Matahari belum sepenuhnya bangun saat Arga sudah sibuk di dapur panti asuhan Harapan Abadi yang mulai menua. Ia menggosok telapak tangannya yang kasar, sebuah kebiasaan kecil setiap kali otaknya berputar mencari cara agar tungku tetap mengepul siang nanti. Suara gemericik air dari keran yang bocor menjadi irama pengingat bahwa atap ini butuh lebih dari sekadar doa untuk tetap berdiri tegak di tengah kepungan gedung beton kota.
"Kita tidak butuh kasihan, kita butuh kerja keras," gumam Arga sembari merapikan tumpukan koran bekas di sudut ruangan. Kalimat itu selalu ia ucapkan dengan nada rendah namun penuh penekanan, sebuah pola bicara yang menjadi pegangan bagi adik-adik di panti. Baginya, setiap lembar rupiah yang dihasilkan dari keringat sendiri jauh lebih berharga daripada sumbangan yang datang dengan tatapan merendahkan dari para petinggi yayasan tetangga.
Keputusannya untuk mengambil shift tambahan sebagai kuli panggul di pasar induk bukan tanpa risiko yang besar bagi tubuhnya. Arga seringkali pulang dengan bahu yang kaku, namun ia selalu menyembunyikan rasa sakit itu di balik senyum lebar saat membagikan roti hangat untuk anak-anak kecil. Ia lebih memilih mengabaikan rasa lelahnya sendiri daripada melihat meja makan di ruang tengah kosong dan sunyi tanpa suara kunyahan yang ceria.
Tantangan sosial merayap masuk ketika seorang pengembang tanah datang dengan setelan rapi dan senyum yang terasa sangat palsu. Orang asing itu menawarkan sejumlah uang yang menggiurkan agar Arga menyerahkan sertifikat panti dan membiarkan bangunan bersejarah itu diratakan dengan tanah. Arga hanya menatap pria itu tajam, lalu secara perlahan meremas ujung kemejanya sendiri, sebuah gestur yang menandakan kemarahan yang tertahan di balik ketenangannya.
"Rumah ini punya nyawa, bukan sekadar angka di kertas kontrak kalian," tegas Arga dengan suara yang bergetar namun tetap stabil. Penolakannya yang keras memicu konflik dengan beberapa warga sekitar yang tergiur kompensasi jika proyek pembangunan mal itu berhasil berjalan lancar. Tekanan demi tekanan mulai berdatangan, mulai dari sindiran tajam di warung kopi hingga sabotase kecil pada pipa air bersih yang mengalir ke panti.
Puncak ketegangan terjadi saat seseorang dengan sengaja merusak gerbang kayu panti pada malam hari yang sangat dingin. Arga berdiri di depan pintu yang rusak itu, menatap kegelapan malam dengan kepalan tangan yang sangat erat hingga buku jarinya memutih. Alih-alih membalas dengan kekerasan, ia justru mulai memungut serpihan kayu dan berjanji dalam hati bahwa ia akan menjadi pagar hidup bagi semua orang yang ada di dalamnya.
Sebuah surat misterius terselip di balik pintu yang rusak, mengungkap bahwa ancaman sebenarnya bukan berasal dari pengembang tanah tersebut. Arga tertegun membaca baris demi baris yang menyatakan bahwa pemilik sah lahan panti sebenarnya adalah seseorang yang selama ini ia anggap sebagai pahlawan. Kenyataan pahit ini memaksanya untuk segera menentukan pilihan antara tetap percaya pada kenangan lama atau bangkit melawan pengkhianatan yang paling menyakitkan.
Langit pangkalan bus masih berwarna abu-abu pekat saat Arga membetulkan letak kerah kemejanya yang sudah memudar. Bau solar yang menyengat bercampur dengan aroma kopi tubruk dari warung-warung kecil mulai merayap masuk ke paru-parunya. Dia berdiri mematung di antara deru mesin bus yang memekakkan telinga, membiarkan kebisingan itu menenggelamkan rasa cemas yang terus berdenyut di kepalanya sejak fajar menyingsing.
Tangannya merogoh saku celana, hanya menemukan beberapa keping koin dan selembar uang sepuluh ribu yang sudah lusuh. Dia mengusap wajahnya yang kusam dengan kasar, berusaha menghalau rasa kantuk yang masih menggelayut akibat terjaga sepanjang malam. Di matanya yang merah, terpancar sebuah harapan tipis bahwa keberuntungan akan memihaknya hari ini, sebelum matahari benar-benar naik dan menagih janji-janjinya.
Seorang sopir tua dengan topi pet yang miring ke kiri melambai dari balik kemudi sebuah angkot berwarna jingga yang catnya sudah banyak terkelupas. "Mau narik angkot pagi ini, Ga? Jalur kota lagi ramai, lumayan buat nambah setoran," teriak pria itu di tengah kebisingan knalpot bus yang lewat. Suaranya serak namun terdengar cukup akrab di telinga Arga, seolah memberikan sedikit ruang napas di tengah himpitan beban yang ia bawa.
Arga mengangguk mantap tanpa ragu sedikit pun, sebuah gerakan yang lahir dari keterdesakan yang tidak bisa ditawar lagi. "Siap, Pak Haji. Saya ambil shift pagi sampai sebelum zuhur," jawabnya dengan nada suara yang sengaja dikeraskan agar tidak kalah oleh suara mesin. Dia butuh uang tunai secepat mungkin, bukan besok atau lusa, karena tagihan obat di apotek panti asuhan sudah tidak bisa lagi menggunakan sistem utang.
Ingatannya melayang pada sosok Sinta, adik terkecil di panti yang semalam menggigil hebat di bawah selimut tipisnya. Wajah bocah itu memucat, dan setiap kali Arga menyentuh keningnya, panas yang menjalar seolah-olah membakar telapak tangannya sendiri. Dia adalah salah satu alasan mengapa Arga rela membuang rasa lelahnya di aspal jalanan, karena baginya, Sinta bukan sekadar anak panti, melainkan potongan jiwanya yang tersisa.
Mobil angkot itu mulai bergerak membelah kemacetan pagi, sementara Arga terus mengetuk-ngetukkan jemarinya di atas kemudi, sebuah kebiasaan saat ia sedang menghitung waktu. Dia tahu bahwa biaya pengobatan Sinta yang mulai demam semalam tidaklah murah, apalagi jika harus dibawa ke klinik spesialis di pinggir kota. Setiap penumpang yang naik adalah harapan baru baginya untuk menutup lubang kekurangan biaya yang kian menganga di panti Harapan Abadi.
Di setiap persimpangan, matanya tajam memperhatikan setiap orang yang berdiri di trotoar, berharap mereka melambaikan tangan untuk naik. "Kanan, Bang! Berhenti di depan!" teriak seorang penumpang, dan Arga dengan sigap menginjak rem, memastikan uang logam masuk ke kantong kecil di samping tuas transmisi. Dia bicara seperlunya saja, fokusnya hanya pada angka-angka yang harus ia kumpulkan sebelum jam operasionalnya berakhir siang nanti.
Keringat mulai bercucuran di pelipisnya saat matahari mulai terasa menyengat kulit, namun Arga tidak mempedulikannya sama sekali. Baginya, rasa panas di luar tidak sebanding dengan rasa dingin yang ia rasakan di hati setiap kali melihat panti mereka terancam kekurangan pasokan makanan dan obat. Dia sudah bersumpah pada dirinya sendiri untuk menjadi pelindung bagi adik-adiknya, meskipun itu berarti dia harus mengorbankan masa mudanya di balik kemudi angkot tua.
Tiba-tiba, sebuah mobil mewah memotong jalurnya dengan kasar, memaksa Arga menginjak rem sekuat tenaga hingga ban mobilnya berdecit nyaring. "Hati-hati, Ga! Jangan sampai mobil Pak Haji lecet!" batinnya memperingatkan diri sendiri dengan penuh tekanan. Insiden kecil itu membuat jantungnya berdegup kencang, bukan karena takut pada kecelakaan, melainkan karena takut kehilangan satu-satunya sumber penghasilannya hari ini.
Saat jam menunjukkan pukul sebelas, Arga menepi sejenak di bawah pohon rindang untuk menghitung hasil tarikannya selama lima jam terakhir. Lembaran uang itu ia rapikan dengan teliti, mengelompokkan setiap nominalnya agar mudah dihitung saat diserahkan ke apotek nanti. Meski jumlahnya belum sepenuhnya cukup, setidaknya ada sesuatu yang bisa ia bawa pulang untuk meredakan panas tubuh Sinta yang terus menghantuinya.
Pikirannya kembali pada Ibu panti yang selalu berpesan agar ia tidak terlalu memaksakan diri, namun Arga hanya bisa tersenyum getir dalam hati. Bagaimana mungkin dia bisa beristirahat sementara atap panti mereka mulai bocor dan adik-adiknya seringkali harus berbagi satu porsi makanan untuk berdua? Panti Harapan Abadi adalah satu-satunya rumah yang ia miliki, dan ia tidak akan membiarkan tempat itu runtuh hanya karena dia merasa lelah.
Dia kembali memacu angkotnya menuju putaran terakhir sebelum kembali ke pangkalan bus untuk mengembalikan kendaraan milik Pak Haji. Di perjalanan, dia melihat sebuah apotek besar dan memutuskan untuk berhenti sejenak, menanyakan harga obat penurun panas yang paling ampuh. Penjaga apotek menyebutkan harga yang membuat Arga terdiam sejenak, menyadari bahwa hasil kerjanya pagi ini baru menutupi setengah dari harga obat tersebut.
Rasa sesak kembali memenuhi dadanya, sebuah pengingat bahwa dunia tidak pernah memberikan kemudahan bagi mereka yang berjuang di garis bawah. Namun, saat teringat tawa Sinta yang biasanya renyah, Arga mengepalkan tangannya kuat-kuat di atas kemudi, berjanji akan mencari cara lain sore nanti.
Dia akan terus melaju, tak peduli seberapa banyak aspal yang harus ia lalui, asalkan rumah tanpa pagar itu tetap berdiri tegak untuk menampung mimpi-mimpi mereka. Arga kemudian memutar setir dengan cepat, matanya menangkap sosok pria yang sering memberinya pekerjaan sampingan sebagai kuli angkut di gudang pasar induk.
Jari-jari Arga yang kasar terus menggeser koin-koin kusam di atas dasbor angkot yang mulai mengelupas kulitnya. Bunyi denting logam beradu dengan deru mesin tua yang terbatuk-batuk di tengah kemacetan. Setiap kepingan lima ratus rupiah itu ia tata dengan presisi yang ganjil, seolah susunan yang rapi bisa mengubah nominalnya menjadi lebih besar secara ajaib.
Hujan di luar kaca jendela yang buram belum juga menunjukkan tanda-tanda akan mereda sejak pukul dua siang tadi. Aspal jalanan Jakarta yang menghitam memantulkan cahaya lampu kota yang mulai menyala, menciptakan pemandangan yang dingin dan tidak bersahabat bagi para pencari nafkah di jalanan. Arga menyeka embun di kaca depan dengan kain lap lusuh yang sudah lembap.
Ia kembali melirik buku catatan kecil bersampul plastik yang terselip di balik kemudi, tempat coretan angka-angka pengeluaran harian berada. Angka yang tertera di sana tampak seperti vonis yang kejam, jauh dari target yang ia tetapkan untuk menutupi biaya operasional harian. Arga memijat pangkal hidungnya yang berdenyut, mencoba mengusir rasa penat yang mulai menguasai tubuhnya.
Lampu indikator bensin yang menyala kemerahan di sudut panel instrumen seolah mengejek usahanya yang belum membuahkan hasil maksimal. Cairan bahan bakar di tangki sudah mencapai titik kritis, sementara kantongnya masih terasa terlalu ringan untuk ukuran jam kerja yang panjang. Pikirannya mulai melayang pada deretan wajah di panti asuhan Harapan Abadi yang menantinya pulang.
Arga melakukan gerakan khasnya, mengetukkan telunjuk kanan ke setir dengan ritme tiga kali ketukan setiap kali ia merasa terdesak oleh keadaan. Kebiasaan ini selalu muncul saat ia harus menghitung sisa napas dapur panti yang kian menipis setiap harinya. Baginya, setiap rupiah bukan sekadar alat tukar, melainkan jaminan bahwa adik-adiknya tidak akan terbangun dengan perut kosong.
Suara gemuruh petir yang menggelegar di kejauhan membuat Arga tersentak, mengingatkannya pada atap panti yang bocor di ruang makan utama. Ia tahu benar bahwa jika hujan terus sedahsyat ini, lantai semen di sana pasti sudah tergenang air keruh yang membawa aroma tanah. Beban di pundaknya terasa semakin berat, melebihi kapasitas angkot tua yang ia kemudikan setiap hari.
Seorang penumpang wanita paruh baya dengan payung basah kuyup melambai di pinggir jalan, dan Arga segera menginjak rem dengan cekatan. Ia tidak peduli jika genangan air menciprat ke celananya saat ia membantu wanita itu menaikkan barang bawaannya yang cukup berat ke dalam mobil. Setiap penumpang adalah harapan kecil, setitik cahaya di tengah badai yang sedang menguji ketabahannya.
Sambil mengemudi, Arga bergumam pelan, sebuah kebiasaan bicara sendiri yang ia kembangkan untuk menenangkan debar jantungnya yang tidak beraturan. Ia sering menyebutkan nama-nama anak di panti satu per satu, seolah itu adalah mantra perlindungan agar ia tetap kuat bekerja. Baginya, menyerah bukanlah pilihan selama masih ada mulut yang harus disuapi dan mimpi yang harus dijaga.
Ia memutuskan untuk mengambil rute memutar melalui pasar tradisional, berharap masih ada sisa-sisa keberuntungan di antara kerumunan orang yang berteduh. Arga tahu risiko bensin habis di tengah jalan sangat besar, namun nalurinya sebagai pelindung panti selalu mendorongnya mengambil risiko. Ia lebih memilih mogok di jalan daripada harus pulang dengan tangan yang benar-benar kosong.
Tiba-tiba, sebuah mobil mewah melaju kencang dan menghantam genangan air besar, menyiram sisi kiri angkot Arga hingga pandangannya tertutup lumpur seketika. Arga mengerem mendadak, napasnya memburu saat ia berusaha menguasai kemudi agar tidak menghantam trotoar yang tinggi di sisi jalan. Amarah sempat naik ke tenggorokan, namun ia segera menelannya bulat-bulat demi menjaga ketenangan batinnya.
Ia turun sejenak untuk menyiram kaca depan dengan air botol mineral sisa, membiarkan seragamnya basah kuyup terkena tempias hujan yang miring. Saat itulah ia melihat sebuah amplop cokelat terjepit di wiper kaca, mungkin terjatuh dari mobil mewah tadi atau terbawa angin kencang. Tangannya gemetar saat menyentuh kertas yang sudah setengah basah itu, merasakan ketebalan yang tidak biasa di dalamnya.
Arga segera kembali ke kursi kemudi dan membuka amplop tersebut dengan hati-hati di bawah lampu kabin yang temaram dan berkedip-kedip. Matanya membelalak melihat tumpukan uang kertas merah yang nilainya jauh melampaui apa yang bisa ia hasilkan dalam sebulan menarik angkot. Jantungnya berdegup kencang, antara rasa syukur yang meluap dan ketakutan akan asal-usul uang yang tiba-tiba muncul ini.
Namun, saat ia membalik amplop itu, sebuah foto kecil terjatuh ke pangkuannya, memperlihatkan gambar panti asuhan Harapan Abadi dengan tanda silang merah besar. Di belakang foto itu tertulis sebuah pesan singkat yang membuat darah Arga mendadak terasa membeku di dalam pembuluh nadinya. "Ini uang muka untuk pengosongan lahan minggu depan, jangan buat kami melakukan cara yang lebih kasar lagi."
Dunia seolah runtuh saat Arga menyadari bahwa uang di tangannya bukanlah berkah, melainkan harga dari rumah yang selama ini ia perjuangkan mati-matian. Ia meremas amplop itu hingga lecek, sementara air mata mulai menyaru dengan tetesan air hujan yang mengalir di pipinya yang tirus. Arga tahu bahwa malam ini bukan lagi tentang mencari beras, melainkan tentang memulai perang untuk mempertahankan satu-satunya tempat yang ia sebut rumah.
Langit di atas Panti Harapan Abadi menggantung kelabu, mengirimkan rintik hujan yang mulai membasahi aspal tua di depan halte yang atapnya sudah lama bocor. Arga menarik napas dalam, membetulkan letak topi usangnya yang sedikit miring, lalu menginjak pedal gas angkot pinjamannya dengan perlahan agar tidak mencipratkan air ke trotoar. Di bawah tempias hujan, seorang wanita paruh baya berdiri kaku dengan setelan blazer krem yang tampak terlalu mewah untuk lingkungan kumuh ini.
Arga memutar kemudi dengan gerakan gesit yang sudah menjadi kebiasaannya, menghentikan kendaraan tepat di depan ujung sepatu kulit wanita itu yang berkilat meski terkena debu jalanan. Ia mengetuk-ngetuk setir dengan ritme tiga ketukan cepat, sebuah kebiasaan saraf yang selalu muncul saat ia berhadapan dengan orang-orang dari dunia yang berbeda. Matanya yang tajam namun lelah memandang lewat kaca jendela yang berembun, mencoba membaca maksud kedatangan orang asing tersebut.
"Ke arah pasar, Bu? Masuk saja, mumpung hujannya makin deras dan belum ada penumpang lain," ujar Arga dengan suara serak yang khas, berusaha terdengar ramah namun tetap menjaga jarak. Suaranya selalu memiliki nada yang sedikit menekan di akhir kalimat, seolah ia selalu siap untuk mempertahankan diri jika keadaan berubah menjadi buruk. Wanita itu tidak segera menjawab, melainkan menatap Arga dari balik kacamata hitamnya dengan pandangan yang terasa seperti sedang membedah isi kepala.
Setelah jeda yang cukup lama untuk membuat Arga merasa tidak nyaman, wanita itu akhirnya melangkah masuk ke dalam angkot yang berbau campuran pengharum jeruk murah dan bensin. Ia duduk di pojok belakang, melipat tangannya di dada dengan sikap yang sangat formal, kontras dengan jok kulit imitasi yang sudah robek di sana-sini. Arga melirik melalui spion tengah, menangkap sorot mata selidik yang tidak sedetik pun beralih dari tengkuknya, sebuah perhatian yang terasa berat dan penuh rahasia.
Keheningan di dalam kabin terasa mencekam, hanya diisi oleh suara wiper yang berdecit menyapu air di kaca depan dan deru mesin yang mulai batuk-batuk kecil. Arga menggigit bibir bawahnya, merasa ada sesuatu yang salah dengan cara wanita ini menatapnya, seolah-olah dia bukan sekadar penumpang yang tersesat mencari angkutan. Pikirannya melayang pada tunggakan biaya listrik panti asuhan dan adik-adiknya yang sedang menunggu kiriman makanan, membuat dadanya terasa sesak oleh beban yang harus ia pikul sendirian.
"Kamu sudah lama tinggal di sekitar Harapan Abadi, Arga?" tanya wanita itu tiba-tiba, menyebutkan nama panti asuhannya dengan pelafalan yang terlalu sempurna untuk seorang asing. Arga tersentak hingga tangannya hampir tergelincir dari kemudi, detak jantungnya meningkat drastis mendengar nama tempat perlindungannya diucapkan oleh mulut orang yang tidak ia kenal. Ia tidak menjawab, hanya mengencangkan pegangannya pada setir sambil menatap lurus ke jalanan yang mulai tergenang air keruh.
"Siapa Anda sebenarnya? Saya tidak ingat pernah memberi tahu nama tempat tinggal saya kepada siapa pun di jalanan ini," balas Arga dengan nada yang kini lebih tajam dan waspada. Ia memutuskan untuk tidak berhenti di halte pasar, melainkan terus melaju melewati rute yang seharusnya, merasa bahwa ini bukan lagi soal mencari uang sewa. Wanita itu hanya tersenyum tipis, sebuah senyuman yang tidak mencapai matanya namun mengandung otoritas yang membuat bulu kuduk Arga merinding seketika.