"Kehilangan ibu bukan hanya tentang kepergian, tetapi tentang segalanya yang belum sempat.
-VYN
“Kamu tuh jangan selalu nangis. Ibu sudah tenang di sana... sudah nggak merasakan sakit lagi.”
Suara Ayah terdengar pelan di sampingku.
Tangannya menepuk bahuku, canggung, seperti seseorang yang tidak benar-benar tahu bagaimana cara menenangkan orang lain.
Aku hanya diam.
Pelan-pelan kuusap air mata yang jatuh di pipiku dengan punggung tangan. Rasanya percuma menjelaskan apa pun. Kata-kata seperti tidak pernah cukup untuk menggambarkan apa yang sebenarnya kurasakan.
“Ibu pasti nggak mau lihat kamu terus sedih seperti ini,” lanjut Ayah.
Aku tetap tidak menjawab.
Orang-orang selalu mengatakan hal yang sama.
Ikhalaskan.
Ibu sudah tenang.
Waktu akan menyembuhkan.
Aku menunduk, menatap lantai ruang tamu yang terasa begitu asing.
Mereka semua selalu mengatakan bahwa aku harus ikhlas. Namun mereka tak pernah tahu bahwa yang kupunya hanya ibu... dan aku justru kehilangannya.
Ayah berdiri setelah beberapa saat. Ia menarik napas panjang, lalu berjalan menuju kamarnya tanpa mengatakan apa-apa lagi.
Suara pintu yang tertutup pelan terdengar di belakangku.
Dan rumah itu kembali sunyi.
Aku duduk di ruang tamu.
Jam dinding berdetak perlahan.