Suara denting sendok yang beradu dengan piring porselen terdengar seperti melodi paling indah di ruang makan kami malam ini. Wangi semur daging masakan Ibu—hidangan legendaris yang hanya keluar di momen-momen istimewa—memenuhi setiap sudut udara, bercampur dengan aroma parfum maskulin Ayah dan bau antiseptik khas yang selalu menempel pada jas putih mereka. Seolah-olah bau rumah sakit ikut merayakan keberhasilan malam ini.
Aku, Maura, duduk di sudut meja, menyesap jus jerukku pelan sambil memandangi wajah-wajah di hadapanku. Aku merasa seperti penonton di barisan paling belakang sebuah teater yang megah, menyaksikan sebuah adegan keluarga yang sempurna.
"Dokter Zafran. Kedengarannya pas sekali di telinga Ibu, kan, Yah?"
Ibuku, Dokter Aisyah, meletakkan jemarinya di atas punggung tangan Kak Zafran. Matanya berbinar menunjukkan kebanggaan yang murni, jenis tatapan yang tak pernah singgah padaku, sesering apa pun aku berprestasi dalam bidangku.
Malam ini adalah perayaan wisuda sarjana Kakak, satu langkah besar sebelum ia memasuki dunia koas yang sesungguhnya.
Ayahku tertawa bangga hingga bahunya berguncang. Sebagai seorang dokter senior, ia jarang menunjukkan ekspresi emosional yang meluap-luap, namun malam ini berbeda. "Tentu saja. Gelar sarjana sudah di tangan, tinggal selangkah lagi menuju sumpah dokter. Selamat, Jagoan! Kamu benar-benar melampaui ekspektasi Ayah dengan lulus cum laude dari fakultas kedokteran."
Seperti biasa, Ayah dan Kak Zafran bukan hanya terlihat seperti anak dan ayah. Lebih tepatnya, mereka bagai pinang dibelah dua. Kejeniusan yang mengalir di darah mereka adalah bahasa yang tidak aku kuasai. Ayah adalah cermin masa depan Kak Zafran, dan Kak Zafran adalah kebanggaan masa kini bagi Ayah.
Kak Zafran tersenyum rendah hati, tipe senyum tulus yang membuat siapa pun akan luluh. "Ini berkat doa Ibu dan Ayah. Aku tidak sabar ingin segera masuk koas dan belajar langsung di lapangan. Aku ingin sehebat kalian berdua suatu saat nanti."