Matahari siang memanggang taman kota. Di bawah pohon yang rindang, Zikri terlihat duduk beristirahat di bangku taman kesukaannya. Sesekali dia menyeka peluh di dahinya.
"Zikri," sapa sebuah suara bariton yang akrab.
Bocah itu mendongak. Wajah sayunya langsung cerah.
"Eh, Om Setio! Sepatunya kotor lagi, Om?"
"Sepatuku masih bersih," jawab Setio seraya duduk di sebelahnya. Ditatapnya wajah bocah yang pucat itu. “Bagaimana keadaanmu hari ini?”
“Baik Om,” ucapnya pelan, tapi sumringah. “Om tahu nggak, kemarin aku menyelamatkan Kapten Satria....”
“Oh, ya?”
“Kapten Satria dimakan monster hijau raksasa. Aku semprot dengan air cuka sampai monsternya melelah, Kapten Satria bebas! Dia bilang terima kasih. Kapten Satria tahu namaku, Om!”
“Aku baca berita soal makhluk aneh itu, tapi nggak ada informasi bagaimana dia bisa akhirnya diatasi Kapten Satria,” ujar Setio. “Tapi, aku percaya pada ceritamu, Zikri. Kau berani sekali. Pahlawan sepertimu harus dapat hadiah.”
“Hadiah, Om?”
Setio tidak langsung menjawab. “Kamu sudah makan siang?”
Zikri menunduk sejenak sambil memainkan jemari kecilnya. “Aku nggak pernah makan siang, Om. Aku biasanya makan malam saja di rumah.”
“Temani aku makan, Zikri. Aku sudah pesan soto buat kamu.”
Tak lama kemudian, seorang pedagang keliling menghampiri mereka dengan dua mangkok hangat mengepul di tangan. Semangkok diserahkan kepada Setio. Semangkok lagi diletakkannya di bangku, di antara mereka. Aroma wangi kuah kaldu kekuningan itu menguar ke udara.
Zikri menatap mangkok itu dengan mata terkesima.
"Soto daging sapi. Buat kamu," ujar Setio lembut.
Tangan Zikri mengulur menerima mangkok itu dengan kedua tangan yang gemetar karena senang. “Terima kasih banyak, Om,” ujarnya.
“Hati-hati. Masih panas, Zikri. Tanganmu masih kecil. Taruh saja di bangku.”
Zikri turun dari bangku dan duduk bersimpuh di atas rumput. Bangku taman dijadikannya sebagai meja makan. Dia menyendok kuah pertama, lalu menyeruputnya pelan-pelan sambil memejamkan mata, serasa itu hidangan paling nikmat sedunia.
“Enak, Om!”
Zikri makan dengan lahap.
Di sela kunyahan, Zikri diam-diam memperhatikan Setio yang duduk bersandar menatap lurus ke arah kolam sambil memegang dasar mangkok sotonya. Bocah itu memiringkan kepala.
"Om Setio...?" tanyanya perlahan.
"Kenapa, Zikri?"
"Om Setio tinggal di mana?”