Kamar di lantai tujuh itu sunyi, hanya terdengar dengung pelan pendingin udara dan irama tetesan cairan dari kantong infus di tiang. Aroma antiseptik khas rumah sakit menguar di udara. Cairan pereda nyeri dan nutrisi itu mengalir perlahan ke pembuluh darah Zikri untuk meringankan penderitaannya.
Malam itu Zikri terbaring sendiri. Ibunya harus pulang untuk menidurkan adiknya. Perawat yang berjaga di pos mendatanginya setiap dua jam. Tapi dia hanya setengah terpejam, memandang bintang-bintang dari balik jendela kaca.
Dari kejauhan sosok tegap bersetelan putih merah bata terlihat melayang mendekati jendela, lalu mendarat tanpa suara di balkon kecilnya.
Sosok itu menatap jendela yang terkunci itu. Dengan santai dia menempelkan ujung telunjuknya tepat di luar posisi gerendel logam. Terdengar listrik statis mengalir pelan. Gerendel di dalam bergeser. Kapten Satria menggeser daun jendela dan masuk melangkahi kusen secara senyap.
"Zikri, apa kabar, Jagoan?" sapanya dengan suara bariton yang lembut.
Mata anak laki-laki yang tadinya setengah terpejam itu langsung terbuka lebar. Seakan penderitaannya lenyap. Wajah pucat itu berbinar-binar.
"Om Kapten... Om membesukku...,” ujarnya dengan mata membelalak melihat sang pahlawan benar-benar berdiri di samping ranjang. Dia mencoba mengangkat badan, tapi terbatuk-batuk. Dadanya naik turun dengan cepat, terlihat menahan sakit yang sangat.
Kapten Satria mencondongkan badan. Tangannya yang kokoh dan hangat menahan bahu Zikri dengan lembut. “Jangan bangun, Zikri, kamu harus hemat tenaga,” ucapnya.
Kapten Satria menggenggam tangan mungil anak itu, seakan ingin meringankan deritanya.
“Om sudah sembuh dari lendir hijau itu?" tanya Zikri dengan suara parau, matanya menatap lekat-lekat setelan Satria yang kini sudah bersih mulus tanpa noda.
“Aku sudah lama pulih, Zikri. Berkat kamu. Nggak mungkin aku lupa pada pahlawan cilik yang berani melawan monster lendir untuk menolongku.” ucapnya sambil tersenyum.
Zikri menyeringai lebar. Rona merah bangga menyala sesaat di wajahnya yang pucat.
"Apa keinginanmu sekarang, Zikri? Bilang saja."
Mata Zikri menyala seketika. "Aku ingin terbang... melihat kota, dan melawan penjahat bersamamu...."
Kapten Satria terdiam sambil menghela napas. Dia diam dengan dahi berkerut, melirik ke arah tiang infus. “Wah... dokter dan suster bisa marah, Zikri," katanya ragu-ragu.
Bahu Zikri merosot lemas. Cahaya di matanya meredup, berganti raut sedih. Kepalanya menunduk perlahan menatap selimut. "Oh... iya ya. Aku ‘kan lagi sakit...."
Kapten Satria melirik ke pintu kamar rawat inap yang tertutup sambil menghembuskan napas.
Kemudian dia memiringkan badannya dan berbisik di dekat telinga anak itu. "Tapi, aman. Malam ini kamu bosnya."
Zikri kembali mendongak dengan mata penuh tanda tanya.
Tanpa banyak bicara, Kapten Satria melepaskan kantong infus dari tiang gantungan. Tangan kanannya menggenggam kantong itu kuat-kuat, menjaganya agar selalu berada lebih tinggi daripada lengan anak itu agar cairan infus tetap mengalir sempurna. Kemudian, dengan sangat hati-hati, dia membungkus tubuh kecil Zikri dengan selimut dan mendekapnya erat di dada bidangnya.
"Pegang yang kuat, Zikri," ujarnya saat berdiri di ambang jendela. “Kita tinggal landas!”
Lalu dengan gerakan halus dia meloncat keluar. Sedetik kemudian keduanya sudah terbang perlahan ke udara.
Zikri berteriak kegirangan sambil mencengkeram kostum Kapten Satria erat-erat.
Angin berhembus deras menerpa wajah Zikri sehingga kelopak matanya sedikit memicing. Namun, bocah itu tidak menggigil karena tubuh sang pahlawan memancarkan kehangatan bioelektrik yang membuat nyaman.