Ruangan kebugaran pribadi di griya tawang itu luas. Berbagai alat memenuhi setiap sudut. Dindingnya yang kedap suara berlapis kaca dari dasar ke langit-langit. Hiruk-pikuk lalu lintas di bawah jendela menjadi pemandangan senyap.
Sang Taipan duduk di sebuah alat beban pembentuk dada. Dia baru saja menyelesaikan rangkaian gerakan terakhir.
Seorang dokter berjas putih berdiri di sampingnya memegang papan catatan. “Tiga puluh kilogram,” katanya sambil menulis. “Bulan lalu dua puluh lima.”
Sang Taipan menarik napas.
Dokter melingkarkan manset tensimeter di lengan kirinya. Angka-angka yang muncul di layar kecil dibacakannya satu per satu, lalu dicatatnya. Tekanan darah. Denyut jantung. Saturasi oksigen.
Sang Taipan mendengarkan tanpa menoleh. Semuanya lebih baik daripada bulan lalu, dan itu berkat kerja kerasnya.
“Semua bagus, Pak,” ujar dokter itu sambil mengemasi alatnya. “Takaran nanti malam seperti biasa. Jangan lupa diminum, Pak.”
Dokter itu membungkuk, lalu keluar.
Sang Taipan mengelap lehernya dengan handuk, lalu meraih sebuah sabak digital dari bangku. Layarnya menampilkan artikel investigasi terbaru. Jarinya menggeser perlahan layar itu baris demi baris. Senyumnya menarik kulit pipinya. Usianya sepuh, tapi wajahnya terlihat tak lebih dari empat puluh.
“Vino.”
Seorang pria tegap berpenampilan bersih yang sedari tadi berdiri di tepi ruangan mendekat.
“Baca ini,” ujar Sang Taipan sambil memperlihatkan artikel berita itu kepadanya.
Vino mengambil alih tablet. Matanya bergerak menyapu teks artikel. Hening beberapa saat.
“Melanggar kaidah aerodinamika, luput dari deteksi radar militer, memicu distorsi medan energi yang mengganggu lingkungan,” ujar Sang Taipan memecah senyap. “Coba ingat, Vino... pola istimewa seperti ini, di mana terakhir kali kita menemukannya?”
Vino mendongak. “Proyek penggalian kita di Gurun Atacama satu tahun lalu, Pak. Puing-puing wahana nirawak di bawah kerak garam yang kering. Bedanya, tanpa distorsi medan energi.”
“Tepat,” Sang Taipan tersenyum. “Teknologi yang mirip. Kita akan pastikan kesamaannya. Tapi kali ini, ia jatuh di pekarangan kita sendiri.”
“Kita kirim tim penyelidik ke lokasi, Pak?”
“Betul sekali, Vino. Sisir seluruh desa dan radius hutan sekitarnya. Bawa benda ekstraterestrial apa pun. Perintahkan Doktor Aris dan tim untuk turun langsung.”
“Baik, Pak.”
“Pakai pesawat survei tambang kita. Jangan terlalu mencolok, aku tidak ingin pergerakan kita dicurigai aparat dan warga. Lakukan operasi senyap, seperti biasa.”
*
Tiga malam kemudian di griya tawang itu, Sang Taipan duduk sendirian di meja makan yang bisa menampung dua puluh orang. Seorang pelayan menyajikan hidangan di atas meja. Sepotong ikan kukus tanpa garam, sepiring sayuran organik, dan segelas jus hijau kental. Dia mundur tanpa suara, bersiaga menunggu perintah.
“Pergilah,” ujar Sang Taipan tanpa menoleh.
Pelayan itu membungkuk dan menghilang di balik pintu geser. Yang tertinggal hanyalah dentingan sendok dan garpu emas yang beradu dengan piring di dalam ruangan yang terlalu lapang.
Dia mengunyah pelan-pelan tanpa selera. Ikan kukus itu terasa ampas. Diet ketat yang dijalaninya menghindari segala yang berbumbu tajam, manis, pengawet, dan tidak alami. Dia rela menelan rasa hambar itu demi umur panjang. Namun, buat apa hidup lama jika sendiri di meja sebesar ini?
Rumah ini penuh kaca, marmer, dan perabotan mahal. Pelayan siap datang sebelum dipanggil dua kali. Tapi dia merasa kosong.
Ponselnya bergetar di atas meja marmer. Sebuah nama muncul di layar: Melisa. Dia menatapnya lama. Ibu jarinya mengambang sesaat di atas tombol hijau, tapi akhirnya menekan tombol merah. Panggilan itu terputus dalam tiga nada dering.
Setiap kali putrinya menelepon, ujung pembicaraannya selalu sama. Soal warisan, surat wasiat, dan pembagian kerajaan bisnis keluarga.
Dia bangkit, meninggalkan makanannya yang baru tersentuh separuh, lalu melangkah menuju kamar mandi yang berlapis batu oniks. Di depan cermin sepanjang dinding, dia melepas kancing kemeja satu per satu.
Kulitnya kencang, halus, nyaris tanpa cela, hasil suntikan sel punca yang biayanya bisa menghidupi satu keluarga kelas menengah bertahun-tahun.
Namun, tangan kanannya bergetar halus tak terkendali saat meraih handuk. Ditatapnya getaran itu sejenak. Lantas, dia mencengkeramnya dengan tangan kirinya agar diam.
Kulit ini dusta. Aku tetap membusuk seperti lansia lainnya....
Setelah mandi, dia harus menjalani ritual itu. Diraihnya kotak obat di rak kaca. Di dalamnya belasan botol suplemen, hormon, dan pil, tersusun rapi menurut jadwal. Satu per satu ditelannya dengan air mineral.
Dari balik jendela kamar, dia membuang pandangan ke kota yang gemerlap.
Dia tahu, di bawah sana banyak orang yang merasakan kehangatan makan bersama keluarga, meski mejanya sempit. Meski lauk pauk ala kadarnya, mereka tetap bisa tertawa bahagia.
Orang miskin punya rasa syukur lebih tinggi daripada orang kaya, begitu hasil penelitian tim yang dibiayainya. Dia dulu menganggapnya omong kosong. Orang-orang kalah selalu berusaha mencari pembenaran atas keadaan. Namun, kalau hidupnya sendiri hampa, apa dia benar-benar menang?
Malam ini, untuk kali pertama, dia tidak yakin siapa yang benar.
Ponselnya berdering lagi. Kali ini bukan putrinya, melainkan Vino.
“Ya?” ujarnya, suaranya kembali dingin, seolah kelemahan tadi tak pernah ada.
“Tim sudah turun ke lapangan, Pak,” lapor Vino di seberang. “Penyisiran desa dan hutan sekitarnya nihil. Ada warga yang melihat objek itu meluncur jatuh ke danau. Tim selam turun malam ini.”
“Bagus,” sahut Sang Taipan, matanya menatap pantulan dirinya di kaca jendela, sosok yang tampak muda dan berkuasa. “Jangan pulang tanpa membawa apa-apa.”
*
Kabut tebal menggantung rendah di atas permukaan danau Desa Long Betaoh. Malam itu sunyi. Hanya terdengar suara serangga malam dan riak air yang menerpa lambung perahu karet hitam yang nyaris tak terlihat dalam gelap.
Perahu itu bergerak perlahan, menyapu perairan dangkal hingga ke tengah danau. Perangkat sonar di lambung perahu terus memancarkan gelombang akustik untuk memetakan topografi di bawah sana.
Vino berdiri di ujung haluan perahu. Di balik bingkai kacamata inframerah, matanya menatap sabak digitalnya. Seorang petugas mengamati layar sonar tanpa beralih pandang.
Tiba-tiba, garis pemindai hijau di layar operator berkedip cepat, mengunci sebuah titik koordinat. “Sonar mendeteksi objek di kedalaman lima belas meter, Pak,” ungkapnya. “Ada objek logam di dasar danau ini. Saya pastikan bukan bebatuan, Pak.”
Vino menekan tombol pemancar di kerahnya. “Doktor Aris, kami sudah berada di atas target. Tim selam bersiap turun.”