Matahari siang memanggang taman kota. Di bawah pohon yang rindang, Zikri terlihat duduk beristirahat di bangku taman kesukaannya. Sesekali dia menyeka peluh di dahinya.
“Zikri,” sapa sebuah suara bariton yang akrab.
Bocah itu mendongak. Wajah sayunya langsung cerah.
“Eh, Om Setio! Sepatunya kotor lagi, Om?”
“Sepatuku masih bersih,” jawab Setio seraya duduk di sebelahnya. Ditatapnya wajah bocah yang pucat itu. “Bagaimana keadaanmu hari ini?”
“Baik, Om,” ucapnya pelan, tapi semringah. “Om tahu nggak, kemarin aku menyelamatkan Kapten Satria....”
“Oh, ya? Bagaimana ceritanya?”
“Kapten Satria dimakan monster hijau raksasa. Aku semprot dengan air cuka sampai monsternya meleleh, Kapten Satria bebas! Dia bilang terima kasih. Kapten Satria tahu namaku, Om!”
Setio tersenyum. “Mungkin kamu pernah bertemu dengannya. Tapi kamu nggak sadar.”
Mulut Zikri menganga, seakan baru mendapat ilham. “Ah, ya. Mungkin juga, ya? Siapa tahu aku pernah menyemir sepatunya di taman ini.”
“Ya, siapa tahu,” sahut Setio santai dengan senyum yang semakin lebar. “Pahlawan juga butuh sepatu bersih, ‘kan?”
Zikri terkikik lepas, seakan dia lupa akan sakitnya. "Bagaimana aku bisa nggak tahu? Apa dia menyamar?"
“Mungkin begitu. Kalau tidak menyamar, dia gampang jadi incaran orang jahat," sahut Setio.
“Jangan-jangan Om Setio itu Kapten Satria,” kata Zikri sambil menatap Setio. “Hm... kelihatan mirip, sih. Tapi Kapten Satria alisnya lebih lurus, deh.” Tangan Zikri lalu bergerak meniru bentuk wajah pahlawannya. “Terus mukanya, anu... lebih galak.”
“Ada-ada saja kamu, Zikri,” tawa Setio lepas.
"Tapi keren loh, Om, Kapten Satria itu. Aku ingin ketemu dia lagi."
“Aku nonton berita soal makhluk aneh itu, tapi nggak ada informasi bagaimana dia bisa akhirnya diatasi Kapten Satria,” ujar Setio sambil menatap bocah itu dalam-dalam. “Tapi, aku percaya pada ceritamu, Zikri. Kau berani sekali. Pahlawan sepertimu harus dapat hadiah.”
“Hadiah, Om?”
Setio tidak langsung menjawab. “Kamu sudah makan siang?”
Zikri menunduk sejenak sambil memainkan jemari kecilnya. “Aku nggak pernah makan siang, Om. Aku biasanya makan malam saja di rumah.”
“Temani aku makan, Zikri. Aku sudah pesan soto buat kamu.”
Tak lama kemudian, seorang pedagang keliling menghampiri mereka dengan dua mangkuk hangat mengepul di tangan. Semangkuk diserahkan kepada Setio. Semangkuk lagi diletakkan di bangku di antara mereka. Aroma wangi kuah kaldu kekuningan itu menguar ke udara.
Zikri menatap mangkuk itu dengan mata terkesima.
“Soto daging sapi. Buat kamu,” ujar Setio lembut.
Zikri menerima mangkuk itu dengan kedua tangan bergetar karena senang. “Terima kasih banyak, Om,” ujarnya.
“Hati-hati. Masih panas, Zikri. Tanganmu masih kecil. Taruh saja di bangku.”
Zikri turun dari bangku dan duduk bersimpuh di atas rumput. Bangku taman dijadikannya sebagai meja makan. Dia menyendok kuah pertama, lalu menyeruputnya pelan-pelan sambil memejamkan mata, serasa itu hidangan paling nikmat sedunia.
“Enak, Om!”