Ibu, yang semula duduk di tepi ranjang, tiba-tiba bangkit dan tanpa peringatan menampar pipiku dengan keras. Aku tersentak dengan kedua mata yang membulat, air mata pun langsung merebak memenuhi pelupuk mata.
"Aisyah!" bentak Tante Mia pada Ibuku. Ia mendekat dan langsung berdiri di depanku, menghalangi serangan Ibuku untuk yang kedua kalinya. "Apa yang kamu lakukan? Istigfar, Aisyah," ucap Tante Mia sembari menarik lenganku kuat-kuat agar aku tetap bersembunyi di balik punggungnya.
Ibu masih memberikan tatapan tajam padaku seolah semua ini belum berakhir. Namun, Ayah yang merangsek masuk ke dalam kamar segera menarik lengan Ibuku untuk kembali duduk dan meminta Tante Mia membawaku pergi sejenak.
"Mia, bawa Maura ke kamarnya. Cepat!" titah Ayah tegas. Ia segera memeluk Ibuku. Aku bisa menebak maksud sikap Ayah yang ingin menenangkan suasana hati Ibu yang sedang kacau. Tapi ... aku yang baru saja terkena tamparan itu seolah tidak berarti apa pun di mata Ayah.
"Maura, kamu ini malah bikin masalah," gerutu Tante Mia sembari menarikku yang berdiri mematung untuk segera keluar dari kamar orang tuaku. Begitu langkah kami menjauh, suara dentuman pintu yang tertutup terdengar nyaring. Aku menoleh ke arah sana dengan dada yang semakin sesak.
Begitu masuk ke dalam kamar, Tante Mia langsung menyuruhku diam dengan tatapan tajam.
"Maura, jangan keluar dari kamar. Mengerti? Biarkan kami mengurus prosesi pemakaman Zafran untuk besok siang. Ibu dan Ayah kamu itu batinnya sedang terguncang karena kehilangan kakakmu. Jadi mengertilah, Maura."
Aku mendengkus lalu memalingkan wajah. Tante Mia keluar kamar dan mengunci pintu dari luar.
Di luar, aku mendengar kesibukan para keluarga yang lewat di depan kamarku sembari berbincang membahas rencana esok hari. Sementara itu, aku terperangkap hanya karena ingin Ibu mengakui keberadaanku. Aku meremas ujung seprai sembari menatap langit-langit kamar.