Rumah Tempat Kita Pulang

Jun Prakoso
Chapter #8

Bab 8

Setio tiba di bangku taman seperti biasa dan membawa segelas kopi hangat.

Matanya memandang tempat Zikri biasa duduk menggelar peralatan di bawah pohon rindang. Kosong.

Mungkin kakinya ngilu, jadi dia istirahat di rumah, batin Setio. Dia menghabiskan kopinya, lalu memburu berita.

Namun, esok harinya, bangku itu tetap kosong.

Lusanya, tempat itu tetap sama. Begitu pula hari sesudahnya.

Setio mendesah, tapi mengabaikan kekhawatirannya karena tak lama kemudian dia sibuk membuat rencana perburuan berita hari itu. Mencari isu, pergi ke lokasi, wawancara, riset, lalu menulis. Begitu setiap hari. 

Satu minggu berlalu, Zikri juga tak terlihat.

Ada yang tak beres, batinnya.

Setio memutuskan untuk mencari penyemir cilik yang telah menyelamatkan nyawanya itu. Dia bertanya kepada pedagang kaki lima, pengamen, siapa pun yang pernah mengenalnya.

Seorang pedagang asongan memberinya petunjuk. “Oh, si Zikri yang kakinya satu? Dia tinggal di bedeng dekat rel kereta, Mas. Masuk saja ke Gang Kelinci, cari rumah paling ujung yang atap sengnya ditambal terpal biru.”

Berbekal berbagai petunjuk, pencarian itu membawanya ke permukiman kumuh di sebuah gang yang rumah-rumahnya sempit dan dibangun dengan bahan murahan. Di ujung gang, sebuah terpal biru menambal atap seng sebuah gubuk.

Setio mengetuk pintu kayu yang lapuk itu.

Pintu terbuka, seorang perempuan tiga puluhan berdiri menyambutnya. Wajahnya lelah. Dia buru-buru menyeka air mata dengan lengan bajunya. “Ya?” ucapnya, tampak terkejut melihat kehadiran seorang pria berpakaian rapi di gubuk mereka.

“Zikri ada, Bu?”

“Mas siapa?”

“Saya Setio, temannya.”

Perempuan itu mengernyit. Namun, dari balik punggungnya terdengar suara lirih, “Om Setio!” ujar Zikri lemah saat melihat Setio berdiri di depan pintu.

Perempuan itu membuka pintu rumahnya.

Hawa pengap dan bau balsem menguar ke penciuman Setio. Anak itu terbaring lemah di atas kasur tipis yang digelar langsung di atas lantai semen. Wajahnya pucat pasi, napasnya berat, dan sisa kaki kanannya tampak membengkak dari balik selimut yang lusuh.

“Silakan masuk,” kata ibu Zikri pelan. Matanya terlihat sembab. Dia lalu duduk bersimpuh di samping Zikri sambil menggenggam erat tangan putranya.

“Jangan menangis, Ibu... Zikri pasti sembuh,” bisik Zikri. Anak itu mencoba tersenyum meski terlihat menahan sakit.

Setio bergegas masuk dan berlutut di samping kasur, lalu mengusap peluh di dahi anak itu. Suhu tubuhnya terasa membara.

“Om Setio,” ucap Zikri. Suaranya lemah, tapi semringah. “Sepatu Om apa kotor lagi?” Zikri terbatuk-batuk.

“Jangan pikirkan itu dulu, Zikri,” sahut Setio sambil memandang sekeliling.

Di sudut gubuk itu, sepasang kruk aluminium pemberiannya bersandar di dinding berdampingan dengan kotak kayu semir di bawahnya.

“Kruk dari Om baru aku pakai dua hari. Aku keburu sakit,” katanya dengan napas yang pendek-pendek. “Nanti... kalau sudah sehat lagi, aku mau coba pakai buat jalan jauh.”

Dua hari setelah kita bertemu. Setelah itu dia terbaring di lantai semen ini, sedangkan aku tetap duduk di taman itu setiap siang, lalu memburu berita orang lain.

Setio mengangguk, dan berusaha tersenyum.

Setio menatap ibu Zikri. “Kenapa Zikri tidak dirawat di rumah sakit, Bu?”

“Kami ditolak,” isaknya. Air matanya tumpah. “Kartu BPJS kami tidak bisa dipakai, Mas. Kata bagian administrasi, tunggakannya harus dilunasi dulu.”

“Kenapa tidak dilunasi saja, Bu?”

“Saya cuma buruh cuci panggilan, buat makan sehari-hari dan bayar kontrakan saja sering kurang.”

Setio menghirup udara sesaat.

“Berapa total tunggakannya, Bu?” tanyanya.

Sang ibu menyebutkan sebuah nominal. Suaranya mengecil di angka terakhir. Uang Setio di dompet tidak cukup untuk menutupi seluruh tagihan dan denda saat itu juga.

Setio merogoh sakunya, lalu meletakkan beberapa lembar uang ratusan ribu di tangan ibu Zikri. “Ibu pegang ini dulu untuk kebutuhan di rumah selama dua pekan. Biar urusan rumah sakit saya yang bereskan.”

Setio melangkah keluar rumah, mengeluarkan ponselnya, dan menekan sebuah nomor. Dia menghubungi salah satu narasumber yang dia percaya, seorang pejabat tinggi di dinas sosial.

Nada sambung berbunyi dua kali sebelum sebuah suara di seberang menanggapi, “Ah, halo, Mas Setio? Apa kabar?”

“Baik, Pak Kadis. Maaf, Pak, mengganggu. Tapi ini darurat.”

“Apa yang bisa saya bantu?” tanya pejabat itu, suaranya terdengar menjadi serius.

“Seorang anak difabel penderita kanker di bedeng Gang Kelinci. RSUD menolaknya karena tunggakan BPJS,” jelas Setio dengan sopan. “Ibunya hanya buruh cuci. Dia perlu penanganan medis serius, Pak. Mohon bantuan Bapak supaya anak ini tidak terhalang urusan administrasi.”

Sang pejabat terdiam sejenak, lalu mengembuskan napas panjang. “Astaga, Mas Setio. Ini salah paham di tingkat bawah. Anak dengan kondisi ekonomi seperti itu, apalagi ibunya orang tua tunggal, berhak masuk skema Penerima Bantuan Iuran. Tidak perlu bayar sepeser pun. Kirimkan datanya sekarang, biar saya potong birokrasinya hari ini juga.”

Lihat selengkapnya