Suara dentuman benda pipih yang menghantam lantai terdengar bersamaan dengan tubuh Ibuku yang mendadak lunglai. Tangannya mencengkeram ujung meja dengan sangat kuat hingga buku-buku jarinya memutih dan pemandangan itu membuat kakiku secara refleks melangkah mundur. Tumitku terasa lemas seketika karena menyadari bahwa sesuatu yang sangat buruk pasti baru saja terjadi.
Sang Singa Betina yang beberapa menit lalu seolah ingin melahapku hidup-hidup kini justru tampak tak berdaya dengan napas yang tersengal. Ia hanya mampu menyebut nama Zafran dengan suara yang sangat lirih dan bergetar.
"Ibu, apa yang terjadi?" tanyaku sambil mencoba membantunya untuk berdiri.
Namun apa yang kudapat? Ibu justru menyentak tanganku dengan kasar seolah bantuanku sama sekali tidak berarti di matanya.
"Ayah!" jerit Ibu. Ia memilih menghabiskan sisa tenaganya untuk memanggil Ayah daripada menjawab pertanyaanku.
Bi Yaya yang hendak membersihkan meja makan tersentak kaget kemudian segera berlari memanggil Ayah begitu melihat tangan Ibu terangkat ke udara. Gerakan tangan itu seolah menunjukkan bahwa Ibu sedang tenggelam di dasar laut dan bersusah payah menggapai oksigen di permukaan.
"Pak, Ibu, Pak!" seru Bi Yaya. Aku mendengar wanita paruh baya yang telah bekerja di rumah kami selama sepuluh tahun itu gelagapan saat berusaha menyampaikan kondisi Ibuku yang tampak sangat berbeda dari biasanya.
Suara derap langkah sepatu pantofel Ayah mendekat dengan tergesa. Aku kembali mundur saat Ibu meraih tangan Ayah lalu memilih berpegangan erat pada lengan kekar itu.
"Ayah, Zafran," ucap Ibu dengan suara yang tertahan di tenggorokan.
Ibu kembali lunglai dan tidak mampu bangkit meskipun Ayah sudah berpijak kuat untuk menopang tubuhnya. Ayah kemudian berjongkok demi menyejajarkan wajahnya dengan wajah Ibu agar suara lirih itu terdengar jelas di telinganya. "Kenapa dengan Zafran?"
"Zafran hilang terseret arus."