Rumah Tempat Kita Pulang

Jun Prakoso
Chapter #2

Bab 2

Selepas Isya, Gang Kelinci diterangi bohlam-bohlam kuning yang menggantung di depan pintu-pintu. Zikri melangkah terseok-seok di atas tanah becek, pangkal kruknya menekan ketiak yang sudah perih sejak siang.

Perut Zikri melilit. Sejak pagi dia hanya minum sebotol kecil air mineral. Sebungkus nasi berarti dua pelanggan hilang.

“Baru pulang, Zik?” sapa Mang Ijul yang sedang memilah botol-botol plastik di depan rumahnya.

“Iya, Mang.”

Bu Ningsih yang memasak aneka gorengan di ujung gang menggantungkan sodetnya sejenak. Disodorkannya sepiring gorengan yang sudah matang. “Zikri! Ambil sini, buat kamu!”

Zikri mengambil tahu goreng yang paling kecil. “Terima kasih, Bu Ningsih,” ucapnya sambil mengunyah. Di gang itu orang-orang makan paling banyak dua kali sehari. Tapi tidak ada yang membiarkan tetangganya kelaparan.

Pak Karta, kuli angkut yang baru turun dari bak truk, menepuk bahu Zikri saat berpapasan.

Di ujung gang, rumah beratap seng bertambal terpal biru itu menyala redup dari dalam. Zikri mengetuk pintu kayunya yang lapuk.

“Assalamualaikum.”

Pintu terbuka. Zikri meraih tangan ibunya dan menciumnya.

“Waalaikumsalam. Makan dulu, Nak. Ibu masak tempe orek.”

“Kakak pulang!”

Adiknya menghambur dari dalam dan memeluk pinggangnya. Zikri oleng, kruknya bergeser di tanah, tapi tangannya sempat menahan pada kusen pintu.

“Pelan-pelan, Sayang,” katanya sambil tertawa kecil.

Dia merogoh kotak semirnya dan mengeluarkan sebatang cokelat berbungkus mengilap. Harganya sama dengan upah menyemir empat pasang sepatu.

Tadi sore dia sempat lama menimang-nimangnya di depan rak toko swalayan mini sebelum membayarnya di kasir.

“Buat kamu.”

Adiknya memekik dan merebutnya.

Zikri menyandarkan kruk ke dinding tripleks, lalu menyerahkan lipatan uang kepada ibunya. “Buat Ibu.”

Ibunya menghitung. Tak lama dia terperanjat saat menemukan selembar seratus ribu di antara lipatan uang. “Yang ini... banyak amat, Nak?”

“Ada Om yang baik hati, Bu,” kata Zikri. “Namanya Om Setio.”

Perempuan itu memeluk putranya, terlalu lama bagi Zikri yang menganggap dirinya sudah besar.

Mereka makan bertiga di atas tikar plastik, di bawah bohlam yang menggantung dari kabel. Ibu Zikri menyuapi adiknya yang terus memegangi cokelat yang belum dibuka.

Selesai makan, bocah kecil itu menarik-narik lengan Zikri. “Celita Kapten Satlia,” ucapnya cadel.

“Kemarin sudah.”

“Lagi! Lagi!”

Zikri merebahkan badan di kasur tipis di samping adiknya. Ketiak kanannya berdenyut nyeri kelelahan. Tapi dia mulai bercerita tentang pahlawan berpakaian putih merah bata yang terbang mencari anak-anak tersesat di kota, lalu mengantar mereka pulang dan memberikan permen yang enak.

Adiknya mendengarkan sambil mengedot botol susu.

Tapi dia tertidur sebelum ceritanya habis, cokelat masih digenggamnya.

Zikri mencabut botol susu itu dari mulut adiknya pelan-pelan dan meletakkannya di luar kasur. Dibelainya rambut adiknya. Matanya semakin berat, dan tahu-tahu dia sudah terlelap.

Ibunya menyibak tirai dapur dan mendapati kedua anaknya sudah tidur berdampingan. Diselimutinya mereka rapat-rapat sambil tersenyum.

*

Perjalanan dua jam di kelas ekonomi membuat Setio gelisah. Dengung bising mesin jet dan ruang kaki yang terlalu sempit membuatnya beberapa kali ke toilet hanya untuk meluruskan lutut.

Setelah transit sejenak di Bandara Sepinggan, Balikpapan, dia harus berpindah ke pesawat baling-baling ATR berukuran lebih kecil menuju Bandara Juwata, Tarakan.

Namun, penderitaan sebenarnya baru dimulai setelah mendarat. Dari Pelabuhan Tengkayu I, Setio naik perahu cepat tiga jam menyusuri Sungai Sesayap ke Malinau.

Esok paginya dia berdesakan di dalam pesawat perintis dua belas kursi menuju Long Ampung. Kabin sempit, dengung mesin yang menenggelamkan suara sendiri. Hamparan hijau berbukit-bukit tanpa batas di bawah sana membuatnya paham kenapa tak ada jalan darat ke tempat ini.

Dari Long Ampung, perjalanan dilanjutkan berjam-jam dengan Toyota Hilux kabin ganda yang terguncang-guncang di jalan tanah, membelah pinggiran Hutan Kayan Mentarang.

Lewat pukul tiga sore, barulah dia tiba di Desa Long Betaoh, sebuah permukiman terpencil yang dipagari oleh rimbunnya pohon ulin raksasa dan kabut pegunungan perbatasan.

Desa itu tampak sepi, tak terlihat orang di luar rumah.

Lihat selengkapnya