Rumah Tanpa Rahasia

Sundayana
Chapter #8

Bab 8: Dering Pertama dan Mata Bening Ozil

Dering ponsel di atas meja kaca itu terasa melengking, memotong hening malam seperti belati yang menyayat udara. Layar ponsel terus menyala, menampilkan sederet angka tak dikenal.

​Doni menatap layar itu dengan tenggorokan kering. Jarinya melayang ragu di atas layar. Ketakutan yang selama bertahun-tahun ia sembunyikan di balik sikap tertutupnya kini mewujud dalam bentuk nada panggil yang tak kenal ampun.

​"Angkat, Bi," suara Silvi terdengar pelan, namun tanpa ragu.

​Doni menoleh, menatap istrinya. Ada kilat kepanikan di mata Doni, tapi raut wajah Silvi yang dingin dan tenang memaksanya untuk memberanikan diri. Jarinya menggeser tombol hijau, lalu menempelkan ponsel ke telinga. Ia sengaja mengaktifkan mode speakerphone agar tak ada lagi rahasia di antara mereka.

"Halo! Ini benar dengan Doni?!" suara serak seorang pria membentak kasar dari seberang telepon. Tidak ada salam, tidak ada kesopanan. "Paham aturan tidak?! Pinjaman kamu sudah lewat jatuh tempo hari ini! Kapan mau bayar?!"

​Doni meremas pinggiran meja, dadanya tertekan hebat. "S-selamat malam, Pak. Maaf, saya..."

"Nggak usah banyak alasan! Kita tidak butuh maaf, kita butuh uang! Kalau malam ini tidak ada bukti transfer masuk, nama kamu, foto kamu, sama kontak darurat kamu bakal kita sebar ke seluruh teman kantor dan keluarga kamu! Biar semua orang tahu kamu itu penipu!"

​Klik. Sambungan diputus sepihak, menyisakan nada tut-tut-tut yang berdengung panjang.

​Doni tertunduk dalam-dalam. Wajahnya memerah paduan antara malu yang sangat dalam dan ketakutan. Ancaman menyebar data ke kantor pusat dan keluarga besar adalah hal yang paling ditakutinya selama ini. Ketakutan yang membongkar topeng "pria sempurna" yang ia jaga setengah mati.

Lihat selengkapnya