Nyeri di tulang rusuknya belum hilang meski batu kristal di tengah dadanya terus berdenyut hangat menyembuhkan jaringan yang rusak. Bola plasma panas yang menyambarnya masih terbayang di dalam benaknya.
Setio duduk di hadapan meja kerjanya. Dia menyeruput kopi hitam yang uapnya mulai menipis. Dia mengangkat gagang telepon, lalu mulai menekan nomor.
"Selamat pagi, Pak Baskoro," ujar Setio datar begitu nada sambung berhenti berbunyi. “Saya Setio, dari RTC Media.”
“Ya, Setio? Ada liputan soal apa pagi ini?” suara di seberang sana terdengar berat dan formal khas perwira menengah.
“Saya mau konfirmasi, Komandan. Tiga malam lalu di Desa Sekatak Bengara, ada kesaksian warga setempat melihat objek melintas di atas permukiman. Aliran listrik di sana padam serentak dan puluhan ternak mereka ditemukan mati.”
“Kapan itu?”
“Tiga malam lalu, Komandan.”
Hening sejenak di ujung sana. Bunyi kertas dibalik terdengar samar.
"Sekatak Bengara?" lanjutnya kemudian. "Saya pastikan, pada malam itu tidak ada agenda penerbangan militer maupun latihan gabungan di sektor itu."
"Bagaimana dengan radar kita?" pancing Setio.
"Sistem radar pertahanan kita tidak mendeteksi ada objek asing yang melintas. Tapi Pangdam telah memerintahkan Kodim Malinau turun melakukan penyelidikan berkaitan dengan laporan ternak warga yang mati.”
"Siap. Pernyataan ini bisa saya kutip untuk berita?"
"Naikkan saja. Tapi, jangan pelintir narasinya."
"Aman, Komandan. Terima kasih waktunya."
Setio mematikan sambungan.
*
Dia bersandar pada kursi redaksi. Matanya terpejam sejenak. Berurusan dengan petinggi militer selalu mengingatkannya pada peristiwa yang membuat orang mengenalnya dengan sebuah nama.
Lima tahun silam, dia meliput patroli TNI di perbatasan, ikut menembus semak pedalaman hutan belantara Papua bersama satu regu patroli.
Malam itu ketenangan hutan mendadak pecah oleh rentetan senapan mesin. Punggung Setio langsung dibanting ke tanah oleh seorang prajurit.
"Berlindung, Mas! Jangan angkat kepala!" teriaknya. Suara seraknya nyaris tenggelam oleh desing peluru yang merobek kulit batang-batang pohon di sekeliling mereka.
Kelompok separatis menyergap dari dataran tinggi. Hujan peluru yang gencar membuat delapan prajurit TNI tak mampu membalas tembakan.
Terdengar jeritan pilu tertahan. Seorang prajurit di garis depan tumbang, tertembus peluru di bahu. Kemudian satu erangan kesakitan terdengar lagi. Prajurit kedua tumbang terkena peluru di paha. Bau anyir darah segar tercium.
Setio mendekap kameranya erat-erat di balik akar beringin raksasa. Asap mesiu dan debu tanah yang terlempar ke udara menebal sehingga jarak pandangnya semakin kabur dalam gelap malam. Tapi dia tak mungkin hanya meringkuk menjadi saksi.
Sambil memastikan tak ada mata yang menoleh ke arahnya, disentuhnya bagian tengah dadanya.
Cahaya putih kemerahan menyelubungi tubuhnya, berbaur dengan pekatnya asap mesiu. Kemeja liputannya terurai, berganti rajutan setelan tempur putih merah bata. Dalam sekejap, dia melesat meninggalkan tempat pohon beringin itu.
Saat sebuah mortir rakitan terlontar dan turun siap memanggang sisa regu patroli, sosok tegap itu mendarat di tengah-tengah formasi. Dia mengulurkan tangan kanannya, seakan hendak menangkap mortir itu.
Mortir itu meluncur deras, tapi meledak di udara sebelum jatuh, seakan membentur tameng tak kasat mata. Bunga api menghujani tanah, tapi tak ada prajurit yang terluka. Cahaya ledakan yang terang memperlihatkan sosok sang penyelamat secara jelas, meski sekilas.
Para prajurit ternganga dalam gelap lupa dengan pelatuk di tangan mereka.
Setelah itu Setio melesat ke barisan penyerang. Diremukkannya senapan-senapan laras panjang mereka laksana ranting kering. Para pemberontak berteriak panik saat dilemparkan ke semak-semak tanpa tahu siapa yang menghantam mereka.
“Dia di pihak kita!” seru seorang prajurit.