Setio menyerahkan sampel entitas gel asing yang mati itu kepada peneliti bioteknologi.
"Entitas ini, atau lebih tepatnya zat ini, perilakunya mirip seperti amuba raksasa yang terus mencari makan agar dapat membelah diri dan bertumbuh," jelas Herman. "Bedanya, dia bukan organik murni. Tubuhnya adalah jaringan polimer silikon yang bersifat sangat basa, atau alkali. Sifat basa inilah yang menjadikannya konduktor luar biasa untuk menyedot daya listrik tegangan tinggi."
Herman mengambil spidol hitam, membuat ilustrasi di papan kaca.
"Setio, peradaban Bumi terjebak pada konsep bahan bakar. Bensin, batu bara, bahkan uranium—sifatnya satu arah. Begitu dimasukkan ke reaktor, dia dibakar, menghasilkan daya, lalu hangus menjadi asap atau limbah, dan habis," jelas Herman.
Kemudian ujung spidolnya membuat gambar kedua di sampingnya, sebuah skema berbentuk lingkaran siklus.
"Tapi polimer silikon ini bekerja dengan prinsip Kapasitor Hidup. Siklus abadi dua arah. Secara teori biologis, zat ini tidak dibakar, melainkan 'diperas.'
“Maksudmu?”
Herman berpikir sejenak. “Sederhananya, entitas ini diciptakan sebagai baterai biologis. Bayangkan sebuah mesin sebuah pesawat antariksa. Ia menyerap segala jenis radiasi kosmik. Mesin dengan sedikit energi cukup memicu gel ini untuk memeras energinya. Selama gel itu terus menyerap radiasi tak terhingga, mesin itu akan terus bekerja dan pesawat mampu menjelajah luar angkasa selamanya.”
Mulut Setio ternganga. Dia tiba-tiba teringat tabung reaktor raksasa yang bocor di dalam lambung UFO di dasar danau Kalimantan kembali berkelebat.
Herman menunjuk ke arah sampel gel di dalam tabung kaca. Benda yang dulunya berwujud cairan gel yang kenyal dan berpendar itu kini sudah menciut dan mati, berubah wujud menjadi gumpalan padat dan kusam, menyerupai kerak kaca yang keabu-abuan.
"Tapi, justru di situlah letak kelemahan fatalnya," lanjut Herman. "Saat disemprotkan asam asetat seperti air cuka, terjadi reaksi penetralan ekstrem. Asam itu secara instan merusak ikatan polimer pelindungnya, lalu memicu reaksi berantai yang menghancurkan seluruh struktur selularnya. Ibarat aki motor, cuka membuat baterai biologis ini korsleting total."
“Tapi Herman, dia bisa bertumbuh, seperti tertarik dengan kekuatan Kapten Satria dan melilitnya sampai lumpuh, padahal dia bukan sumber energi listrik.”
“Aku tidak tahu kekuatan Kapten Satria itu seperti apa. Dia pria misterius dengan kekuatan misterius. Informasi media tentang asal-usul dirinya sangat sedikit sehingga aku tak bisa menganalisis,” ujar Herman. “Sebentar....”
Herman mengulang rekaman di layar monitor saat gel itu turun ke taman dengan Kapten Satria tenggelam dalam lilitannya. “Makhluk ini meninggalkan gardu listrik setelah menelan Kapten Satria, lalu berdiam di taman. Kesimpulannya, tubuh Kapten Satria mengandung energi non-elektrik yang jauh lebih besar daripada gardu PLN. Jadi, ia pemakan segala bentuk energi.”
Alis Setio terangkat.
“Aku tidak pernah menemukan entitas ini di Bumi. Ia pasti berasal dari luar angkasa,” ujar Herman. “Begitu juga Kapten Satria. Mustahil manusia biasa punya energi yang jauh lebih besar dari pembangkit listrik.”
Setio terkesiap. “Terima kasih Herman.”
*
Setio tiba di bangku taman seperti biasa dan membawa segelas kopi hangat.
Matanya memandang tempat Zikri biasa duduk menggelar peralatan di bawah pohon rindang. Kosong.
Mungkin kakinya ngilu, jadi dia istirahat di rumah, batin Setio. Dia menghabiskan kopinya, lalu memburu berita.
Namun, esok harinya, bangku itu tetap kosong.
Lusa, tempat itu tetap kosong. Begitu pula hari berikutnya.
Setio menghela napas, tapi mengabaikan kekhawatirannya karena sibuk membuat rencana perburuan berita hari itu. Mencari isu, pergi ke lokasi, wawancara, riset, lalu menulis. Begitu setiap hari dilaluinya.
Satu minggu berlalu, Zikri juga tak terlihat.
Ada yang tak beres, batinnya.
Setio memutuskan untuk mencari anak yang telah menyelamatkan nyawanya itu. Naluri investigasinya menelusuri jejak penyemir cilik itu. Setio bertanya kepada pedagang kaki lima, pengamen, siapa pun yang pernah mengenalnya.