Rumah Tanpa Suara

Noveria
Chapter #7

Chapter 6- Pulang dalam Peti Jenazah

Aroma minyak kayu putih yang menyengat adalah hal pertama yang menyambut kesadaranku. Aku mengerjap sembari memandang langit-langit kamar, mencoba mencari kepingan memori yang sempat hilang saat kegelapan menyergapku tadi siang.

"Maura, kamu sudah sadar?" Suara Tante Mia membuat pandangan mataku turun dan segera beralih ke arah samping.

"Tante ...." ucapku dengan suara parau.

Seketika itu juga satu kepingan puzzle dari memori yang kucari mendadak melintas. Air mataku langsung luruh begitu ingatan tentang ucapan Om Ramli kembali menghantam kepalaku.

"Tante, Kak Zafran—" Ucapanku tertahan di kerongkongan karena aku tidak sanggup untuk melanjutkan lebih jauh lagi. Dadaku terasa sesak luar biasa begitu menyadari bahwa Kakak akan benar-benar pulang dalam wujud jenazah.

Tante Mia duduk di tepi ranjang lalu mengangkat tengkukku perlahan. Ia memintaku untuk duduk dan menyesap segelas air putih tanpa sepatah kata pun. Wanita paruh baya itu pun tampak habis menangis karena matanya terlihat sembab dan memerah.

"Bersiaplah, beberapa jam lagi Ayah dan Ibumu datang. Ganti pakaianmu dan cuci muka," ucapnya dengan nada yang sangat berbeda. Suara yang kemarin terdengar ketus padaku kini telah berubah menjadi begitu lembut. Tante mengusap puncak kepalaku sebelum akhirnya melangkah keluar dari kamar.

Sementara itu, aku masih terdiam di dalam kamar sembari meratapi kepergian Kakak yang terasa terlalu cepat. Mimpi Kakak untuk menjadi seorang dokter padahal sudah berada di tengah jalan. Tinggal satu langkah lagi perjuangannya akan membuahkan hasil, namun takdir kematian justru lebih dulu memilihnya tepat di pijakannya saat ini.

***

Pukul sebelas malam. Suara sirene ambulans meraung-raung memecah keheningan sesaat di tengah acara tahlilan para kerabat serta tetangga. Begitu ambulans dan deretan mobil berbaris memasuki pelataran rumah, semua orang bangkit seketika lalu menghambur satu per satu ke luar.

Aku hanya berdiri mematung di ambang pintu sembari mengamati setiap kesedihan keluargaku dari kejauhan. Semua orang sangat menyayangi Kakak. Kak Zafran bukan sekadar kebanggaan Ibu dan Ayah, melainkan kebanggaan seluruh keluarga besar. Lelaki yang di mataku nyaris tanpa cela itu memiliki kecerdasan, kerendahan hati, serta ketulusan yang menjadi alasan jelas mengapa kepergiannya menjadi luka sedalam ini bagi semua orang.

Aku melihat Ayah dan Ibu turun dari mobil. Ibu tampak begitu lemas dengan wajah sepucat kapas dan hampir limbung begitu peti jenazah itu dikeluarkan dari mobil untuk disemayamkan di ruang tengah.

"Zafran!"

Lihat selengkapnya