Lampu jalanan remang-remang memantulkan bayangan tubuh Doni yang duduk di atas jok motor matic-nya. Jam di pergelangan tangannya sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Aplikasi Ojol di ponselnya baru saja ia ubah menjadi offline. Hari ini ia berhasil membawa pulang uang tunai delapan puluh ribu rupiah, hasil memeras keringat dari sore hingga larut malam setelah menyelesaikan shift harian lepasnya di pabrik.
Uang delapan puluh ribu itu ia lipat rapi, lalu ia masukkan ke dalam saku celananya terpisah dari dompet utama.
Doni memandangi layar ponselnya yang kusam. Di sana, aplikasi judi online yang dulu pernah menghancurkan hidupnya sudah tidak ada lagi. Ia telah menghapusnya, bahkan memblokir nomor-nomor tidak dikenal yang terus mengirimkan SMS promosi deposit murah. Namun, menghapus aplikasi ternyata jauh lebih mudah daripada menghapus jejak hutang dan rasa malu yang ditinggalkannya.
Saat Doni memutar kunci kontak motornya, ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk dari Silvi.
“Ozil mendadak demam tinggi, Bi. Kompres air hangat nggak mempan. Kalau kamu belum jauh, tolong belikan obat penurun panas di apotek.”
Jantung Doni seketika berdegup kencang. Tanpa berpikir panjang, ia langsung memutar arah motornya menuju apotek 24 jam terdekat.
Di apotek, Doni menggenggam obat demam dan beberapa lembar plester kompres. Saat kasir menyebutkan total harga, Doni merogoh saku celananya. Uang delapan puluh ribu hasil narik Ojol malam ini pas-pasan untuk membayar obat tersebut, menyisakan hanya dua lembar uang seribuan.
Doni menatap lembaran uang di tangannya dengan dada sesak, tapi kali ini ada perasaan yang berbeda. Tidak ada lagi keinginan impulsif untuk mempertaruhkan uang itu ke meja judi digital. Ada rasa tenang yang aneh saat menyadari bahwa uang yang ia pakai membeli obat untuk anaknya malam ini adalah uang dari tetes keringatnya sendiri yang jujur, sekecil apa pun nominalnya.