Sudah dua pekan ruang bawah tanah laboratorium rahasia itu sibuk siang malam dalam dengung mesin dan bau ozon yang tak pernah reda.
Di sebuah bilik kaca kedap suara, sisa sampel entitas gel yang diambil dari wahana ekstraterestrial itu mengambang dalam sebuah tangki nutrisi berisi larutan elektrolit pekat. Doktor Aris berdiri di depan panel kaca, menyaksikan gumpalan kehijauan itu bergetar pelan setiap kali dialiri denyut listrik terkontrol dari elektroda di dasar tangki.
“Berikan rangsangan listrik setiap dua jam,” perintahnya kepada asistennya yang mencatat di tablet. “Amuba raksasa ini membelah diri untuk bertumbuh. Kita hanya perlu memberinya cukup makan, lalu memotongnya sebelum ukurannya di luar kendali.”
Gumpalan gel yang semula sebesar kepalan tangan kini telah membelah menjadi belasan bagian lebih kecil. Masing-masing dikurung dalam tabung kaca berkerangka titanium.
“Replikasi ketujuh belas berhasil, Dok,” lapor asisten itu. Nada suaranya bercampur takjub dan ngeri. “Setiap generasi butuh waktu lebih singkat untuk membelah. Yang pertama tiga hari. Yang terakhir ini sembilan jam saja.”
“Wajar. Semakin sering ia diberi makan, semakin efisien metabolismenya,” gumam Doktor Aris sambil mengetuk-ngetuk dagu. “Sekarang, uji rancangan kapsulnya.”
Sebuah layar LCD menyala. Di ruang uji tembak di sisi lain fasilitas, seorang teknisi memasukkan satu bagian gel ke dalam selongsong logam berukuran kepalan tangan, lalu mendorongnya ke mulut laras dan memanggul pelontar itu. Dengan satu tarikan pelatuk, kapsul itu meluncur dan pecah tepat di dinding baja uji coba. Massa gel yang keluar langsung merekat, menyebar, dan mengunci dalam hitungan detik.
“Sempurna,” desisnya puas. “Daya rekat dan daya isapnya utuh meski sudah dipotong-potong. Persis seperti di gardu. Persenjatai sepuluh prajurit terbaik dengan pelontar ini. Sebar mereka di ruangan penangkapan. Jangan sampai dia lolos.”
Asisten itu ragu-ragu. “Dok, bagaimana kita bisa memancing target datang ke lokasi yang kita pilih?”
Doktor Aris menyeringai.
“Manusia terbang ini punya hati yang halus sampai-sampai dia ceroboh. Bocah itu kelemahannya. Kita keluarkan dia dari sarangnya, lalu giring ke perangkap kita.”
Matanya berpindah ke map berisi rekaman CCTV hasil pelacakan yang ada di mejanya.
*
Setio melangkah keluar dari lift rumah sakit. Tangannya membawa sekotak martabak dan komik pahlawan super. Dia membayangkan Zikri akan tersenyum riang melihat kedatangannya dan bercerita tentang pengalaman terbang semalam.
Di lorong lantai tujuh, dia berpapasan dengan seorang perawat yang setengah berlari keluar dari Kamar 706. Mukanya pucat pasi.
Saat masuk ke dalam kamar, dia melihat ibu Zikri yang meraung histeris di samping ranjang yang kosong. Seorang satpam berusaha menahan tubuhnya agar tidak merosot ke lantai.
“Ada apa? Di mana Zikri?” tanya Setio.
“Pasien hilang, Mas! Kami baru sadar!” sahut satpam dengan gugup. “Kejadiannya sekitar satu jam yang lalu. Ada dua penyusup menyamar sebagai perawat, lalu membawa anak itu pergi entah ke mana. Kami baru mau lapor ke polisi!”