Dini terpaku menatap pantulan dirinya di kaca lobi kantor polisi yang kusam. Wajahnya tak lagi berwarna, dan matanya kini redup tanpa cahaya. Rasa sedih yang mendalam seolah telah menghisap seluruh semangat hidupnya setelah mendengar suara-suara yang masuk ke telinganya hari ini.
Dini sudah biasa menjadi jembatan suara bagi keluarganya lewat bahasa isyarat. Gadis itu tidak hanya menerjemahkan kata, melainkan otaknya juga harus bekerja dua kali lipat, tangannya harus lincah, sementara wajahnya harus tetap netral meski hatinya sedang hancur berantakan. Akan tetapi, hari ini berbeda. Beban yang ia tanggung terasa sangat berat dan menyakitkan, seolah menyengat seluruh tubuhnya tanpa henti.
Aroma asap rokok tercium sangat tajam di sudut ruangan. Surya duduk dengan bahu tegang. Seragamnya sobek di beberapa bagian, memperlihatkan luka lecet yang masih basah di lengannya. Matanya menyipit marah dengan alis bertaut rapat dan rahang yang mengeras menahan emosi.
Di hadapannya, Pak Baskoro tampak tak kalah garang. Pria bertubuh tambun dengan kemeja rapi itu wajahnya merah padam; urat lehernya menonjol dan matanya melotot lebar. Bibirnya bergetar menahan emosi sebelum akhirnya berteriak dengan suara menggelegar, “Heh! Dia yang tiba-tiba belok! Gue udah di jalur yang benar! Jangan karena dia disabilitas, terus gue yang disalahin!”
Dini menarik napas panjang sembari menutup matanya seolah tak sanggup melihat dan mendengarnya lagi. Tangannya pun bergerak cepat menerjemahkan ke bahasa isyarat untuk ayahnya.
Surya menggeleng kuat-kuat. Dengan gerakan tangan yang cepat dan emosional, ia mengisyaratkan, “Dia bohong!” Tangan kirinya memeragakan lampu sein yang sudah dinyalakan dari jauh dengan hentakan penuh penekanan. Kemudian, ia menirukan gerakan orang menyetir sambil jari-jarinya memeragakan gerakan mengetik di ponsel. Wajahnya terlihat kesal.
Dini menelan ludah dengan susah payah, tenggorokannya terasa sesak. Dia harus menyampaikan amarah ayahnya dengan suara yang tetap tenang ke polisi. “Pak, Pak Surya bilang dia sudah menyalakan lampu sein dari jauh. Dia juga lihat Pak Baskoro ngebut sambil pegang HP.”
“Hah? Fitnah lo! Mana buktinya?! Gue nggak salah! Dia yang nyelip tiba-tiba!” pekik Pak Baskoro sembari memukul meja keras. Membuat Dini sontak terperanjat.
Selama hampir dua jam, Dini terjebak di antara amarah dua orang pria dewasa yang tak kunjung berakhir. Sayangnya, ia tak bisa mundur. Sehingga, mau tak mau, ia juga harus menyerap semua emosi kasar dari kedua belah pihak. Otaknya seperti dipaksa bolak-balik antara suara dan gerakan tangan. Hingga akhirnya, tangan gadis itu mulai terasa berat dan gerakannya pun melambat, karena lelah.
Akhirnya polisi memilih angkat bicara, “Cukup! Kita lihat CCTV yang sudah berhasil kita amankan dari toko di pojok jalan.”
Hening seketika. Semuanya saling menatap. Polisi pun menyalakan layar monitornya. Rekaman hitam-putih agak buram itu menunjukkan motor Surya melaju pelan dengan sein kiri berkedip. Lalu, detik berikutnya, mobil Pak Baskoro menghantam dari belakang tanpa rem sedikit pun. Si pengemudi jelas sedang menunduk ke pangkuannya, bermain HP.
Mendadak wajah Pak Baskoro tampak memucat. Mata yang tadi melotot kini melebar ketakutan, bibirnya bergetar. “Ya … gue … gue mungkin tadi agak kurang fokus,” gumamnya pelan. “Maaf, ya. Gue tanggung jawab buat kerusakan motor sama biaya obat Mas Surya.”
Dini menerjemahkannya ke Surya dengan tangan kanan menyentuh dada, lalu bergerak ke depan perlahan. “Pak Baskoro minta maaf,” katanya. “Dia juga akan membayar kerusakan motor dan obat Ayah.”
Surya menghela napas panjang, ada kelegaan yang muncul di matanya. Sayangnya, tidak dengan Dini. Bahkan, tersenyum pun tidak. Bagi Surya masalahnya sudah selesai. Namun, bagi Dini, semua bentakan dan kebohongan tadi justru masih membekas diingatannya.
“Bagaimana hasilnya?” Arga sejak tadi menunggu di ruang tunggu. Ia segera bangkit ketika melihat Dini keluar dari ruangan dan menghampirinya. Sepulang sekolah tadi, cowok itu dengan baik hati menawarkan diri untuk mengantarkan Dini ke kantor Polisi. Gadis itu pun tak bisa menolak, karena merasa terdesak.
“Syukurlah, si pengemudi mau bertanggung jawab,” jawab Dini, suaranya masih lemah.
Arga mengembuskan napas lega. “Terus, kondisi ayah lo gimana?”
Dini duduk di kursi ruang tunggu, yang diikuti Arga di sampingnya. “Ayah nggak apa-apa. Cuma lecet-lecet aja. Sekarang, mereka lagi ke rumah sakit buat pemeriksaan.”
“Lo nggak ikut?” Arga mengerutkan alis.
Dini menggeleng. “Nggak. Ayah bilang, dia bisa sendiri. Gue disuruh pulang.”
“Ya, udah. Yuk, gue antar lo pulang,” ajak Arga sambil berdiri dan meraih kunci motornya dengan semangat.
Dini langsung menggeleng dengan cepat. “Eh, nggak usah, Ga. Gue pulang sendiri aja.”
“Lah, kenapa?” Arga mengerut bingung. “Rumah kita, kan, kepeleset nyampe. Lagian, lo keliatan capek banget gitu. Gue antar aja, ya? Gratis, kok. Cepet lagi.”
Dini mendesah pelan. “Sebenarnya, gue tuh males banget berurusan sama pacar-pacar lo, Ga. Serius.”