Rumah Tempat Kita Pulang

Jun Prakoso
Chapter #1

Bab 1

Matahari semakin beranjak tinggi di samping awan. Cahaya silaunya memantul terang dari fasad kaca gedung-gedung pencakar langit yang angkuh mengepung kota.

Di bawah rimbun pohon trembesi, kehidupan berjalan. Orang-orang berlalu-lalang di trotoar taman. Di pinggirnya, para pedagang kaki lima berteriak menjajakan dagangan, pegawai kantoran menghabiskan sarapan di warung-warung, sedangkan pengemudi ojek daring yang bersandar di motor menunggu pesanan.

Di tengah hiruk pikuk yang acuh tak acuh itu, seorang anak kecil menawarkan jasanya kepada orang-orang di taman kota. Namun, tidak ada yang mengacuhkannya. Semua terlihat terburu-buru.

“Semir, Om?”

Setio 0, Dik!” panggil Setio.

Bocah itu berjalan menuju bangku Setio. Tubuhnya miring bertumpu pada kruk kayu kusam karena kaki kanannya terpotong di atas lutut. Ujung tungkainya terbalut perban seadanya yang sudah kecokelatan.

Sebuah kotak kayu berisi peralatan semir tergantung menyilang di ulu hatinya. Kotak itu diikat dengan tali lentur dari bekas ban dalam sepeda. Jalannya terseok-seok sambil menjaga keseimbangan, tapi wajahnya berseri-seri, seakan bahagia menerima pesanan pertama pagi itu.

Setio mencopot sepatunya. “Yang bersih!” perintahnya dengan nada datar.  

“Siap, Om!” Anak itu meletakkan kruk kayu kusam di tanah, lalu berjongkok pada lutut kiri satu-satunya. Kemudian dilepaskannya selempang kotak kayu ke atas rumput. Tangannya merogoh ke dalamnya untuk mengeluarkan selembar kain lap dan sebotol cairan pembersih.

Setelah itu, dia mulai menggosok sepatu Setio. Gesekannya teratur dan berulang, seakan mengikuti detak waktu yang semakin siang. Tangannya yang kurus bergerak lincah mengoleskan semir hitam dari kaleng pipih yang sudah penyok. Bau khas minyak semir menguar di udara. Meski napasnya terdengar berat, irama gosokannya sama sekali tidak kendur.

Keringat sebesar biji jagung menetes di pelipis anak itu, meluncur jatuh tepat di rumput. Dia mengusap dahi dengan lengan, tapi wajahnya malah tercoreng sikat yang dipegangnya. Anak itu meringis kecil lantaran keseimbangannya oleng dan harus menekan tungkai sisa kaki kanannya.

“Namamu siapa, Dik?” Suara bariton Setio memecah kebisuan.

Anak itu menghentikan pekerjaannya dan mendongak. “Zikri, Om,” sahutnya sopan sambil tersenyum.

“Kakimu kenapa?” tanya Setio sambil menunjuk perban yang melilit ujung sisa kakinya. “Jatuh?”

“Oh, ini?” Bocah itu menunduk sesaat, menatap ujung perbannya yang menguning. “Ini sisa operasi dua tahun lalu.”

Tangannya kembali lanjut menggosok sepatu. “Kata dokter, kakiku ada kanker di kaki. Kankernya seperti ulat yang terus makan tulang. Jadi kakiku harus dipotong supaya ulatnya nggak terus naik sampai ke perut.”

“Masih sakit?”

“Nggak, Om. Cuma kadang-kadang masih suka ngilu. Tapi nggak apa-apa, kok, Om. Aku ‘kan cowok, jadi harus kuat,” katanya ringan, tanpa beban.

Setio membisu, seakan ada sesuatu yang tersangkut di tenggorokannya.

“Zikri,” kata Setio sambil berdehem kecil, berusaha menghilangkan gatal di tenggorokannya. “Kalau masih sakit, kenapa nekat bekerja di luar begini?”

“Ibu cuma buruh cuci panggilan, Om,” jawab Zikri pelan. “Adikku masih kecil, baru umur lima tahun. Kalau aku cuma diam di rumah, kasihan Ibu, kerjanya terlalu berat. Kadang cucian sepi. Uang dari semir sepatu ini lumayan, Om. Bisa buat tambahan beli beras, atau buat beli obat pereda nyeri di apotek kalau kakiku lagi sakit banget.”

Setio terdiam. “Kamu masih sekolah, Zikri?”

“Enggak, Om. Sekolahnya gratis, tapi sumbangannya banyaaak.... Lagi pula teman-temanku suka jahil padaku, Om.”

Lihat selengkapnya