Rumah Tanpa Suara ibu

laura
Chapter #2

RUMAH TANPA SUARA

Aku meninggalkan dapur, menutup pintu dan mematikan lampu seperti biasa. Rumah kembali tenggelam dalam sunyi yang terlalu akrab. Aku berjalan ke kamar. Tatapanku langsung jatuh pada foto di dinding, foto masa kecilku bersama ibu. Senyum kami di sana terlihat begitu hidup, seolah waktu belum pernah mengambil apa pun dariku.

“Kira-kira ibu sedang apa ya di sana?” bisikku pelan.

Aku meraih ponsel, membuka galeri, dan menemukan satu foto ibu. Wajahnya yang hangat seketika membuat dadaku sesak. Aku mendekap ponsel itu erat, memejamkan mata, seolah bisa merasakan kehadirannya sekali lagi.

“Tuhan... tolong sampaikan pada ibu, aku rindu.”

Doa itu nyaris tak bersuara. Namun cukup untuk membuat air mataku jaatuh perlahan. Malam semakin larut, dan dalam pelukan rindu yang tak pernah benar-benar hilang, aku akhirnya terlelap.

~

Aku melihat ibu duduk di kursinya seperti biasa. Posisi yang begitu familiar, seolah waktu tak pernah bergerak sejak terakhir kali ia ada.

Ia menatapku... lalu tersenyum.

Bukan senyum hangat yang dulu selalu menenangkanku. Melainkan senyum tipis, dingin–seolah meremehkan.

“Kamu pikir mudah, Kak?” ucapnya singkat.

Aku membeku.

Tenggorokkanku terasa kering, seperti ditelan sunyi. Pita suaraku seolah menghilang, tak mampu mengeluarkan satu kata pun... padahal begitu banyak yang ingin kusampaikan.

Aku ingin bilang–hidupku tidak lagi sama. Aku ingin bilang–sejak ibu pergi, semua berubah... bukan perlahan, tapi seperti diputar seribu dejarat tanpa arah. Aku ingin bilang–aku lelah.

Tapi tak satu pun kata berhasil keluar. Aku hanya berdiri di sana, menatapnya, dengan dada yang penuh... namun kosong pada saat yang sama.

Aku melangkah mendekat padanya. Pelan.. ragu.. tapi rindu itu mendorongku lebih jauh.

Cukup dekat.

Tanpa berkata apa-apa, aku menaruh kepalaku di pangkuannya–seperti dulu. Seperti setiap kali aku sedih, lelah, dan merasa belum pernah cukup menjadi apa pun.

Tempat bersandar terbaikku... selalu pangkuan ibu. Sebuah elusan hangat mendarat di kepalaku. Lembut. Pelan. Nyata.

Dan seketika, aku merasakan hangat yang selama ini hilang dariku.

“Aku harap ini agak lama...”

Air mataku mengalir tanpa bisa kutahan. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku merasa pulang. Namun–

Tepat saat hangat itu mulai terasa utuh, semuanya menghilang. Aku terbangun.

Gelap. Seunyi. Dingin.

Aku meraih ponsel dan melihat waktu–pukul dua dini hari.

Lihat selengkapnya