Aroma minyak kayu putih dan kehangatan teh tawar hangat memenuhi ruang tamu kecil rumah Doni pagi itu. Di atas meja, dua lembar amplop cokelat tergeletak. Satu berisi pecahan uang ratusan ribu hasil gaji mengajar Silvi di Sekolah, dan satu lagi berisi lembaran dua puluh ribuan kumal hasil Doni menarik Ojol selama tiga malam berturut-turut.
"Ini ada lima ratus ribu dari uang les privat anak-anak SD yang baru dibayar di muka," ujar Silvi pelan sambil menggeser amplopnya mendekati buku catatan hutang. Wajahnya tampak lelah, namun matanya memancarkan keteguhan yang tak pernah Doni lihat sebelumnya. "Kita pakai ini untuk mencicil pokoknya dulu. Untuk aplikasi pinjaman yang paling sering telepon ke kantor kamu."
Doni menatap pecahan uang kertas di meja. Dadanya terenyuh. Dulu, ia selalu gengsi jika istrinya harus ikut campur urusan finansial. Namun kini, melihat Silvi bekerja ekstra hingga malam demi menutupi kesalahannya, rasa gengsi itu telah berganti menjadi rasa hormat dan penyesalan yang teramat dalam.
"Terima kasih, Sayang," bisik Doni, jemarinya menggenggam jemari Silvi yang terasa agak kasar karena lelah. "Aku janji, uang ini nggak akan sia-sia. Hari ini, setelah jam harian lepas di kantor selesai, aku mau menemui debt collector itu langsung."
Silvi tersentak, menatap Doni cemas. "Menemuinya langsung? Abi, mereka itu kasar. Kamu nggak apa-apa?"
Doni mengangguk pelan namun mantap. "Selama ini aku selalu lari dan bersembunyi di balik telepon. Sifat tertutupku ini yang bikin mereka makin sewenang-wenang. Kali ini, aku mau bicara jujur di depan wajah mereka. Aku mau tunjukkan kalau aku nggak lari, tapi aku cuma bisa bayar sesuai kemampuan riil kita."
Sore harinya, di sebuah kedai kopi pinggir jalan yang riuh oleh suara bising kendaraan, Doni duduk berhadapan dengan seorang pria berbadan tegap mengenakan jaket kulit hitam. Pria itu adalah penagih lapangan dari salah satu aplikasi pinjol yang kemarin meneror atasan Doni di kantor.