Rumah Tanpa Suara

Rosiana Quraisin
Chapter #1

1 - Rumah Tanpa Suara

Di atas bumi ini kuberpijak

Pada jiwa yangg tenang di hatiku

Tak pernah ada duka yang terlintas

Kubahagia

Suara musik menggema di dalam sebuah kamar berukuran tiga kali tiga meter itu. Sebuah kamar yang terlihat bak kapal pecah dengan segala sesuatu berada tak pada tempatnya. Baju-baju kotor berserakan di lantai. Ada pula di atas ranjang, di mana spreinya tertarik ke satu sisi, meninggalkan sudut kasur yang terbuka. Bantal dan guling bergeser jauh dari posisinya, serta selimut menjuntai hingga menyentuh lantai. Sementara itu, sebuah ponsel tergeletak di atas meja rias kecil. Layarnya menyala, memperlihatkan sebuah tangga lagu yang sedang memutar sebuah lagu lawas berjudul Kubahagia milik Melly goeslaw.

Dini mematut diri di depan cermin. Gadis yang telah mengenakan seragam putih abu-abu itu menatap penampilannya yang terpantul di sana. Lalu, mulai bernyanyi mengikuti alunan musik dengan sisir plastik yang dijadikan layaknya mikrofon. Tangan kirinya terangkat ke atas, sementara kepalanya mengangguk-angguk mengikuti irama sembari mengibaskan rambut panjangnya yang dibiarkan terurai dan berantakan.

“Dalam hidup ini ….” Dini bernyanyi dengan ceria sembari memutar tubuhnya dan melompat kecil. Suaranya yang merdu berhasil meresap lembut ke telinga orang-orang yang melintas di depan pekarangan rumahnya. Hingga tanpa sadar, keceriaan itu menulari mereka dengan ikut bersenandung kecil.

Sementara itu, ruang makan menghadirkan suasana yang jauh berbeda. Sunyi merambat di antara meja kayu dan kursi yang tertata rapi. Televisi dua puluh dua inci menyala dengan volume sedang di sudut ruangan yang menampilkan acara berita pagi. Kendati begitu, orang-orang yang berada di tempat itu tidak dapat mendengarnya. 

Sebab, mereka adalah penyandang bisu dan tuli. 

Manik Surya memusatkan perhatiannya pada layar televisi, tepatnya pada sosok juru bahasa isyarat yang berdiri di sudut layar. Sosok wanita itu tengah menerjemahkan informasi arus lalu lintas Jakarta dengan gerakan tangan yang tegas dan terukur. Surya menonton sambil sesekali menyesap teh hangat dari cangkirnya. Uap tipisnya naik perlahan, lalu lenyap di udara pagi.

Seorang gadis duduk dengan punggung tegak di ujung meja makan, di seberang Surya. Tatapannya fokus pada buku pelajaran yang terbuka lebar di hadapannya, sementara tangan kanannya menyendokkan nasi goreng ke mulut. Gadis itu adalah Dina, saudara kembar Dini.

Keduanya nyaris tak terbedakan, mulai dari wajah, rambut, hingga postur tubuh mereka. Namun, hidup memberi garis takdir pemisah yang tak kasatmata di antara keduanya. Dina terlahir tanpa kemampuan mendengar dan berbicara, sementara Dini tumbuh normal, menjadi satu-satunya anggota keluarga yang mampu mendengar dan berbicara. Oleh karena itu, bahasa isyarat menjelma menjadi bahasa utama di rumah ini, Rumah Tanpa Suara.

Surya menoleh ke arah kursi kosong di sebelah Dina. Alisnya sedikit berkerut. Pria yang usianya mendekati lima puluh tahun itu mengetukkan jari-jarinya perlahan di atas buku Dina untuk mengalihkan perhatian gadis itu dari halaman yang sedang dibacanya. Dengan gerakan tangan yang tenang dan jelas, Surya bertanya, “Di mana Dini?”

Dina menggeleng, lalu kembali menyelami kalimat demi kalimat pada buku pelajarannya. Namun, konsentrasinya pecah ketika Ratna, ibunya, hadir dari arah dapur dengan membawa dua kantong plastik yang berisi kue buatannya dan diletakkan di atas meja makan. Wanita berparas cantik itu duduk di samping Surya sembari mengetukkan jari di atas buku putrinya. Dengan gerakan lembut, ia memberi titah, “Cepat, panggil Dini! Nanti kalian bisa terlambat ke sekolah.”

Dina mengangguk singkat. Menutup bukunya, kemudian bangkit. Lalu, berjalan menaiki satu persatu anak tangga dengan malas, sehingga langkahnya terasa begitu berat. Wajahnya datar tanpa ekspresi. Dini, adiknya itu memang menyebalkan. Dini suka sekali membuat masalah dengan menunda atau menyepelekan waktu. Seperti saat ini, ketika semua orang telah berada pada rutinitas sarapan, Dini justru masih berkutat dengan urusannya sendiri, entah baru mandi atau memakai seragam. 

Dina tak suka itu. Sebab, sejak kecil ia lebih suka hidup disiplin dan teratur, mengikuti jadwal dan kebiasaan yang tak pernah berubah. Baginya, waktu adalah sesuatu yang harus ditaati, bukan ditunda. 

Di lain sisi, suara musik masih menggelegar dari kamar Dini. Dina langsung mengetuk pintu setelah sampai di depan kamar. 

Sekali. 

Lihat selengkapnya