Aku bisa merasakan tatapan penuh keraguan dari semua orang yang kini tertuju ke arahku. Jangankan mereka, aku sendiri pun nyaris tidak memercayai ucapanku yang terdengar begitu tidak masuk akal. Kalimat itu terlontar begitu saja seolah bisikan yang baru saja kudengar memang benar-benar nyata. Bekas sentuhan tangan Kak Zafran yang terasa sangat dingin seakan masih tertinggal di kulitku, menciptakan sensasi aneh yang hanya bisa kurasakan sendiri di tengah kerumunan ini.
"Maura, apa yang sebenarnya kamu katakan?" Tanteku mendekat kemudian menarik kedua bahuku guna mendesakku agar menatapnya.
Sementara itu, Kakek tampak tertegun diam di tempatnya. Beliau seolah sedang mencerna ucapanku dengan napas yang sedikit tersengal lalu menatapku dalam.
"Maura, kamu tahu dari mana?" tanya Kakek dengan dahi yang berkerut.
"Benar, Kek. Kak Zafran sendiri yang mengatakan itu padaku. Aku disuruh untuk menjemputnya," tegasku sembari mengeratkan genggaman tanganku.
Kakek kemudian membisikkan sesuatu kepada Om Ramli yang duduk tepat di sebelahnya. Tidak berselang lama, Om Ramli bangkit berdiri dan kembali lagi dengan sebuah ponsel di tangannya. Aku hanya bisa memperhatikan saat Kakek mulai melakukan panggilan telepon untuk menyampaikan detail lokasi yang baru saja kuceritakan. Aku menarik napas lega karena ternyata Kakek memercayaiku.
"Eyang, bagaimana mungkin Eyang bisa begitu saja percaya pada ucapan Maura?" protes Tante Mia yang masih menyimpan keraguan besar di wajahnya. "Dan kamu, Maura ...." Tatapannya kembali beralih tajam ke arahku. "Tahu dari mana informasi itu? Apa kamu baru saja bermimpi atau itu hanya sekadar khayalanmu saja?"
"Aku tidak sedang bermimpi, Tante. Kak Zafran baru saja datang ke sini dan ia duduk tepat di sampingku," ucapku dengan suara tegas serta penuh penekanan guna meyakinkan mereka semua.
Seketika itu juga tatapan semua orang seolah menghujamku tanpa ampun. Aku membatin dengan keras bahwa reaksi sinis seperti itu memang pantas kudapatkan karena mana mungkin orang lain bisa percaya pada hal yang tidak masuk akal. Namun, dalam lubuk hatiku yang terdalam, aku tahu bahwa ini benar-benar nyata dan bukan hasil imajinasiku semata.
"Kamu minum dulu, Maura. Kamu sepertinya hanya kelelahan. Kamu tahu apa? Tempat seperti apa di sana saja kamu tidak tahu, kan? Jangan menambah masalah," tukas Tante Mia sambil menarik lenganku sedikit. "Banyak tamu di sini, jangan kau gunakan imajinasimu di saat yang tidak tepat," bisiknya dengan nada memperingatkan.
Aku mendengkus kesal lalu menyentak tangan Tante Mia dengan kasar. Aku segera bangkit dan berlari pergi meninggalkan acara yang masih berlangsung. Begitu sampai di dalam kamar, aku langsung mengunci pintu rapat-rapat.
Dari balik pintu, aku masih bisa mendengar suara lantunan doa yang kembali diteruskan. Aku duduk di tepi ranjang sembari mencengkeram ujung seprei dengan penuh kekesalan. Pikiranku melayang jauh membayangkan kemungkinan terburuk. Bagaimana jika itu benar-benar Kakak yang meminta tolong, namun mereka justru menganggap ucapanku sekadar gurauan?
"Ya Allah ... semoga Kak Zafran selamat. Jangan biarkan Kakak pergi meninggalkanku sekarang. Aku belum siap," bisikku dengan penuh kepiluan.
***