Rumah Tempat Kita Pulang

Jun Prakoso
Chapter #2

Bab 2

Perjalanan dua jam di kelas ekonomi membuat Setio gelisah. Suara bising mesin jet, ruang kaki yang terlalu sempit, membuatnya beberapa kali ke toilet hanya untuk membuat kakinya leluasa.

Setelah transit sejenak di Bandara Sepinggan, Balikpapan, dia harus berpindah ke pesawat baling-baling ATR berukuran lebih kecil menuju Bandara Juwata, Tarakan.

Namun, penderitaan sebenarnya baru dimulai setelah mendarat. Untuk mencapai desa perbatasan yang disebutkan atasannya, Setio harus menyewa perahu cepat menyusuri arus Sungai Kayan, dilanjutkan dengan perjalanan darat menggunakan Toyota Innova yang terguncang-guncang di jalan tak berbatu membelah lebatnya Hutan Malinau.

Menjelang senja, barulah dia tiba di Desa Sekatak Bengara, sebuah permukiman terpencil yang dipagari oleh rimbunnya pohon ulin raksasa dan kabut pegunungan perbatasan.

Desa itu tampak sepi. Tidak ada anak-anak yang bermain di pelataran rumah panggung kayu. Setio melangkah keluar dari mobil sewaannya.

Setio langsung menemui kepala desa setempat dan memperkenalkan diri.

"Tiga malam lalu, listrik mendadak padam, padahal genset solar penuh. Tiba-tiba muncul cahaya terang lewat cepat di langit desa. Sangat terang... sehingga suasana desa sekejap seperti siang. Sekejap kemudian, hilang,” papar Kepala Desa.

“Benda itu seperti apa?”

“Tidak terlalu jelas, karena sangat cepat dan menyilaukan, sepintas seperti piramida...,” jelasnya.

"Apakah ada ledakan? Atau hawa panas?" selidik Setio sambil mencatat di buku catatan kecilnya.

"Tak ada," seorang warga lain menyela. “Tapi besok paginya... banyak ternak kami mati begitu saja. Tapi tidak ada luka.”

Tangan Setio tersentak. Dia berhenti menulis. Naluri jurnalisnya terusik. “Boleh saya lihat?” tanyanya.

“Kamang, temani Pak Setio,” perintah Kepala Desa meminta seorang pria dua puluh tahunan.

“Mari Ka!” ajak Kamang sambil menggerakkan tangannya dengan sopan. Dia berjalan keluar rumah panggung kepala desa itu, Setio mengikutinya “Lahan perkebunan dan peternakan kami sekitar satu setengah kilo dari sini, sebuah sistem pertanian dan peternakan terpadu,” jelas Kamang.

Sambil berjalan, Setio mengambil beberapa gambar sekitar. Semakin mendekat ke kawasan terpadu itu, saraf-saraf ototnya berkedut.

“Jejak medan elektromagnetik,” gumam Setio.

“Maaf, Ka?” tanya Kamang.

“Tidak apa-apa,” kilahnya, sambil terus mengambil gambar. “Apa saja yang diproduksi lahan terpadu ini?”

Kamang bercerita panjang lebar bahwa desa memproduksi beras, singkong, buah naga, dan sapi. Kotoran sapi dijadikan pupuk untuk perkebunan.

Di area peternakan, bau anyir yang aneh menyengat penciuman Setio—bukan bau busuk daging mati, melainkan bau ozon yang tajam. Baunya mengingatkan Setio pada ruang mesin fotokopi di kantor redaksinya.

"Itu mereka, Ka," tunjuk Kamang ke arah deretan bangkai sapi di dalam pagar pembatas.

Setio mendekat, lalu berjongkok di dekat bangkai sapi yang tergeletak kaku di atas rumput. Dia mengarahkan lensa kamera dan mengambil gambar.

Matanya menyipit, mencari-cari kejanggalan. Aneh. Tak ada setetes pun darah di rerumputan. Tidak ada pula jejak gigitan hewan buas. Mata sapi-sapi itu memutih mengerikan. Setio menyentuh tanah di sekitarnya. Tak ada bekas ban truk atau jejak sepatu lars pemburu. Hewan-hewan ini seakan mati begitu saja.

Perhatian Setio kemudian teralihkan ke luar batas lahan terpadu itu, tepat di ambang hutan lebat. Sekitar dua puluh meter dari tempatnya berjongkok, dia melihat bangkai seekor babi hutan ikut tergeletak kaku di semak-semak. Setio menghampirinya dan mengambil gambar. Sama seperti sapi-sapi ternak tadi, tak ada secuil pun luka di tubuh babi hutan liar itu.

Lihat selengkapnya