Rumah Tanpa Rahasia

Sundayana
Chapter #1

BAB 1 : Pujian Yang Menusuk Hati

​"A Doni mah memang luar biasa, ya. udah mah rajin ke masjid, ke mana-mana selalu bawa anak-istri. Neng Silvi pasti beruntung sekali punya suami seperti dia."

​Suara Ibu RT di teras rumah tetangga malam itu disambut anggukan hangat dari beberapa ibu-ibu lainnya. Senyum lebar terkembang di wajah Silvi. Ia mengangguk sopan, merapatkan pegangan tangannya pada tali tas selempang yang ia sandang.

​"Alhamdulillah, Bu," jawab Silvi singkat. Suaranya halus, penuh kesantunan yang dipoles begitu rapi. Tidak ada sedikit pun retakan di wajahnya yang menandakan bahwa dunia di balik senyum itu sedang hancur berkeping-keping.

​Di sudut lain teras, Doni sedang berlutut, menalikan tali sepatu Ozil yang terlepas. Bocah delapan tahun yang baru duduk di kelas 2 SD itu menatap ayahnya dengan mata berbinar-binar.

​"Abi, tadi Om Yudi bilang Abi orangnya hebat banget! Nanti kalau Ozil gede, Ozil mau jadi kaya Abi!" celoteh Ozil polos sambil menepuk-nepuk pundak Doni yang biasa ia panggil "Abi" sebagai sebutan untuk Ayah.

​Tangan Doni yang sedang mengikat tali sepatu mendadak berhenti. Jantungnya seperti dihantam benda tumpul yang sangat berat. Tenggorokannya mendadak kering. Ia menengadah, menatap wajah polos putranya yang memancarkan kekaguman tanpa syarat.

Orang hebat.

​Kata-kata itu bergema seperti ejekan tajam di dalam kepala Doni. Jika saja Ozil tahu, jika saja orang-orang di gang ini tahu apa yang tersimpan di dalam dompet digital dan aplikasi perbankan di ponselnya... mereka tidak akan pernah membiarkan Doni menyentuh kepala anak mereka, apalagi memujinya sebagai pria yang agamis.

​Doni berusaha tersenyum, meski bibirnya terasa kaku. Ia mengusap rambut Ozil dengan lembut. "Ozil harus lebih hebat dari Abi, ya. Nggak boleh cuma kayak Abi."

​"Bi, kok gitu? Abi kan yang terbaik!" Ozil bersikeras, lalu tertawa kecil sebelum berlari menghampiri Umi-nya (sebutan Ozil kepada ibunya) yang sudah menunggu di dekat pagar.

​Doni berdiri perlahan. Kemeja koko putih bersih yang ia kenakan malam ini terasa mendadak mencekik lehernya. Ia melangkah menyusul anak dan istrinya, berpamitan pada tuan rumah dengan senyum terukur yang sudah ia latih berulang kali.

​Jalan menuju rumah mereka tidak jauh, hanya berjarak beberapa gang pendek. Namun, bagi Doni, langkah kaki di sepanjang malam yang dingin itu terasa seperti berjalan di atas pecahan kaca.

Lihat selengkapnya