Rumah Tanpa Rahasia

Sundayana
Chapter #11

Bab 11: Nyanyian Sumbang Keluarga Besar

​Malam Minggu yang seharusnya menjadi waktu istirahat justru terasa seperti ujian ketahanan mental bagi Doni. Sebuah mobil putih terparkir di depan gang sempit rumah mereka. Kakak tertua Doni, Kang Robi, bersama istrinya datang berkunjung tanpa memberi kabar terlebih dahulu.

​Di ruang tamu kecil berdinding cat terkelupas itu, suasana terasa canggung. Kang Robi, yang bekerja sebagai manajer di sebuah perusahaan BUMN, duduk bersedekah lengan di atas kursi kayu. Matanya menyapu sekeliling ruangan dengan pandangan menilai.

​"Don," buka Kang Robi, suaranya terdengar menggurui. "Kemarin Ibu cerita ke Aa. Katanya pas arisan keluarga minggu lalu, kamu sama Silvi nggak datang. Terus Ibu juga dengar dari tetangga lama, katanya kamu sekarang sering keliling naik motor malam-malam pakai jaket Ojol?"

​Doni yang baru saja meletakkan dua cangkir teh hangat di meja mendadak kaku. Jemarinya saling bertaut di bawah meja. Sifat lamanya—rasa minder sebagai anak tengah yang selalu dibeda-bedakan—seketika menyeruak naik. Di hadapan Kang Robi yang selalu dibangga-banggakan orang tua mereka, Doni merasa kembali menjadi anak kecil yang tak pernah cukup baik.

​"Iya, A," jawab Doni pelan, menahan getar di suaranya. "Kalau malam memang narik Ojol."

​Teh Lia, istri Kang Robi, tertawa kecil yang terdengar sumbang. "Lho, Doni... bukannya kamu kerja di kantor pusat? Masa karyawan kantor pusat narik Ojol? Nanti kalau kelihatan sama saudara-saudara lain atau teman-teman Ibu, kan malu-maluin. Orang-orang bisa mikir kamu nggak becus nafkahi Silvi."

​Kata-kata itu menancap tepat di titik paling rapuh dalam dada Doni. Sensitivitas atas ketidakadilan yang ia rasakan sejak kecil kembali bergolak. Dulu, saat Kang Robi butuh modal usaha, orang tua mereka rela menjual tanah. Namun saat Doni berjuang sendirian, ia hanya dihadiahi tuntutan untuk selalu terlihat sukses tanpa pernah dibantu.

Lihat selengkapnya