Lampu gantung kamar mandi berdengung halus, memancarkan cahaya kekuningan yang agak redup. Doni mematikan kran air yang mengucur pelan, lalu memandangi pantulan wajahnya sendiri di cermin kusam bertali kawat yang tergantung di dinding lapuk.
Garis-garis lelah tercetak makin jelas di wajahnya. Lingkaran hitam tebal mengitari kedua matanya—jejak nyata akibat kurang tidur karena harus membagi tubuhnya antara pekerjaan harian lepas di kantor dari pagi hingga sore, lalu dilanjutkan mengayuh motor narik Ojol hingga larut malam.
Ketika ia meraih handuk kumal yang menggantung di paku yang tertancap di dinding kamar mandi, matanya yang sembap tak sengaja menangkap sesuatu yang terselip canggung di sudut bingkai cermin kayu tersebut.
Secarik kertas resep tipis dan lembaran nota belanjaan obat.
Doni mengernyitkan dahi. Ia menarik kertas itu dengan perlahan, berhati-hati agar tak robek. Itu adalah nota dari klinik pratama yang terletak di depan gang rumah mereka—nota pemeriksaan kesehatan Silvi dua hari yang lalu. Di sana tertulis jelas diagnosa dokter: anemia berat dan kelelahan fisik ekstrem, lengkap dengan rincian harga obat antibiotik, penambah darah, serta vitamin konsentrasi tinggi yang hingga detik ini belum dicentang alias belum ditebus.
Total harganya: Rp185.000.
Doni meremas kuat pinggiran wastafel semen di depannya. Dadanya mendadak terasa seperti dihantam dinding es yang sangat tebal. Napasnya tertahan di tenggorokan.
Selama seminggu terakhir, Silvi tidak pernah mengeluh satu kali pun. Istrinya itu tetap bangun jam empat pagi seperti biasa, menyiapkan sarapan seadanya, mengurus persiapan sekolah Ozil, menyapu halaman depan rumah, lalu berangkat mengajar les privat anak-anak SD hingga siang hari. Tidak ada desah napas lelah yang dipamerkan, tidak ada raut sakit yang diperlihatkan. Silvi dengan sengaja menyembunyikan rasa sakitnya sendiri demi memastikan setiap lembar uang puluhan ribu yang mereka pegang utuh masuk ke dalam amplop cokelat—amplop cicilan pinjol.
Doni melangkah keluar dari kamar mandi dengan kaki yang terasa begitu berat. Di kamar tidur yang hanya diterangi lampu tidur remang-remang, Silvi sedang berbaring miring di atas kasur lipat, menyelimuti Ozil yang sudah tertidur lelap. Napas Silvi terdengar agak memburu dan berat, dadanya kembang kempis secara tidak teratur.