Malam itu, hujan deras mengguyur atap dak rumah setengah jadi yang mereka tempati. Suara gemuruh air menutup rapat kebisingan jalanan luar, seolah menciptakan ruang isolasi bagi dua orang yang sedang duduk berseberangan di ruang tamu.
Di atas meja kaca, sebuah ponsel pintar tergeletak dengan layar yang masih menyala. Di layarnya, terpampang belasan notifikasi pesan singkat bertuliskan nada ancaman dari aplikasi pinjaman online, lengkap dengan rincian angka hutang yang membengkak luar biasa.
Silvi menatap layar itu tanpa bersuara. Wajahnya pucat pasi, matanya membelalak tak percaya.
"Ini... ini angka apa, Bi?" suara Silvi bergetar. Tangannya yang memegang ponsel itu gemetaran hebat. "Puluhan juta? Uang sebanyak ini kamu pakai buat apa?!"
Doni menunduk dalam-dalam. Ia duduk bersimpuh di lantai, tidak berani menatap wajah istrinya. Lidahnya terasa kufur, suaranya tercekat di tenggorokan.
"Jawab, Bi! Jawab aku!" pekik Silvi melengking, namun ia langsung menutupi mulutnya sendiri dengan telapak tangan. Matanya melirik panik ke arah pintu kamar Ozil yang tertutup. Ia tak ingin putra kecil mereka terbangun dan menyaksikan kehancuran ini.
"Aku... aku cuma mau memperbaiki ekonomi kita, Yang..." ucap Doni dengan suara parau.
"Memperbaiki ekonomi dengan cara apa?!" air mata Silvi akhirnya menetes deras, membasahi pipinya yang tirus.
"Judi... judi online, Yang," aku Doni akhirnya. Kata haram itu terucap dari mulutnya seperti racun yang membakar kerongkongan.