Di lantai teratas gedung pencakar langit berlapis kaca riben di pusat kota, Sang Taipan duduk bersandar di kursinya. Ruangan itu kedap suara sehingga hiruk-pikuk lalu lintas di bawah jendela sana menjadi pemandangan senyap.
Di tangannya, sebuah tablet digital menampilkan artikel investigasi terbaru. Jarinya yang menggeser perlahan layar itu. Sang Taipan terus menelusuri artikel itu baris demi baris. Senyumnya menarik kulit pipinya. Usianya sepuh, tapi wajahnya terlihat tidak lebih dari empat puluh, berkat injeksi rutin terapi sel punca rutin yang biayanya setara dengan harga satu unit apartemen.
Dia menekan tombol interkom. “Vino, ke ruanganku.”
Seorang pria berbadan bersih dan tegap masuk ke ruangan.
Sang taipan memperlihatkan artikel berita kepadanya. “Baca ini.”
Vino mengambil alih tablet. Matanya bergerak menyapu teks artikel. Hening beberapa saat.
“Melanggar kaidah aerodinamika, luput dari deteksi radar militer, memicu distorsi medan energi,” ujar Sang Taipan memecah senyap. “Ingatkan aku, Vino... pola istimewa seperti ini, di mana terakhir kali kita menemukannya?”
Vino mendongak. “Proyek penggalian kita di Gurun Atacama satu tahun lalu, Pak. Puing-puing wahana nirawak di bawah kerak garam yang kering. Bedanya tanpa distorsi medan energi.”
“Tepat,” Sang Taipan tersenyum. “Teknologi yang mirip. Kita akan pastikan kesamaannya. Tapi kali ini, ia jatuh di halaman belakang rumah kita sendiri.”
“Kita kirim tim penyelidik ke lokasi, Pak?”
“Betul sekali Vino. Sisir seluruh desa dan radius hutan sekitarnya. Bawa benda ekstraterestrial apa pun. Perintahkan Doktor Aris dan tim untuk turun langsung.”
“Baik, Pak.”
“Jangan terlalu mencolok, aku tidak ingin pergerakan kita dicurigai aparat dan warga. Lakukan operasi senyap, seperti biasa.”
*
Malam turun di atas kota, tapi di lantai tertinggi menara kaca pribadinya. Dinding griya tawang itu berlapis kaca dari dasar ke langit-langit, memperlihatkan lautan lampu kota yang berkelap-kelip jauh di bawah sana. Pemandangan yang harganya satu gugus perumahan kelas menengah.
Dia duduk sendirian di ruang makan yang bisa menampung dua puluh orang, tapi hanya satu kursi yang terisi. Seorang pelayan meletakkan hidangan di atas meja. Sepotong ikan kukus tanpa garam, sepiring sayuran organik, dan segelas jus hijau kental. Dia mundur tanpa suara, seakan bersiaga menunggu perintah.
"Pergilah," ujar Taipan tanpa menoleh.
Pelayan itu membungkuk dan menghilang di balik pintu geser. Yang tertinggal hanyalah dentingan sendok dan garpu emas milik Sang Taipan yang beradu dengan piring di dalam ruangan yang terlalu lapang untuk seorang.
Dia mengunyah pelan-pelan meski dia tak bisa menikmati rasanya, kecuali hambar. Diet ketat yang dijalaninya menghindari segala yang berbumbu tajam, manis, makanan yang diawetkan, dan segala yang tidak alami. Dia rela menjalaninya demi umur yang panjang. Kadang dia berpikir, buat apa umur panjang jika sendiri di meja sepanjang ini?
Rumah ini penuh kaca, marmer, dan perabotan mahal. Pelayan siap datang sebelum dipanggil dua kali. Tapi dia merasa kosong.
Ponselnya bergetar di atas meja marmer. Sebuah nama muncul di layar: Gisela. Dia menatapnya lama, ibu jarinya melayang di atas tombol hijau, lalu menekan tombol merah. Panggilan itu terputus dalam tiga nada dering.
Terakhir kali putrinya menelepon, ujung pembicaraan itu selalu sama. Soal warisan, surat wasiat, dan pembagian kerajaan bisnis keluarga.
Dia bangkit, meninggalkan makanannya yang baru tersentuh separuh, lalu melangkah menuju kamar mandinya yang berlapis batu oniks. Di depan cermin sepanjang dinding, dia melepas kemejanya satu per satu.
Kulitnya kencang, halus, nyaris tanpa cela—hasil dari satu suntikan sel punca yang biayanya bisa menghidupi satu keluarga kelas menengah bertahun-tahun.
Tapi tangannya, saat dia mengangkatnya untuk meraih handuk, bergetar halus tanpa bisa dia kendalikan. Dia menatap getaran itu lama, rahangnya mengeras, lalu buru-buru menggenggam tangannya sendiri seakan bisa memaksanya diam.
Kulit ini bohong, pikirnya pahit. Di dalam, aku membusuk seperti orang tua mana pun.
Diraihnya kotak obat di rak kaca—belasan botol suplemen, hormon, dan pil yang harus diminum sesuai jadwal ketat, disusun rapi seperti ritual keagamaan yang dia jalani setiap malam tanpa pernah absen. Satu per satu ditelannya dengan air mineral bersuhu ruang, persis seperti petunjuk dokter.
Dari balik jendela kamarnya, kota masih berkelap-kelip riang, acuh tak acuh pada pergulatannya. Entah di sudut mana di bawah sana, dia tahu, ada orang-orang yang tertawa lepas di meja makan sempit mereka, berbagi sepiring nasi dengan keluarga. Dia pernah membaca soal itu di laporan riset kebahagiaan yang dipesan timnya—bahwa orang miskin, secara statistik, sering melaporkan rasa syukur lebih tinggi daripada orang kaya.
Dia dulu bersikap sinis terhadap temuan itu sebagai omong kosong orang-orang kalah yang selalu berusaha mencari pembenaran atas keadaan mereka.
Malam ini, untuk pertama kalinya, dia tidak yakin siapa yang benar.
Ponselnya berdering lagi. Kali ini bukan putrinya, melainkan nomor pribadi Vino.
"Ya?" ujarnya, suaranya kembali dingin dan berkuasa dalam sekejap, seolah kelemahan tadi tak pernah ada.
"Tim sudah siap turun ke danau, Pak," lapor Vino di seberang. "Kami berangkat malam ini."
"Bagus," sahut Hendra, matanya menatap pantulan dirinya sendiri di kaca jendela—sosok yang tampak muda dan berkuasa. "Jangan pulang tanpa membawa apa-apa."
*
Kabut tebal menggantung rendah di atas permukaan danau Desa Sekatak Bengara. Malam itu sunyi senyap, hanya terdengar suara serangga malam dan riak air yang menabrak pinggiran perahu karet siluman berwarna hitam yang nyaris tak terlihat dalam gelap.
Perahu itu bergerak perlahan menyapu setiap jengkal perairan dangkal hingga ke tengah danau. Perangkat sonar canggih di lambung perahu terus memancarkan gelombang akustik ke kedalaman untuk memetakan topografi di bawah sana.
Vino berdiri di ujung perahu. Matanya yang mengenakan kacamata inframerah menatap sabak digitalnya. Seorang petugas mengamati layar sonar tanpa mengedipkan mata.
Tiba-tiba, garis pemindai hijau di layar operator berkedip cepat, mengunci sebuah titik koordinat. "Sonar mendeteksi objek di kedalaman lima belas meter, Pak," ucapnya. "Ada objek logam berbentuk geometris di dasar danau ini. Saya pastikan bukan batu karang, Pak.”
Vino menekan tombol pemancar di kerahnya. "Doktor Aris, kami sudah berada di atas target. Tim selam bersiap turun."
Di seberang saluran komunikasi yang dienkripsi, suara Doktor Aris terdengar. "Bagus, Vino. Cari material asing dan bawa dengan aman,” pintanya.
Vino memberi isyarat tangan. Tiga penyelam berpakaian serba hitam menceburkan diri ke dalam air tanpa suara. Mereka menyorot kedalaman air dengan senter berdaya tinggi.