Lampu gantung di atas meja makan kecil itu memancarkan cahaya kekuningan yang temaram. Jam dinding kuno berdetak konstan, memecah hening malam yang mencekam.
Di atas meja kaca yang melengkung di bagian ujungnya, terhampar sebuah buku tulis bergaris yang masih bersih dan satu pulpen hitam. Di hadapan buku itu, Doni duduk membisu. Tangannya yang memegang pulpen gemetaran hebat, dingin seperti es.
Di seberang meja, Silvi duduk dengan punggung tegak. Wajahnya polos tanpa riasan, lingkaran hitam mengitari matanya. Tidak ada amarah yang meledak-ledak malam ini. Yang ada hanyalah sebuah ketegasan yang menuntut keutuhan.
"Tulis, Bi," suara Silvi memecah keheningan, tenang namun menyayat. "Semua. Aplikasi apa saja, berapa pokoknya, berapa bunganya, dan kapan tanggal jatuh temponya. Jangan ada satu rupiah pun yang kamu sembunyikan."
Doni menunduk. Tenggorokannya terasa tersumbat rapat. Bagi seorang Doni, menuliskan angka-angka ini bukan sekadar mencatat hutang, melainkan membedah kegagalannya sendiri di depan sang istri.
Sejak kecil, Doni dibesarkan dalam kesendirian mental. Sebagai anak tengah yang kerap diabaikan namun dituntut sempurna, Doni membentuk tameng pertahanan yang tebal: jangan pernah terlihat lemah, jangan pernah menyusahkan orang lain, dan selesaikan semua masalahmu sendiri.
Sifat tertutup itu terbawa hingga ia menikah. Ketika status kerjanya di kantor pusat dipangkas menjadi karyawan harian lepas enam bulan lalu, ia tidak bercerita pada Silvi. Ketika penghasilannya tak mencukupi dan ia terdesak, Doni memilih memendamnya sendiri. Ia merasa sebagai kepala keluarga, dialah yang harus menjadi pahlawan. Rasa "bisa mengatasi masalah sendiri" itulah yang membuatnya nekat mencari jalan pintas lewat judi online, lalu meminjam ke belasan aplikasi pinjol untuk menutup kekalahannya secara diam-diam.
Doni selalu berpikir ia bisa membereskan kekacauan ini sebelum Silvi tahu. Namun kini, tembok ketertutupan yang ia bangun bertahun-tahun itu runtuh menjadi puing-puing yang memalukan.