Rumah Tempat Kita Pulang

Jun Prakoso
Chapter #5

Bab 5

"Pihak kepolisian dan PLN telah mengisolasi tempat ini. Mereka tidak tahu harus berbuat apa karena entitas itu karena khawatir dengan arus tegangan tinggi. Saat ini tentara sudah diminta bantuan. Tapi yang pasti, entitas gel asing ini terus membesar!" lanjut reporter itu.

Setio beranjak dari bangku taman, kemudian berlari ke gedung parkir terdekat. Setibanya di lantai teratas yang kosong, dia menuju tepian beton, lalu terjun bebas sambil menekan lambang di tengah dadanya.

Seberkas cahaya putih kemerahan yang sangat terang mengalir dari dada ke sekujur tubuh. Kemeja, celana, dan sepatunya seketika terurai menjadi butiran debu yang memudar lenyap. Kemudian, energi murni merambat dari bagian tengah dada ke seluruh anggota badan, merajut serat-seratnya, membungkus setiap lekuk otot-ototnya, mewujud menjadi setelan tarung putih merah bata yang tangguh.

*

Kapten Satria melayang sepuluh meter di atas tanah, menatap gel bening kehijauan yang tengah menelan transformator raksasa di bawahnya. Ukurannya terlihat lebih besar, sekarang mencapai setengah tinggi menara transmisi.

Jika wujudnya gel, mestinya ia kandungan utamanya air, dan air menguap oleh panas¸ pikirnya.

Kedua telapak tangan Satria terbuka membidik. Dengan satu teriakan keras, dia melepaskan seberkas sinar jernih kemerahan yang terang. Sinar panas itu menghunjam telak wujud paling tebal entitas gel itu.

Namun yang terjadi, sinar itu justru tenggelam ke dalamnya, seperti semburan air yang meresap ke hamparan pasir kering. Entitas gel itu berpendar kehijauan lebih terang. Wujudnya bertambah besar, dan sulurnya memanjang. Sinar energi Kapten Satria ternyata justru membuatnya semakin kuat.

“Sialan!” desis Kapten Satria. Harus pakai cara lain, mungkin dicincang?

Dia menekan bagian tengah dadanya. Seketika tangannya bergetar kencang. Dikendalikannya getaran itu, seakan dia tengah menghunus pedang yang sebenarnya adalah gelombang kinetik yang sangat padat. Pedang tak kasat mata itu mendesing saat diayunkan membelah udara.

Kapten Satria mengayunkan bilah tak kasat mata itu dan menebaskannya ke salah satu sulur raksasa yang melilit tiang listrik baja.

Sulur itu setebal batang pohon itu putus dan jatuh ke tanah.

Tapi potongan entitas gel yang tertebas itu tidak mati. Ujung yang tertebas itu menjulurkan sulur baru dan meraih massa utamanya. Tak lama, kedua bagian itu bersatu kembali.

Alis Kapten Satria terangkat. Dia lalu mengambil napas sambil menarik kedua tangan yang terkepal, lalu mengentakkannya ke depan sekuat-kuatnya.

Terdengar suara guntur menggelegar saat gelombang kejut sekencang badai menghantam gundukan gel raksasa itu.

Wujud gel itu melar ke belakang akibat tekanan kinetik itu. Namun, entitas hijau itu kembali ke ukuran aslinya.

Napas Kapten Satria memburu. Dia bersiap hendak memakai senjata pamungkasnya. Namun, sebelum sempat menekan bagian tengah dadanya, puluhan sulur melesat ke udara bagai peluru cair.

Sulur-sulur itu bergerak begitu cepat dan memotong ruang geraknya. Ia tidak bergerak acak, melainkan terarah, seakan massa cairan kenyal itu punya kesadaran.

Dua sulur melilit pergelangan kakinya, menariknya keras ke bawah hingga dia kehilangan keseimbangan di udara. Sulur berikutnya menyambar pinggang dan menyegel kedua lengannya ke sisi tubuh sampai otot-ototnya tak bisa bergerak. Sulur berikutnya menyelubungi wajah dan menerobos rongga hidung dan tenggorokannya. Sang pahlawan tercekik karena sukar bernapas, dipaksa menelan lendir basa yang menyengat seperti comberan.

Kapten Satria meronta, tapi dirinya semakin tenggelam ditelan makhluk itu ke dalam pusat massa kenyalnya. Setiap permukaan cengkeraman cairan gel hijau itu menyerap kekuatannya, seakan tengah menikmati sumber makanan. Otot-otot sang pahlawan menjadi lemas. Sebaliknya, ukuran entitas asing itu terus membesar semakin cepat.

Entitas itu mulai bergerak meninggalkan trafo gardu. Gumpalan utamanya yang tebal merayap naik dan bertumpu pada jalur kabel tegangan tinggi. Dengan cepat monster itu merambat menyusuri jalur kabel listrik yang membentang, menyeret sang pahlawan dalam lilitan sulur-sulur lendir raksasa yang lengket. 

Cairan gel bening kehijauan itu memicu percikan api dan ledakan trafo di setiap tiang yang dilewatinya. Warga dari kejauhan menjerit ngeri melihat monster raksasa menyeret sosok putih merah di udara. 

Saat jalur kabel listrik itu melintasi area taman kota, cairan gel itu mengalir turun ke sebuah tiang tegangan tinggi. Sulurnya menjulur panjang dan meraih sebuah pohon besar yang menjulang. Pohon itu mengering seketika.

Kemudian cairan gel itu melorot ke pohon itu. Wujudnya lalu meregangkan sulur-sulurnya dan memakukan diri ke tanah seperti pasak raksasa. Di dalam massa cairan lendir itu, Kapten Satria terlihat mematung bisa bergerak sedikit pun. Perlahan, kesadarannya semakin pudar.   

Orang-orang berlari menghindar. Tapi Zikri hanya bisa melangkah tertatih-tatih perlahan bersama kruknya. Seseorang, entah siapa, mendorongnya dengan kasar karena menghalangi jalannya, sehingga kruknya terhempas dari sandaran tangannya. Zikri tersungkur. Alat-alat semirnya berserakan di tanah. Dia meringis kesakitan karena ujung kakinya yang terpotong menghantam tanah dengan keras. Nyerinya menusuk tajam sampai ke kepala.

Zikri mendongak. Mulutnya ternganga saat menyaksikan pahlawannya tak berdaya terbenam dalam lendir hijau. Seketika dia lupa akan rasa nyerinya. Diraihnya segera botol cuka pembersih yang terjatuh di dekatnya. Dia memaksa dirinya bangkit. Dengan terseok-seok dia mendekati entitas kenyal raksasa itu.

“Lepaskan Om Kapten, makhluk jahat!” teriaknya dengan suara bergetar seraya menyemprotkan air cuka itu berkali-kali. Percikan asam asetat menyembur mengenai pangkal permukaan entitas asing yang menempel ke tanah.

Reaksi kimia terjadi seketika. Suara desisan tajam menusuk telinga saat asam cuka merusak ikatan polimer basa monster itu. Asap putih tebal yang baunya menyengat mengepul ke udara.

Permukaan gel hijau di bagian wajah dan dada Kapten Satria terus melumer, kehilangan daya rekatnya dan hancur seperti kaca retak. Sosok Kapten Satria dengan kostum putih merahnya bisa terlihat semakin jelas dan sang pahlawan bisa menggerakkan tangan dan kakinya. Dia meronta berusaha melepaskan lilitan lengket gel yang semakin mengendur. Sulur-sulurnya putus karena upayanya. 

Lihat selengkapnya