Begitu aku melangkah masuk ke dalam kamar, tangisanku pecah seketika. Tenggorokanku terasa tercekat saat aku menyebut nama Kak Zafran berulang kali dalam isak yang tak terbendung.
"Tidak mungkin ... bagaimana bisa?"
Meskipun aku hanyalah planet kecil yang tak pernah terlihat di mata Ayah dan Ibu, Kak Zafran adalah satu-satunya orang yang menganggapku ada. Kini, pusat gravitasiku itu hilang. Air mataku terus mengalir tanpa bisa kucegah. Berulang kali aku memukul dada sendiri, berusaha keras untuk tidak berprasangka berlebihan.
'Hilang belum tentu tiada. Harusnya masih ada harapan,' pikirku berusaha menguatkan diri.
Namun, jeritan Ibu dari ruang makan kembali menembus dinding kamarku, terdengar begitu pedih. Apakah Ibu mendapat kabar lainnya? Aku hanya bisa menerka dalam ketakutan yang mencekam.
Malam itu, mataku sama sekali tidak bisa terpejam. Aku duduk di tepi ranjang, lalu bangkit dan mondar-mandir sambil menggigit kuku ibu jariku dengan cemas. Membiarkan pintu kamar terbuka lebar agar bisa terus memantau pergerakan Ayah dan Ibu di luar sana. Aku terjaga di kegelapan, menunggu dering ponsel yang menentukan segalanya.
"Ibu harus ke sana! Ibu tidak bisa tinggal diam!" Lagi-lagi Ibu berteriak.
Kali ini derap langkahnya yang menaiki tangga terdengar sangat keras. Aku segera keluar dari kamar dan mengintip dari celah pintu kamar Ibu yang terbuka. Di sana, Ibu terus menggumamkan nama Kak Zafran berulang kali sembari mengemasi pakaian ke dalam koper dengan gerakan yang serampangan.
Sementara itu, Ayah masih mondar-mandir di ruang tengah. Ponselnya terus menempel di telinga, menghubungi kolega dokter di Kalimantan. Suaranya terdengar berusaha tetap tenang, namun ekspresi frustrasi terpampang sangat jelas di wajahnya.
Saat suara decitan roda koper Ibu terdengar mendekat ke arah pintu, aku memberanikan diri menghampirinya.
"Ibu ... aku ikut," ucapku lirih sambil menyentuh pergelangan tangan Ibu.
Namun, Ibu segera menyentak tanganku dengan kasar. Ia sama sekali tidak menoleh, seolah-olah tidak mendengar suaraku. Tatapannya kosong, matanya merah dan basah, sementara bibirnya terus bergetar tanpa mengeluarkan suara.