Rumah Tanpa Suara

Rosiana Quraisin
Chapter #2

2 - Dua Dunia yang Berbeda

Cuaca kian cerah. Kicau burung-burung pun saling bersahutan di atas pohon, di pekarangan Sekolah Luar Biasa Tunarungu Jakarta.

Dina terus fokus melihat gerakan tangan dan ekspresi wajah gurunya yang sedang menerangkan di depan kelas. Sesekali ia juga mencatat materi pada layar proyektor di buku catatannya. Berbeda halnya dengan Dini yang bisa bersekolah di sekolah umum, Dina memilih untuk bersekolah di SLB Tunarungu Jakarta ini. Berkat otaknya yang pintar, Dina bisa mendapat beasiswa dari pemerintah untuk bersekolah di sekolah swasta ini.

“Din, kamu mau ke kantin?” ajak Mila usai pelajaran selesai.

Dina menatap gadis berambut pendek itu yang berdiri di samping kursinya. Seorang gadis yang juga merupakan penyandang tunarungu, sama sepertinya. Lalu, tatapannya beralih ke arah dua temannya yang lain, yang berdiri di depan kelas, menunggunya.

Dina menggeleng. “Nggak, kamu duluan aja. Aku mau mengerjakan tugas dari Pak Wahyu di perpus,” balasnya. 

Mila menangguk dan berlalu pergi bersama teman-temannya. Dina memang dikenal sebagai murid yang pendiam dan tertutup. Ia tidak banyak bergaul dengan teman-temannya. Di mana lebih suka menghabiskan waktu untuk mengerjakan tugas atau membaca buku di perpustakaan. Bagi Dina, ia sudah merasa cukup dengan dunianya sendiri. Bahkan, gadis itu juga belajar untuk tidak terlalu peduli pada sekitar. 

Namun, di balik ketenangan wajah Dina, tak banyak orang yang tahu jika gadis itu menyimpan beban. Beasiswa yang ia terima bukan sekadar penghargaan, melainkan tanggung jawab besar. Ia tahu, satu kesalahan kecil yang dilakukannya bisa merenggut beasiswa yang selama ini diterimanya. Bagaimana pun salah satu syarat untuk terus mendapat beasiswa adalah dengan tidak membuat masalah di sekolah. Ditambah, ia juga tak ingin membuat ayahnya yang hanya seorang petugas kebersihan di sebuah Gedung Menara J, harus menanggung seluruh biaya sekolahnya yang sangat mahal itu. Oleh karenanya, Dina selalu menjaga diri supaya tetap berada di jalur yang aman.

Di lain sisi, manik Dini tampak fokus memperhatikan Pak Danang–guru Matematika SMA Permata, yang sedang menerangkan materi di depan kelas. Namun, kenyataannya sejak tadi pikiran Dini sudah tak ada di kelas ini. Benaknya teringat akan ajakan Arga pagi tadi.

“Kalau kita menang, kita bisa tampil nyanyi di atas panggung. Gue janji deh, nanti gue bakal main bagus.”

Jujur saja, Dini sangat ingin mengikuti audisi tersebut. Namun, ia tahu, hal itu tak akan mudah. Oleh sebab itu, ia mengucapkan selamat tinggal pada keinginannya itu. Ia melepaskan dan akan melupakannya. Meski sulit, tapi ia yakin bisa.

Bel pulang sekolah meraung. Kelas kacau seketika. Dini pun menyudahi lamunannya dengan segera merapikan buku-bukunya yang ada di atas meja. Sementara, Pak Danang masih berbicara tentang pekerjaan rumah, tetapi sudah banyak yang tak mendengarkan. 

“Oke, lusa bapak akan mengadakan ulangan Matematika. Jadi, persiapkan diri kalian.”

Keriuhan yang sejak tadi melanda kelas mendadak hening seketika. Begitu pula Dini yang termangu mendengar ucapan yang keluar dari mulut Pak Danang. Ia mendesah pelan, napasnya sarat akan kecewa dan enggan. Pasalnya, di antara semua pelajaran, Matematika adalah mata pelajaran yang paling Dini hindari. Baginya, setiap rumus yang tertulis hanya akan menambah beban di kepalanya. 

***

Petik demi petik senar gitar terdengar mengalun indah di ruang musik. Beberapa siswa telah larut dalam irama musik tersebut, membuat suasana tampak begitu syahdu.

Kalau ada, sembilan nyawa

Mau samamu saja semuanya

Lihat selengkapnya