Empat hari telah berselang tanpa satu pun kabar yang datang dari Ayah maupun Ibu. Namun, berita tentang Kak Zafran justru terus bermunculan di jagat media sosial hingga membuat dadaku semakin sesak. Nama Kakak kini berseliweran sebagai salah satu mahasiswa Fakultas Kedokteran yang sedang menjalankan tugas koas dan dikabarkan hilang tertelan ganasnya arus sungai yang hingga saat ini belum juga kunjung ditemukan.
Hingga sore itu ....
Aku yang seperti biasa menghabiskan waktu di dalam kamar bersama kanvas dan cat minyak tiba-tiba dikejutkan oleh kedatangan Pamanku yang baru saja tiba.
"Maura."
Suara yang familiar itu terdengar beriringan dengan ketukan pintu hingga membuatku segera menaruh palet di tangan kemudian membukanya.
"Iya, Paman," jawabku saat kedua netra kami bertemu.
Bukan hanya Paman saja yang datang ternyata karena beberapa saudara lainnya juga terlihat sudah berada di rumah. Mereka tampak sibuk mengurus sesuatu tanpa memberitahuku apa pun.
"Setelah Isya nanti bersiaplah karena kita akan mengadakan pengajian," ucap Paman memberi tahu.
Jantungku seketika mencelos. Aku membatin dalam hati tentang apa yang sebenarnya sedang terjadi.
"Apa—"
Belum sempat aku menuntaskan ucapan, Paman seolah bisa menebak keresahan dari raut wajahku yang berubah tegang. Ia lalu menggelengkan kepala dengan pelan.
"Belum ketemu. Semoga dengan doa bersama, kakakmu bisa segera ditemukan meskipun ...." Paman menghela napas sejenak sebelum melanjutkan ucapannya. "Sudahlah, kita berdoa saja yang terbaik. Semoga Allah segera menunjukkan di mana keberadaan jasad kakakmu," lanjutnya sambil menepuk bahuku sebelum akhirnya melangkah pergi.
Aku menatap setiap sudut rumah dengan nanar saat melihat para kerabat memenuhi ruangan guna mengatur acara yang akan diselenggarakan nanti malam. Apakah Kakak akan pulang dalam peti jenazah itu sudah menjadi kepastian? Seolah tidak ada lagi harapan bagiku untuk bisa melihat senyum Kak Zafran lagi di dunia ini.