini. Sinta sempat ragu, namun binar di matanya tidak bisa berbohong saat ia menerima tambahan nasi itu.
"Makan yang banyak, Sin. Biar cepat tinggi dan bisa bantu Kakak beresin genteng bocah nanti," ujar Arga dengan nada bicara yang rendah namun penuh penekanan. Ia memiliki cara bicara yang khas, selalu mengaitkan setiap momen dengan tanggung jawab kecil untuk mengalihkan perhatian anak-anak dari kemiskinan. Baginya, setiap suapan nasi adalah napas tambahan untuk panti yang sedang sekarat ini.
Persediaan beras di gudang belakang hanya tinggal satu karung kecil, mungkin hanya cukup untuk menopang perut lima belas anak ini selama tiga hari ke depan. Arga sudah menghitungnya berkali-kali di kepala, membagi setiap kilogram dengan jumlah mulut yang harus diberi makan setiap pagi dan sore. Angka-angka itu tidak pernah berbohong, dan kenyataan pahit itu terus menghantuinya seperti bayangan hitam yang tak kunjung hilang.
Ia harus mencari uang tambahan hari ini juga, entah bagaimana caranya, entah dengan memikul barang di pasar atau membantu bengkel Pak Salim di ujung jalan. Keputusannya selalu condong pada tindakan fisik yang berat asalkan hasilnya instan, sebuah bias keputusan yang lahir dari rasa urgensi yang akut. Arga tidak memiliki kemewahan untuk menunggu keajaiban atau sumbangan yang belum tentu datang tepat waktu.
Tekadnya mengeras seiring denting sendok yang beradu dengan piring plastik yang sudah kusam itu, menciptakan irama yang menyedihkan namun penuh semangat. Ia bangkit dari kursi kayunya yang berderit, merapikan kaosnya yang sudah menipis di bagian bahu karena terlalu sering dicuci. Setiap langkah yang ia ambil di atas lantai semen yang retak terasa seperti sumpah untuk tidak membiarkan tempat ini rata dengan tanah.
Tiba-tiba, suara deru mesin mobil mewah terdengar berhenti tepat di depan gerbang panti yang tak berpintu itu, sebuah suara yang sangat asing di lingkungan kumuh ini. Arga menajamkan pendengarannya, jantungnya berdegup lebih kencang saat ia melihat bayangan seseorang yang berdiri tegak di balik cahaya sore yang keemasan. Ia mengepalkan tangannya di samping paha, bersiap menghadapi kemungkinan terburuk yang bisa terjadi.
Seorang pria berjas rapi melangkah masuk, memegang sebuah map biru yang terlihat sangat resmi dan mengintimidasi di antara kemiskinan yang mereka hidupi. Pria itu menatap sekeliling dengan pandangan merendahkan, seolah-olah debu di tempat ini bisa menodai sepatu kulitnya yang mengkilap. Arga berdiri di depan pintu masuk, menghalangi pandangan pria itu dari anak-anak yang masih asyik dengan nasi garam mereka.
"Saya di sini untuk menjalankan perintah pengosongan lahan, sesuai dengan hak kepemilikan yang baru saja dialihkan," ucap pria itu dengan suara dingin tanpa ekspresi. Kata-kata itu menghantam Arga lebih keras daripada rasa lapar yang ia rasakan sejak pagi tadi, membuat dunianya seakan berhenti berputar seketika. Ia menyadari bahwa pertempurannya bukan lagi sekadar mencari sebungkus beras, melainkan mempertahankan tanah tempat mereka berpijak.
Arga melirik ke arah Sinta yang sedang menjilati sisa garam di jarinya, tidak menyadari bahwa rumah satu-satunya yang ia kenal akan segera dirampas. Rasa pahit menjalar di lidah Arga, bukan karena rasa garam, melainkan karena pengkhianatan dari sistem yang seharusnya melindungi anak-anak yatim seperti mereka. Ia tahu bahwa mulai detik ini, hidupnya tidak akan pernah sama lagi karena ia harus melawan raksasa yang tak terlihat.
Dengan tangan yang masih gemetar karena amarah yang tertahan, Arga merenggut map biru itu dari tangan sang pria, merobeknya menjadi dua bagian tanpa ragu sedikit pun. Matanya berkilat menantang, menunjukkan bahwa ia tidak akan membiarkan siapa pun menyentuh keluarganya, apa pun taruhannya. Di balik punggungnya, anak-anak mulai menoleh dengan wajah penuh ketakutan, menyadari bahwa kedamaian semu mereka baru saja hancur berkeping-keping.
Aroma solar yang menyengat bercampur dengan debu jalanan menyergap indra penciuman Arga saat ia berbaring di atas lantai semen yang retak. Sinar matahari pagi yang garang menembus atap seng bocor, menciptakan garis-garis cahaya yang memperlihatkan partikel debu beterbangan di sekitar kepalanya. Tangan kanannya yang terbungkus lapisan oli hitam kental meraba-raba kunci pas, mencari posisi yang tepat pada baut truk tua yang sudah memerah karena karat bertahun-tahun.
Otot lengan Arga berdenyut kencang, menegang hingga urat-uratnya menonjol seperti akar pohon yang dipaksa keluar dari tanah. Setiap kali ia mencoba memutar kunci itu, logam yang beradu mengeluarkan bunyi derit memilukan yang memekakkan telinga. Ia tidak memedulikan rasa perih akibat gesekan kulitnya dengan pinggiran mesin yang tajam, karena di kepalanya hanya ada satu angka yang terus berputar: jumlah tunggakan listrik Panti Harapan Abadi.
"Heh, Arga! Jangan cuma dielus-elus bautnya! Kalau selesai sebelum matahari tepat di atas kepala, kubayar kau dua kali lipat!" teriak Pak kumis, pemilik bengkel, sambil mengelap tangannya dengan kain lap yang tak kalah kotor. Suara serak itu memantul di antara tumpukan ban bekas yang menggunung di sudut ruangan. Arga hanya membalas dengan gumaman rendah, sebuah kebiasaan saat ia sedang memusatkan seluruh fokusnya pada satu titik beban berat.
Arga menarik napas panjang, membiarkan paru-parunya terisi udara panas yang terasa berat, lalu menghentakkan seluruh berat badannya pada kunci pas tersebut. "Ayo, sedikit lagi, jangan patah sekarang," bisiknya pada diri sendiri dengan ritme bicara yang cepat dan terputus-putus. Keringat bercampur oli menetes dari dahi, perih saat mengenai matanya, namun ia menolak untuk melepaskan genggamannya meski hanya sedetik pun.
Tiba-tiba, sebuah suara motor yang sangat ia kenali berhenti tepat di depan bengkel, memecah konsentrasi Arga yang sedang berada di puncak ketegangan. Ia melirik dari balik kolong truk dan melihat sosok pria berpakaian rapi, kontras dengan lingkungan bengkel yang kumuh. Pria itu adalah asisten dari pihak pengembang yang selama berbulan-bulan ini terus menerus mendatangi panti asuhan mereka dengan dokumen pengosongan lahan secara paksa.
"Masih sibuk cari receh, Arga? Padahal tanda tanganmu di surat ini nilainya jauh lebih besar dari seluruh baut di bengkel ini," ucap pria itu dengan nada meremehkan yang amat kental. Arga merasakan panas menjalar dari dadanya menuju kepalanya, bukan karena suhu udara, melainkan karena amarah yang mulai mendidih. Ia sengaja tidak menjawab, memilih untuk kembali menghantamkan kunci pas ke arah baut yang membandel dengan dentuman yang sangat keras.
Keputusan Arga untuk tetap bertahan di bengkel ini bukan sekadar tentang uang harian, melainkan tentang harga diri tempat yang ia sebut rumah. Baginya, setiap tetes keringat yang jatuh ke lantai bengkel adalah benteng pertahanan bagi adik-adiknya di panti yang saat ini mungkin sedang menunggu kepulangannya dengan cemas. Ia tidak akan membiarkan tangan-tangan bersih orang kota itu meruntuhkan atap tempat mereka berlindung dari kerasnya dunia luar.
Pria berpakaian rapi itu melangkah mendekat, mengabaikan cipratan oli yang mengotori sepatu kulit mahalnya yang mengkilap. "Ibu panti sudah setuju, Arga. Dia sudah menandatangani dokumennya pagi tadi saat kau berangkat ke sini. Kau hanya membuang waktu di bawah truk rongsokan ini," bisiknya dengan senyum tipis yang mematikan. Arga terdiam seketika, tangannya yang memegang kunci pas gemetar hebat bukan karena beban fisik, melainkan karena pengkhianatan yang tak terduga.
Informasi itu menghantam Arga lebih keras daripada benturan logam mana pun yang pernah ia rasakan selama bekerja di bengkel. Seluruh perjuangannya untuk melunasi listrik, memperbaiki genting, dan mencarikan makanan layak seolah hancur
berkeping-keping dalam satu kalimat pendek. Ia merangkak keluar dari kolong truk dengan gerakan lambat, matanya yang merah menatap tajam ke arah pria yang berdiri dengan angkuh di hadapannya.
"Kau bohong. Ibu tidak akan pernah menyerahkan rumah kami kepada orang-orang seperti kalian," desis Arga sambil berdiri tegak, membiarkan oli hitam menetes dari ujung jarinya ke lantai semen. Ia mencengkeram kunci pas di tangan kanannya dengan sangat kuat, seolah benda itu adalah satu-satunya senjata yang ia miliki untuk melawan dunia. Suasana di bengkel mendadak sunyi, hanya suara putaran kipas angin tua yang berderit di langit-langit.