Rumah Tempat Kita Pulang

Jun Prakoso
Chapter #9

Bab 9

Setio melangkah keluar dari lift rumah sakit. Tangannya membawa sekotak martabak dan komik pahlawan super. Dia membayangkan Zikri akan tersenyum riang melihat kedatangannya dan bercerita tentang pengalaman terbang semalam.

Di lorong lantai tujuh, dia berpapasan dengan seorang perawat berjalan dengan tergesa-gesa dari Kamar 706 dengan muka pucat pasi.

Saat masuk ke dalam kamar, dia melihat ibu Zikri yang menangis histeris di samping ranjang yang kosong, sedangkan seorang satpam berusaha menenangkannya. Dua kantong infus tergantung di tiang dengan selang yang menjuntai ke lantai.

"Ada apa? Di mana Zikri?" tanya Setio.

Zikri hilang, Mas! Kami baru saja menyadarinya!” sahut satpam dengan nada penuh penyesalan. “Kejadiannya sekitar satu jam yang lalu. Ada dua penyusup menyamar sebagai perawat, lalu membawa anak itu pergi entah ke mana. Kami baru mau lapor ke polisi!”

Kotak martabak dan komik terlepas dari genggaman Setio dan jatuh ke lantai. Dia mengepalkan tangan sambil merapatkan gigi menahan marah.

Dia menelusuri ranjang yang kosong itu lalu membuka laci nakas di sampingnya. Matanya menemukan sebuah amplop terselip di dalam. Sisi belakangnya tertulis “Untuk Kapten Satria.”

Jantung Setio berdegup keras.

Untuk Kapten Satria?

Setio membukanya dan membaca surat yang diketik rapi itu.

Anak itu ada pada kami. Jika kau ingin dia selamat, datanglah ke Eks Pabrik Peleburan Baja, Kawasan Industri Cikande. Pukul dua belas malam.

Dada Setio kembang kempis. Urat lehernya menegang. Tangannya meremas surat itu hingga hancur karena geram. Otaknya bekerja. Penculik ini jelas bukan ingin uang. Siapa mereka dan mau apa?

Surat itu ditujukan untuk Kapten Satria. Berarti, mereka tahu dia ada di kamar ini semalam.

Setio merasa bersalah, seakan ada palu godam yang menghantamnya.

Mereka menculik Zikri karena mengincar diriku....

Mungkin mereka melacaknya setelah aksinya menghancurkan banyak sindikat kejahatan. Mereka tahu Kapten Satria terlalu tangguh untuk bisa langsung ditundukkan. Mereka mencari titik lemah agar dia menyerah.

Dan celakanya, Setio sendirilah yang memperlihatkan titik lemah itu. Para penculik itu pasti menemukannya saat dia membawa Zikri terbang semalam. Niat baiknya untuk membahagiakan sang penyelamat cilik, malah mengundang petaka yang menjadikan bocah malang itu sebagai umpan.

Dia menoleh ke arah ibu Zikri yang masih terduduk lemas sambil meratap, kemudian mendekat. “Saya janji akan bawa Zikri kembali,” ucapnya dengan lembut, tapi tegas. Ibu Zikri tidak menjawab, dia hanya mengangguk-angguk percaya.

*

Setio melangkah mendekati satpam yang berdiri di belakang ibu Zikri di sudut kamar itu. Dia menepuk pelan bahu pria berseragam tersebut.

"Mas, tolong panggilkan perawat untuk menemani ibu Zikri," ujar Setio dengan nada tenang. "Kita tak punya banyak waktu. Ayo, antar saya ke ruang CCTV sekarang. Kita lacak rekamannya sama-sama sebelum jejak mereka hilang."

“Baiklah,” jawab satpam itu. Mereka keluar kamar setelah seorang perawat datang menemani ibu Zikri.

Satpam itu memandu Setio menyusuri tangga menuju ruang keamanan.

Di dalam ruangan, operator memutar rekaman di rentang satu jam yang lalu. Namun, layar hanya menampilkan lorong yang kosong melompong. Tiada siapa pun lewat.

Satpam itu menggaruk kepalanya bingung. "Loh, kok sepi? Padahal ibunya Zikri baru saja pergi ke kantin, seharusnya ada...."

"Sebentar," potong Setio. Matanya memicing ke angka penunjuk detik di sudut layar monitor. Waktu berjalan lambat, lalu mendadak melompat dari menit ke-14 langsung ke menit ke-45. Bayangan daun dari pot tanaman di sudut lorong juga sama sekali tidak bergeser tertiup angin pendingin ruangan.

"Kamera rumah sakit diretas," ucap Setio datar. Para satpam di ruangan itu pucat pasi mendengarnya. "Mereka membajak pantauan langsung CCTV. Layar monitor kalian ditimpa video rekaman lorong kosong yang diputar berulang-ulang selama lima menit. Itu waktu yang cukup untuk mengeluarkan anak itu dari rumah sakit ini. Mereka benar-benar profesional.”

*

Setio bergegas menuju tempat parkir. Dia mengangkat ponselnya.

“Ya, Bang Setio?” jawab suara di seberang sana sambil mengunyah keripik. Di latar belakangnya terdengar sayup-sayup rentetan tembakan senapan virtual.

"Sistem keamanan RSUD baru saja dibobol peretas profesional," jelas Setio tanpa basa-basi saat masuk ke dalam mobilnya. "Seorang pasien baru saja diculik. Mereka kemungkinan melarikannya pakai kendaraan. Bantu aku meretas kamera lalu lintas di perempatan persis di belakang area bongkar muat rumah sakit. Cari kendaraan apa pun yang keluar dari gang itu dalam satu setengah jam terakhir."

Kunyahan keripik di seberang berhenti.

Lihat selengkapnya