Rumah Tempat Kita Pulang

Jun Prakoso
Chapter #3

Bab 3

Ribuan kilometer dari tempat kejadian, Setio duduk di hadapan meja kerjanya. Nyeri di tulang rusuknya belum hilang meski batu kristal di tengah dadanya terus berdenyut memulihkan jaringan. Bola plasma panas yang menyambarnya di atas danau Kalimantan masih terbayang.

Dia menyeruput kopi hitam yang uapnya menipis, lalu mengangkat gagang telepon, dan mulai menekan nomor.

“Selamat pagi, Pak Baskoro,” ucap Setio begitu nada sambung berhenti berbunyi. “Saya Setio, dari RTC Media.”

“Ya, Setio? Ada liputan soal apa pagi ini?” Suara di seberang terdengar berat dan formal khas perwira menengah.

“Saya mau konfirmasi, Komandan. Lima malam lalu di Desa Long Betaoh, ada kesaksian warga setempat melihat objek melintas di atas permukiman. Aliran listrik padam serentak dan belasan ternak ditemukan mati.”

“Kapan itu?”

“Lima malam lalu, Komandan.”

Hening sejenak di ujung sana. Bunyi kertas dibalik terdengar samar.

“Long Betaoh?” lanjutnya. “Saya pastikan, pada malam itu tidak ada agenda penerbangan militer maupun latihan gabungan di sektor itu.”

“Bagaimana dengan radar kita?”

“Sistem radar pertahanan kita tidak mendeteksi ada objek asing yang melintas. Tapi Pangdam telah memerintahkan Kodim Malinau untuk menyelidiki laporan ternak warga yang mati.”

“Siap. Pernyataan ini bisa saya kutip untuk berita?”

“Naikkan saja. Tapi, jangan pelintir narasinya.”

“Aman, Komandan. Terima kasih waktunya.”

Setio mematikan sambungan.

*

Dia bersandar pada kursi. Matanya terpejam sejenak. Setiap berurusan dengan petinggi militer, dia selalu teringat peristiwa yang membuat orang mengenalnya dengan sebuah nama.

Lima tahun silam, dia meliput satu regu patroli TNI di perbatasan dan ikut menembus pedalaman belantara Papua.

Malam itu ketenangan hutan mendadak dikejutkan oleh rentetan tembakan senapan mesin. Punggung Setio langsung dibanting ke tanah oleh seorang prajurit.

“Berlindung, Mas! Jangan angkat kepala!” teriaknya di tengah desing peluru yang mengikis kulit batang-batang pohon di sekeliling mereka.

Kelompok separatis menyergap dari dataran tinggi. Hujan peluru yang gencar membuat delapan prajurit patroli itu tak berkutik.

Terdengar jeritan pilu tertahan. Seorang prajurit di garis depan tumbang, tertembus peluru di bahu. Kemudian seorang lagi mengerang. Prajurit kedua roboh terkena peluru di paha. Bau amis darah segar tercium.

Setio mendekap tustelnya erat-erat di balik akar beringin raksasa. Asap mesiu dan debu tanah yang terlempar ke udara semakin pekat. Jarak pandangnya semakin kabur dalam gelap. Tapi dia tak mungkin hanya meringkuk menjadi saksi.

Dia merangkak menjauh diam-diam. Sambil memastikan tak ada mata yang menoleh ke arahnya, disentuhnya bagian tengah dadanya.

Cahaya putih kemerahan menyelubungi tubuhnya, berbaur dengan pekatnya asap mesiu. Kemejanya terurai, berganti rajutan setelan tempur putih merah bata. Dalam sekejap, dia melesat meninggalkan tempat pohon beringin itu.

Saat sebuah mortir rakitan terlontar turun siap mencabik sisa regu patroli, sosok tegap itu mendarat di tengah-tengah formasi. Dia mengulurkan tangan kanannya, seakan hendak menangkap mortir itu.

Mortir itu menukik cepat, tapi meledak sebelum jatuh lantaran membentur tameng kinetik tak kasatmata. Bunga api menghujani tanah, tapi tak ada prajurit yang terluka. Benderang cahaya ledakan menerangi sosok sang penyelamat secara jelas, meski sekilas. 

Para prajurit ternganga, lupa akan pelatuk di tangan mereka.

Setelah itu Setio melesat ke barisan penyerang. Diremukkannya senapan-senapan laras panjang mereka laksana ranting kering. Para pemberontak hanya bisa menjerit panik saat dilempar ke semak-semak.  

“Dia di pihak kita!” seru seorang prajurit.

Beberapa saat kemudian, tebing yang sempat ramai oleh desingan maut itu kembali senyap.

Sosok putih merah bata itu melayang turun, mendarat di hadapan komandan regu yang berdiri menahan perih luka di pelipisnya. Anak buahnya berdiri terperangah menyaksikan.

“Penyerang sudah lumpuh,” lapornya singkat kepada sang komandan.

Lihat selengkapnya