Rumah Tanpa Rahasia

Sundayana
Chapter #13

Bab 13: Senyum Pucat dan Resep Pertama

Aroma obat-obatan dan antiseptik yang khas menyengat hidung Doni saat ia melangkah keluar dari apotek klinik pratama pagi itu. Di tangannya, sebuah kantong plastik putih kecil berisi dua botol vitamin penambah darah dan satu strip obat antibiotik tergenggam erat.

​Doni menatap kantong plastik itu, lalu beralih menatap lembaran uang kertas di dalam dompetnya. Uang seratus delapan puluh lima ribu rupiah yang baru saja berpindah tangan ke kasir apotek itu sebenarnya adalah porsi uang yang sudah dialokasikan untuk menutupi cicilan tenggat waktu aplikasi pinjol.

​Ada rasa cemas yang sempat menyelinap di benak Doni. Bayangan teror telepon yang akan kembali berdering nyaring jika cicilan itu kurang melintas di kepalanya. Namun, Doni dengan cepat menggelengkan kepala, mengusir bisikan ketakutan itu jauh-jauh. Pelajaran dari malam kemarin terlalu berharga untuk dilupakan: kesehatan Silvi dan keutuhan jiwa istrinya jauh lebih berharga daripada ketakutannya pada gertakan penagih utang.

​Dengan langkah mantap, Doni mengendarai motor matic-nya kembali ke rumah.

​Saat pintu kayu rumah dibuka, aroma harum gurih kaldu ayam langsung menyambutnya. Di dapur kecil yang bersih, Silvi sedang berdiri di depan kompor, diaduknya panci kecil berisi bubur ayam hangat. Wajah Silvi masih tampak agak pucat, namun binar di matanya jauh lebih segar setelah mendapatkan istirahat yang cukup semalam.

​"Sudah ditebus obatnya, Bi?" tanya Silvi sambil menoleh dan mengumbar senyum tipis.

​Doni mendekat, meletakkan kantong plastik obat di atas meja makan, lalu mengambil alih sendok kayu dari tangan istrinya. "Sudah, Yang. Sekarang kamu duduk di meja, biar aku yang teruskan aduk buburnya. Habis sarapan ini, kamu wajib minum obatnya sampai habis."

​Silvi menatap Doni dengan pandangan ragu. "Uang cicilan buat lusa gimana, Bi? Sisa uang Ojol kamu semalam cukup?"

​Doni tersenyum tenang, menatap mata istrinya tanpa ada lagi yang disembunyikan. "Nggak cukup kalau buat bayar penuh, Yang. Tapi nanti sore habis jam kerja harian lepas di kantor pusat selesai, aku mau coba kirim pesan jujur ke layanan pelanggan mereka. Aku bakal lampirkan bukti foto resep obat kamu dan bilang kalau aku baru bisa bayar setengahnya dulu minggu ini. Mau mereka marah atau ngancam, aku nggak akan lari. Kita hadapi dengan sisa uang yang ada."

Lihat selengkapnya